Minggu, 29 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Diterpa Isu Pungli, Ini Penjelasan APRI Pohuwato

Oleh Berita Hargo , dalam Kab. Pohuwato , pada Rabu, 11 November 2020 | 19:05 WITA Tag:
  Upaya perbaikan lingkungan yang rusak akibat aktifitas pertambangan di Pohuwato yang difasilitasi oleh APRI. (Foto: Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Asosiasi Penambang Republik Indonesia (APRI) Pohuwato kini tengah diterpa isu pungutan liar (Pungli). Sebelum isu itu meluas, pihak APRI langsung memberi klarifikasi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Community Responsible Mining (CRM) Moawota Apri Pohuwato, Yosar Ruiba, kepada awak media membantah hal tersebut.

“APRI mendorong teman-teman para penambang agar secara sukarela dan sadar bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan-perbaikan pasca penambangan,” ungkap Yosar.

Hal ini kata Yosar berangkat dari permintaan masyarakat penambang itu sendiri yang semakin kesini secara bertahap ingin memperbaiki lingkungan yang sudah dirusak akibat aktivitas pertambangan.

BACA  Saipul Mbuinga Kuasai Materi Debat, AMPG: Kesatria

“Cuman siapa yang ingin mengelolanya? Dari semangat sebagian pelaku usaha tambang solid untuk bersama-sama mencari jalan keluar lembaga mana yang bisa mengelola ini tentu dengan pertanggung jawaban. Maka dipilihlah Apri sebagai lembaga yang dipercaya para pelaku usaha untuk menjembatani itu,” kata Yosar.

“Jadi APRI diminta oleh pelaku usaha, sehingga Apri melihat ini sebagai peluang untuk meminimalisir dampak kerusakan lingkungan akibat dari pertambangan,” tambahnya.

BACA  Suharsi Tegaskan, Suara Masyarakat Jadi Ukuran Pelayanan Publik

APRI dan CRM-nya ditegaskan Yosar tidak sedang melegalisasi, membenar-benarkan bahwa tambang ilegal boleh dikelola. Akan tetapi penambangan di Pohuwato sudah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun.

“Apakah ini tidak bisa dikelola oleh lembaga legal, dalam rangka mendorong spirit secara bertahap tapi berkelanjutan agar memastikan bahwa ini menjadi legal kedepannya,” tuturnya.

Mengenai pungutan Rp 10 Juta tersebut kata Yosar dalam rangka meminimalisir dampak yang sudah begitu sangat rusak. Tentu dengan transparansi anggaran yang ada.

BACA  Normalisasi dan Penghijauan, Langkah APRI Perbaiki Lingkungan Eks Pertambangan

“Saat ini upaya perbaikan lingkungan sudah jalan. Dua Bulldozer sudah didatangkan, satu di Dengilo, satunya lagi di Buntulia. Ada kesepakatan yang dibangun diinternal pelaku usaha, bahwa itu perbulan perunit. Biaya itu hasil dari kesepakatan rapat antar pelaku usaha yang disaksikan Camat Paguat-Dengilo, dan empat anggota DPRD,” pungkasnya.(ayi/hg)


Komentar