Rabu, 3 Maret 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dokter Aloei Saboe Dalam Sepenggal Kisah Merebut Kemerdekaan

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Selasa, 26 Januari 2021 | 02:05 WITA Tag: ,
  Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N


Oleh: Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

ALOEI SABOE merupakan salah seorang tokoh Gorontalo yang berjuang di segala medan dan waktu. Beliau adalah seorang dokter, namun kiprahnya tidak hanya di sektor kesehatan semata, melainkan lintas sektoral dan multidisipliner. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, tokoh kelahiran Gorontalo 11 November 1911 ini ikut terlibat bersama Nani wartabone dan para pejuang lainnya. Alumnus sekolah kedokteran NIAS Surabaya (Sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga) ini bertugas di Gorontalo sejak tahun 1942 sampai 1958 sebagai seorang dokter pemerintah.

Pada hari jumat 23 Januari 1942 Masehi atau bertepatan 5 Muharam 1361 Hijriyah, Nani Wartabone atas nama seluruh rakyat, memproklamasikan kemerdekaan. Proklamasi di Gorontalo ini berarti 3 tahun lebih awal daripada proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945. Rakyat Gorontalo mengadakan rapat umum di pusat kota Gorontalo untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Nani Wartabone yang bertindak sebagai inspektur upacara berpidato:“Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini, sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional”. Pada peristiwa tersebut, Nani Wartabone bersama para pejuang komite duabelas mengambil alih pemerintahan hindia Belanda dengan melumpuhkan seluruh kekuasan belanda, menangkap semua pejabat Belanda, membentuk pemerintah daerah di Gorontalo sebagai bagian dari pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untuk melaksanakan pemerintahan yang ditinggalkan Belanda maka dibentuk Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang dipimpin langsung oleh Nani Wartabone.

BACA  74 Tahun HMI

Berdasarkan surat keterangan dari Nani Wartabone yang ditandatangani pada 9 April 1975, dijelaskan bahwa dokter Aloei Saboe pada bulan Maret 1942 beliau angkat sebagai anggota dewan nasional Republik Indonesia yang dibentuk sesudah peristiwa 23 Januari 1942. Dewan ini memerintahkan semua sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengibarkan bendera merah putih di rumah-rumah penduduk maupun di halaman sekolah termasuk mengirim utusan ke sejumlah daerah di kawasan teluk tomini untuk merintis usaha gerakan kemerdekaan di daerah-daerah tersebut. Pemerintahan Gorontalo akhirnya diambil alih oleh penguasa Jepang pada 16 Juni 1942 setelah berlangsung lebih kurang 5 bulan yaitu dari tanggal 23 Januari 1942 sampai 16 Juni 1942.

Semasa pendudukan Jepang, para petani diharuskan untuk menanam kapas, padi, jagung dan tanaman palawija lainnya dan hasilnya diambil paksa oleh tentara Jepang untuk dijual ke Manado. Perlakuan para tentara Jepang seperti itu memicu perlawanan petani Gorontalo. Pada 4 Januari 1943, Ali Palalu dan Kasim bersama sejumlah petani membunuh seorang polisi Jepang dan memukuli opsir Jepang hingga babak belur. Keenam petani tersebut ditangkap untuk menjalani hukuman pancung. Seluruh penduduk Gorontalo dikumpulkan di lapangan terbuka untuk melihat secara langsung prosesi pemancungan kepala para petani tersebut. Beberapa penduduk menjadi hsteris saat menyaksikan peritiwa tersebut. Dokter Aloei Saboe yang juga hadir pada prosesi tersebut turun tangan membantu dan merawat mereka yang histeris.

Situasi di Gorontalo semakin mencekam dimana tentara Jepang mulai melakukan penangkapan-penangkapan terhadap sejumlah tokoh komite duabelas, tokoh PPPG dan sejumlah tokoh pejuang lainnya dengan tuduhan sebagai mata-mata tentara sekutu yang akan melakukan perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintah Jepang. Diantara para tokoh yang ikut ditangkap adalah Nani Wartabone dan Dokter Aloei Saboe. Pada tanggal 3 Februari 1943, Dokter Aloei Saboe dibawa tentara Jepang ke Manado untuk dijebloskan di penjara Teling. Di dalam penjara beliau diinterogasi tentara Jepang dan dipaksa untuk mengakui menjadi mata-mata sekutu. Oleh karena tidak mau mengakui hal tersebut, maka selama di penjara, beliau mengalami penyiksaan-penyiksaan diantaranya ditanam sampai batas leher di pantai Manado, sehingga apabila ombak datang wajah beliau dipenuhi pasir. Pernah juga dengan kaki dan tangan terikat pada buritan perahu, beliau dibuang ke laut sejauh 50 meter dan kemudian perlaha-lahan ditarik ke daratan. Bahkan pernah badan beliau dilumuri gula, diikat terbalik dengan kaki di atas di sebuah pohon yang banyak semutnya sehingga seluruh tubuh, lubang hidung dan telinga beliau dikerubuti semut. Seluruh siksaan dari tentara Jepang tersebut beliau jalani dengan sabar dan tabah sampai akhirnya beliau dibebaskan dari penjara pada 5 Agustus 1945 dan kembali ke Gorontalo.

BACA  Aksi Heroisme Dokter Aloei Saboe Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Pada 15 Agustus 1945, Dokter Aloei Saboe ikut mendampingi Nani Wartabone menerima pemerintah Jepang yang dipimpin oleh Kinoshita. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu dan pemerintahan Jepang di Gorontalo akan diserahkan kepada pemerintah nasional Gorontalo pada keesokan hari. Akhirnya pada 16 Agustus 1945, diadakan upacara penaikan bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya di depan kantor kenkarikan atau asisten residen. Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Jakarta justru baru diketahui oleh rakyat Gorontalo nanti pada tanggal 28 Agustus 1945. Untuk menjalankan pemerintahan di Gorontalo, maka pada 1 September 1945, dibentuk dewan nasional yang beranggotakan sejumlah tokoh msyarakat dan pimpinan partai yang dipimpin oleh Nani Wartabone. Dalam dewan nasional tersebut dokter Aloei Saboe termasuk salah seorang anggota dengan penugasan mendatangi seluruh wilayah Gorontalo untuk menyebarkan informasi tentang penyerahan pemerintahan dari Jepang. Diharapkan dengan adanya penjelasan tersebut, akan membangkitkan rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme rakyat Gorontalo dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan.

BACA  Aksi Heroisme Dokter Aloei Saboe Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia di Gorontalo, maka Dokter Aloei Saboe mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah diantaranya Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno pada 1958, Satiyalencana Peristiwa Aksi Militer I dari Menteri Pertahanan Ir. Djuanda pada 1958, Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan dari Menteri urusan veteran dan demobilisasi Letjen TNI Sarbini pada 1967, serta Satiyalencana Peringatan Perdjuangan Kemerdekaan dari Presiden Suharto pada 1969. Tidak mengherankan jika beliau mendapat kehormatan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 31 Agustus 1987. Nama beliau pun diabadikan oleh pemerintah daerah sebagai nama Rumah sakit umum daerah kota Gorontalo dan nama jalan yang menuju ke arah rumah sakit. Semoga Almarhum Dokter Aloei Saboe husnul khatimah dan spirit perjuangannya senantiasa menjiwai para generasi penerus bangsa.Aamiin!. (*)

 

 

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Kedokteran UNG, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo.

Komentar