Rabu, 20 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Fenomena Kuburan di Pekarangan Rumah: Dipastikan Nilai Jual Menurun, Sulit Jadi Agunan

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Selasa, 30 Mei 2017 | 15:55 WITA Tag: , ,
  


GORONTALO, hargo.co.id – Pertumbuhan penduduk dan perkembangan pembangunan di Gorontalo ikut berdampak terhadap kebutuhan lahan.

Kawasan perkantoran, pemukiman warga hingga pusat aktivitas masyarakat semakin bertambah padat. Seiring hal itu harga jual tanah di wilayah Gorontalo ikut melejit.

Hanya saja, di tengah harga yang terus terkatrol setiap tahunnya, fenomena keberadaan kuburan di pekarangan rumah memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai jual tanah.

Tak jarang nilai jual tanah/lahan yang ditawarkan oleh pemilik lahan menurun dikarenakan adanya makam/kuburan di areal lahan tersebut.

“Nilai jual tanah memang dipengaruhi sejumlah faktor. Pada umumnya lokasi, sertifikat, serta bangunan atau tanaman yang ada di areal tersebut. Nah untuk kuburan cukup memengaruhi juga,” ujar Supriyanto, petugas pemasaran salah satu perumahan di Kota Gorontalo.

Menurutnya, kebanyakan orang cenderung menghindari membeli rumah atau lahan yang di dalamnya terdapat makam/kuburan. Kalaupun ada yang membeli pasti harganya jauh lebih murah dibandingkan harga pasar.

“Alasannya macam-macam. Mulai dari pertimbangan bisnis hingga masalah kenyamanan,” urai Supriyanto.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Indonesia (Apperindo) Gorontalo Syaiful Hasania tidak menampik jika tanah yang terdapat kuburan dari sisi bisnis akan sulit dipasarkan.

BACA  Langgar Protokol Kesehatan, Polres Bone Bolango Siap Tindak Tegas

“Tetap pasti akan dibeli, tapi itu sulit sekali. Orang yang mau beli pun dengan harga murah dan mungkin cash (tunai). Tapi selama ini biasanya, jangankan tanah yang ada kuburannya, yang dekat dengan lokasi pekuburan juga relatif sulit dipasarkan,” ungkap Syaiful.

Dia menambahkan, lokasi tanah dan bangunan yang dekat dengan kuburan juga akan sulit mendapatkan pembiayaan dari perbankan jika ingin memilikinya secara kredit.

Saat ini, ada fasilitas pembiayaan pembelian rumah melalui kredit, salah satunya yang sudah menjadi program pemerintah adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Menurut Syaiful, bank akan sulit mengabulkan permintaan calon debitur jika rumah yang akan dijaminkan terdapat kuburan atau dekat dengan lokasi pekuburan massal.

“Sebelum difasilitasi, pihak bank akan melakukan survey. Nah, kalau dekat kuburan, kecil kemungkinan kreditnya dikabulkan. Alasannya satu, jika kreditnya macet, pihak bank juga akan sulit menjual kembali rumah tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Gorontalo Kusno Katili menjelaskan, untuk penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah merupakan domain Pemda.

Meski begitu, NJOP memiliki kaitan dengan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang merupakan kewenangan BPN.

BACA  Instruksi Presiden, Gubernur Yang Pertama Divaksin

Terkait dengan makam/kuburan, Kusno Katili menegaskan, pada dasarnya tak ada pengaruh dengan harga tanah.

“Kebanyakan saya lihat hanya pada pandangan sosial saja. Karena di Gorontalo biasanya pekuburan banyak di sekitaran rumah. Jadi ketika ada yang datang dari luar kemudian membeli tanah di Gorontalo dan lihat ada kuburan tak mau membeli. Karena merka tak biasa dengan kondisi seperti itu,” urai Kusno Katili.

Lebih lanjut Kusno Katili menjelaskan, dalam pembuatan sertifikat pada keadaaan tertentu keberadaan kuburan akan dipisahkan dari pengukuran lahan.

“Misalkan dalam satu lahan ada lima kuburan dari keluarga yang berbeda, nah itu kami akan pisahkan, kuburanya kami tidak lakukan pengukuran. Namun kalau di satu lahan itu merupakan pekuburan keluarga maka dengan persetujuan keluarga itu akan kami ukur beserta kuburan yang ada,” tutur Kusno Katili.

Hal senada juga ditegaskan Kepala Kantor Badan Pertanahan Kota Gorontalo Abubakar Deu. Fenomena kuburan dekat rumah tersebut tidak terlalu berpengaruh pada harga tanah.

“Sekarang orang melakukan transaksi jual beli tanah sudah tidak melihat NJOP lagi, itu atas kesepakatan mereka, begitu juga dengan tanah untuk kuburan,” katanya.

BACA  Gubernur Gorontalo Pastikan Vaksin Siap Digunakan

Ia mengakui, adanya fenomena seperti itu di Gorontalo, akan tetapi tanah yang digunakan oleh masyarakat itu rata-rata adalah pekuburan keluarga.

“Selain dekat rumah, ada juga dengan tanah yang sudah disiapkan untuk pekeburan keluarga. Beragam alasan dari masyarakat, salah satunya adalah supaya lebih mudah untuk melakukan ziarah ke orang yang sudah meninggal,” katanya.

Abubakar Deu, menambahkan kalau ada yang melakukan jual beli tanah untuk kuburan, maka harganya pun biasanya itu kesepakatan antara kedua belah pihak. “Intinya sesuai dengan kesepakatan harga yang disetujui oleh kedua belah pihak. Ada juga masyarakat yang mewakafkan tanahnya untuk kuburan masal,” pungkasnya.

Terpisah, Bagian Pelayanan Loket Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Gorontalo Bambang Laleno, pengaruh kuburan terhadap nilai jual tanah lebih dipengaruhi faktor psikologi. Meskipun harga tanah itu ditentukan dari kesepakatan antara pembeli dan penjual.

“Biasanya juga kalau sudah ada kuburan yang tidak bisa dipindahkan, pembeli tanah terpaksa harus membeli sebagiannya saja yang tidak terkena lokasi kuburan, namun harganya juga bisa turun jauh karena berdekatan dengan lokasi perkuburan,” ungkapnya.(axl/wan/tr-53/tr-55)


Komentar