Friday, 24 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Distan Tetap Usulkan Program Asuransi Pertanian

Oleh Admin Hargo , dalam Kab. Gorontalo Utara , pada Monday, 13 September 2021 | 08:05 AM Tags: ,
  Kepala Dinas Pertanian, Gorontalo Utara, Kisman Kuka

Hargo.co.id, GORONTALO – Dinas Pertanian (Distan) Gorontalo Utara (Gorut) untuk 2022 mendatang akan memprogramkan asuransi pertanian khusus untuk padi sawah. Program asuransi ini setiap tahunnya memang ada, hanya saja untuk 2021 ini luasan sawah yang menjadi tanggungan atau yang disubsidi oleh pemerintah itu hanya sebesar 500 hektar saja, turun dari tahun sebelumnya yang sampai 1.000 hektar.

Kepada awak media ini, Kepala Dinas Pertanian Gorontalo Utara, Kisman Kuka, mengatakan bahwa untuk asuransi pertanian tetap akan diprogramkan oleh pihaknya. 

“Itu telah masuk pada perencanaan, dan kedepan tentu kita akan menunggu hasil dari pembahasan yang akan dilakukan oleh pihak Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gorontalo Utara kedepan,” ungkapnya.

Disisi lain, Kisman Kuka menjelaskan bahwa memang asuransi pertanian tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat. 

“Dan untuk 2021 ini, sebanyak 500 hektar itu seratus persen berjalan programnya, dengan kata lain, para petani memanfaatkan program tersebut,” kata Kisman Kuka.

Walaupun program tersebut telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir ini, namun Kisman tetap mengingatkan kepada para petani untuk dapat memperhatikan beberapa hal yang sangat penting terkait dengan program asuransi tersebut yakni yang pertama terkait dengan kelengkapan data. 

“Untuk datanya harus sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), karena ada pengalaman sebelumnya, asuransinya tidak dapat dicairkan karena persoalan nama yang berbeda,” kata Kisman Kuka.

Kemudian untuk selanjutnya yang sangat penting dan jangan sampai lalai kata Kisman, yakni ketika tanaman tersebut dilaporkan, maka itu harus menunggu prosesnya. Karena akan ada penilaian kemudian akan dilaporkan ke pihak asuransi untuk kemudian dibayarkan. 

“Tanaman yang rusak tersebut sebagai alat bukti, yang pernah terjadi ada petani yang tidak menunggu, lahannya langsung dikelola sehingga tidak jadi dibayarkan,” tandasnya. (***)

 

Penulis: Alosius M. Budiman

(Visited 5 times, 1 visits today)

Komentar