Minggu, 27 November 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



DK PBB Pusing, Korut Uji Coba Nuklir Akhir Pekan

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Dunia , pada Rabu, 6 September 2017 | 04:00 Tag: , ,
  PERANG URAT SARAF: Sehari setelah Korut menguji coba bom hidrogen, Korsel juga mengetes misil pencegatnya. (REUTERS)

Hargo.co.id – Dewan Keamanan (DK) PBB benar-benar kesal menghadapi ulah Kim Jong-un. Meski berkali-kali diberi sanksi karena terus melakukan uji coba sistem misil dan bom nuklir, Korut seperti tidak gentar.

Bahkan, mereka diyakini kembali melakukan uji coba akhir pekan ini. Tepatnya pada 9 September yang diperingati sebagai hari berdirinya negara Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) alias Korut.

’’Korut senang mempertontonkan hal besar pada hari libur nasional mereka,’’ ujar Harry Kazianis, direktur Center for the National Interest, di AS kemarin (4/9). Diduga, yang akan diuji coba adalah intercontinental ballistic missile (ICBM) atau misil lintas benua.

BACA JUGA : 

Tahun lalu, mereka melakukan uji coba bom nuklir di Punggye-ri. Minggu (3/9), mereka sudah mengetes bom hidrogennya dan memicu gempa dengan skala 6,3 Richter.

Kazianis menegaskan, Korut hanya ingin mendapat perhatian sebanyak-banyaknya dari dunia. Mereka ingin dihormati. Peluang mereka untuk menyerang Korsel atau AS secara langsung tidak terlalu besar, meski tetap ada.

Sebab, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Jong-un. Orang-orang di luar Korut sangat jarang bertemu dengannya. Bahkan, para petinggi negara sekutunya, Tiongkok, jarang bertemu. Hampir tak ada informasi intelijen yang akurat tentang Korut. Selain itu, tak semua informasi dari para pembelot Korut valid.

Meski begitu, sebagian besar analis satu suara dengan Kazianis. Jong-un tak mungkin menyerang AS maupun sebaliknya. Kerugian yang ditimbulkan bakal luar biasa. Jika AS sampai menyerang, peluang Jepang dan Korsel untuk terimbas sangat besar.

Janji AS untuk melindungi dua sekutunya itu dipertaruhkan. Di lain pihak, Jong-un tak mungkin berperang jangka panjang dengan Negeri Paman Sam atau Korsel. Apalagi, saat ini, Pyongyang menderita tekanan ekonomi.

’’Dia hanya ingin menunjukkan bahwa kemampuan serangan nuklirnya mampu menjangkau negara-negara AS,’’ kata Michael Morell, mantan wakil direktur CIA. Keinginan Jong-un tersebut hampir menjadi kenyataan. Jika dikembangkan, beberapa misil Korut akan bisa menjangkau kota-kota besar di AS.

Apa pun itu, kecaman untuk Korut tetap datang dari berbagai pihak. Termasuk Sekjen PBB Antonio Guterres. ’’Dia mengandalkan DK PBB untuk tetap bersatu dan mengambil langkah yang tepat untuk Korut,’’ ucap Guterres yang diwakili Kepala Urusan Politik Jeffrey Feltman.

Meski peluang serangan Korut kecil, Jepang dan Korsel tetap ketir-ketir. Kemarin, Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan akan memasang empat terminal high altitude area defence (THAAD) tambahan. Alat penghalau misil itu bakal diletakkan di pangkalan militer di Seongju. Seoul juga meminta AS menempatkan kapal induk dan pesawat-pesawat pengebomnya di Semenanjung Korea.

Korsel juga bersiap dengan menggelar latihan untuk menyerang pangkalan nuklir Korut di Punggye-ri. Mereka menggunakan jet tempur F-15K dan berbagai peralatan militer lainnya. Negara yang dipimpin Presiden Moon Jae-in tersebut meyakini bahwa Korut sudah bisa membuat hulu ledak nuklir dalam bentuk kecil yang bisa dimasukkan ke senjata-senjata misilnya.

DK PBB kemarin menggelar rapat untuk membahas uji coba terbaru yang dilakukan Korut. AS, PBB, dan negara-negara lainnya hanya memiliki dua opsi untuk Pyongyang. Yakni, memberikan sanksi atau negosiasi. Perang tidak pernah menjadi pilihan.

Beberapa diplomat yang menjadi sumber Reuters mengungkapkan, ada beberapa opsi terkait sanksi terbaru untuk Korut. Di antaranya, larangan ekspor tekstil, menghentikan suplai minyak untuk pemerintah Korut dan militer, melarang warga Korut bekerja di luar negeri, pembekuan aset, serta menambah daftar petinggi Korut yang dimasukkan ke daftar hitam. Swiss sebagai negara yang netral menawarkan diri untuk menjadi penengah jika opsi negosiasi yang diambil.

’’Ini saatnya untuk duduk satu meja,’’ tutur Presiden Swiss Doris Leuthard. Dia menegaskan, AS dan Tiongkok bertanggung jawab untuk mengamankan situasi dan membuat negosiasi berjalan. (*)

(Reuters/CNN/NYTimes/sha/c18/any/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar