Rabu, 26 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dokter Aloei Saboe Sabagai Calon Pahlawan Nasional dari Gorontalo

Oleh Admin Hargo , dalam Persepsi , pada Jumat, 26 November 2021 | 21:05 PM Tag: , , ,
  DR. Dr. H. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Oleh: Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Pendahuluan

PAHLAWAN adalah anugerah atau gelar yang diberikan oleh pemerintah kepada seorang warga negara yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa kepada bangsa dan negara. Yang dimaksud sebagai tindak kepahlawanan adalah perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga negara lainnya.

Pada peringatan hari pahlawan 10 November setiap tahunnya, pemerintah selalu mengagendakan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah tokoh yang memenuhi syarat. Menurut data Kementerian Sosial RI hingga tahun 2021 ini tercatat ada 195 orang yang telah memperoleh pengakuan negara sebagai pahlawan nasional.

Nani Wartabone merupakan satu-satunya tokoh Gorontalo yang saat ini diakui oleh negara sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003. Gelar tersebut diserahkan Presiden Megawati Soekarnoputri melalui salah seorang anak laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara, pada 7 November 2003. Dengan demikian hampir 18 tahun, Gorontalo belum ketambahan sosok pahlawan nasional. Gorontalo memiliki sejumlah tokoh yang layak untuk diusulkan sebagai calon pahlawan nasional. Salah seorang diantaranya adalah Prof.Dr.Aloei Saboe, seorang dokter pejuang kelahiran Gorontalo 11 November 1911 yang wafat di Bandung pada 31 Agustus 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Kelayakan Sebagai Pahlawan Nasional

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional maka ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh tokoh yang akan diajukan namanya untuk mendapatkan gelar itu. Dokter Aloei Saboe memenuhi persyaratan untuk diusulkan sebagai calon pahlawan nasional. Persyaratan umum meliputi:
1) Warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI. Dokter Aloei Saboe merupakan orang Indonesia asli yang lahir dan besar di Gorontalo.

2) Memiliki integritas moral dan keteladanan. Dokter Aloei Saboe menunjukkan integritas moral yang tinggi dan menjadi teladan umat.

3) Berjasa terhadap bangsa dan Negara. Dokter Aloei Saboe memiliki jasa yang besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasanya tersebut maka Dokter Aloei Saboe mendapat anugerah tanda jasa dari pemerintah pusat diantaranya: Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno (1958), Satiyalencana Peristiwa Aksi Militer I dari Menteri Pertahanan Ir. Djuanda (1958), Satyalencana Peristiwa Aksi Militer II dari Menteri Pertahanan RI Ir. Djuanda (1962), Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan dari Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi Letjen TNI Sarbini pada (1967), Satyalencana Keamanan dari Menko Pertahanan/Kasab Jenderal A.H.Nasution (1965), Satyalencana Penegak dari Menteri Utama Hankam Jenderal Suharto (1969) serta Satiyalencana Peringatan Perdjuangan Kemerdekaan dari Presiden Suharto (1969).

4)Berkelakuan baik. Semasa hidupnya, Dokter Aloei Saboe tidak pernah ada catatan terkait pelanggaran etik dan pelanggaran hukum.

5) Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara. Sepanjang hidupnya, Dokter Aloei Saboe terus berjuang bagi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Bahkan di setiap periode sejarah negeri ini, Dokter Saboe selalu terlibat dan berkiprah.

6) Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang dhdf iancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun. Dokter Saboe tidak pernah dihukum oleh karena tindak pidana..

Adapun persyaratan khusus yang harus dipenuhi diantaranya:

1)Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Pada masa pergerakan kemerdekaan, dimana para pejuang aktif terlibat dalam organisasi pergerakan untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan patriotisme, Dokter Aloei Saboe aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond (1926), Anggota Indonesia Moeda (1930) dan Anggota Partai Nasional Indonesia/PNI (1935). Pada masa revolusi fisik, dimana para pejuang angkat senjata di medan perang melawan penjajah, Dokter Aloei Saboe ikut bergabung dalam laskar berani mati yang melakukan penyerangan ke markas tentara NICA di Gorontalo.

2)Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Dokter Aloei Saboe merupakan sosok pejuang yang tak pantang menyerah. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, beberapa kali beliau ditangkap dan diasingkan oleh tentara Jepang maupun Belanda. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk memperjuangkan Indonesia merdeka.

3)Mengabdi dan berjuang hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya. Selama kurun waktu 1946-1947, beliau mengirim sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan yang berasal dari dump perang USA dan Australia kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Menteri Pertahanan RI yang berkedudukan di Yogyakarta untuk membantu perjuangan kemerdekaan di Pulau Jawa. Kiprah perjuangan beliau dilanjutkan di bidang politik. Pada tahun 1950, Aloei Saboe terpilih sebagai anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT). Di parlemen inilah beliau bersama dengan sejumlah anggota parlemen, Aloei Saboe ikut menandatangani dan menyerukan mosi pembubaran NIT, dimana NIT harus dileburkan ke dalam NKRI yang sesuai dengan jiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Sewaktu meletusnya PERMESTA pada 1958, Aloei Saboe ikut terlibat dalam membantu operasi penumpasan PRRI/PERMESTA di Gorontalo.

4)Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara. Dalam kapasitas sebagai Direktur Khusus Urusan Medis Dana Sakit YKB FBSI, Dokter Aloei Saboe telah mengupayakan 5 poliklinik yang dikelola YKB FBSI yang telah melayani 8.023 orang buruh sebagai peserta dana sakit dari sejumlah 20.000 orang buruh yang bekerja di 250 perusahaan di Kota Bandung. Dokter Aloei Saboe juga ikut terlibat dalam rencana pembangunan rumah sakit modern khusus untuk buruh. Rumah sakit tersebut direncanakan terdiri atas 50 ruangan pasien dan berlokasi di kabupaten Bandung. Bahkan International Confederation of Free Trade Unions (ICFTU) telah memberikan bantuan tahap pertama sebesar US$45.000 untuk pembanguan rumah sakit tersebut.

5)Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Pada tahun 1935 Dokter Saboe telah membawa nama harum Indonesia di forum internasional yang ditandai adanya prestasi menjadi juara zone Asia pada pertandingan world bridge yang berpusat di New York.

Menjadi juara bridge saat bangsa Indonesia sedang dijajah Belanda telah menggugah bangsa lain untuk berpikir bahwa bangsa Indonesia telah mempunyai kemampuan berpikir setaraf dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Dokter Aloei Saboe melaksanakan penelitian tentang kehidupan kaum buruh di Kota Bandung. Hasil riset tersebut mendapat apresiasi dari Atase Perburuhan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia Mr. Leonard Sandman dengan meluncurkan ”II CARE Feeding Program”yang memberikan bantuan bahan pangan kepada para buruh dan keluarganya. Dokter Aloei Saboe juga aktif menulis buku baik di bidang kesehatan, pendidikan dan keagamaan di antaranya: Hikmah Kesehatan Dalam Sholat, Hikmah Kesehatan Dalam Puasa, Islam dan Ilmu Kedokteran, Pendekatan Ilmiah Tentang Eksistensi Tuhan Dan Makhluk Ciptaannya, Aku di Dunia dan Akhirat, dan Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Injil Barnaba. Buku-buku ini beliau kirimkan ke sejumlah instansi untuk menjadi koleksi perpustakaan. Salah satu buku beliau yang terkenal adalah ”hikmah kesehatan dalam sholat” pernah diminta oleh Menteri Agama Mukti Ali menjadi buku panduan bagi rombongan haji Indonesia bahkan sering dijadikan rujukan bagi para pemerhati kesehatan islam.

6)Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi. Semasa bersekolah NIAS, Dokter Saboe banyak belajar dan berdiskusi mengenai masalah-masalah politik dari gurunya, Dokter Soetomo yang juga pendiri organisasi Budi Utomo. Dokter Soetomo secara terus-menerus menanamkan rasa nasionalisme kepada Dokter Aloei Saboe dan para mahasiswa NIAS lainnya. Disamping mempelajari ilmu kedokteran, Aloei saboe sering mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan oleh organisasi Indonesia Moeda yang merupakan wadah gabungan dari organisasi jong Java, jong Celebes, jong Ambon dan jong Sumatera. Tidak mengherankan apabila jiwa nasionalisme dan semangat patriotsme telah terpatri dan mendarah daging pada diri Dokter Aloei Saboe.
7)Melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Selama lebih dari 30 tahun, beliau juga bergelut dalam pemberantasan penyakit lepra atau kusta, yang ketika itu menjadi momok bagi masyarakat. Khusus untuk mempelajari penyakit lepra ini beliau sudah mengalami penempatan di sejumlah daerah diantaranya Cicebang, Semarang, Blora, Cepu, Randubatung, Gresik, Bangkalan, Plantungan, Ambon dan Gorontalo. Untuk di Gorontalo, beliau mendirikan Rumah Sakit khusus kusta yang dapat menampung 300 orang di desa Toto. Melalui proses pemilihan oleh rakyat pada bulan Mei 1955, beliau terpilih menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia. Para anggota Konstituante dilantik pada tanggal 20 Mei 1957 oleh ketua Konstituante, Wilopo atas nama Presiden Republik Indonesia.

Dokter Aloei Saboe beberapa kali diminta menjadi anggota delegasi Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia untuk konferensi internasional WHO dan Keluarga Berencana. Dipercaya juga sebagai penerima tamu departemen kesehatan dari luar negeri yang berkunjung ke Indonesia diantaranya dari India, Ghana, USSR, RRT dan Australia. Beliau juga aktif pada Biro Kesehatan Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965.

Proses Pengusulan Pahlawan Nasional

Sejak tahun 2018, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Gorontalo telah memperjuangkan Dokter Aloei Saboe sabagai calon pahlawan nasional asal Gorontalo. Diawali dengan pelaksanaan seminar kepahlawanan Prof.dr.Aloei Saboe pada 11 November 2018 bertempat di aula RSUD Prof.dr.Aloei yang menghadirkan 3 narasumber yaitu dr.Nikartin Pakaya,Sp.A (Dokter Senior Gorontalo) yang membahas kepahlawan Aloei Saboe dalam tinjauan profesi medis, Drs. Joni Apriyanto, M.Hum (Sejarawan Universitas Negeri Gorontalo) yang berbicara tentang kepahlawan Dokter Aloei saboe dalam tinjauan sejarah, dan Basri Amin, PhD (Peneliti Pusat Dokumentasi HB.Jassin) yang mengupas kepahlawan Aloei saboe dalam tinjauan literasi. Pada seminar itu pula IDI Cabang Kota Gorontalo menyerahkan secara resmi surat pengusulan Prof.dr.Aloei Saboe sebagai calon pahlawan nasional kepada pemerintah kota Gorontalo.

Sesuai mekanisme pengusulan calon pahlawan nasional, maka pemerintah Kota Gorontalo meneruskan usulan dari IDI cabang Kota Gorontalo tersebut kepada pemerintah provinsi Gorontalo. Selanjutnya pemerintah provinsi membentuk Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Daerah (TP2GD) untuk menilai kelayakan calon pahlawan nasional yang diusulkan. Pada 16 Agustus 2020, TP2GD melaksanakan seminar nasional kepahlawan Dokter Aloei Saboe yang menghadirkan Direktur K2KSR Kemensos RI, sejarawan nasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sejarawan lokal dari UNG sebagai narasumber.

Setelah melalui serangkaian pengkajian dan penelitian, maka TP2GD melakukan sidangnya pada 24 Maret 2021 memutuskan bahwa Prof.dr.Aloei Saboe memenuhi syarat untuk diusukan sebagai calon pahlawan nasional dari Provinsi Gorontalo. Pada 8 April 2021 seluruh berkas pengusulan Prof.dr.Aloei Saboe sebagai calon pahlawan nasional dibawa ke Jakarta untuk diserahkan ke Kementerian Sosial RI dan diterima langsung oleh Direktur Kepahlawan Keperintisan Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial (K2KSR).

Berdasarkan pemeriksaan tim dari Direktorat K2KSR, berkas pengusulan Prof.dr.Aloei Saboe sebagai calon pahlawan nasional dari Provinsi Gorontalo memenuhi persyaratan administratif dan diteruskan ke Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Pusat (TP2GP) untuk dikaji lebih lanjut. Jumlah usulan calon pahlawan nasional yang diterima oleh kementerian sosial tahun 2021 ada 30 nama. Dari sejumlah nama yang masuk tersebut, hanya 12 calon pahlawan yang mememenuhi syarat untk diverifikasi lebih lanjut, salah satunya adalah Prof.dr.Aloei dari Gorontalo. Olehnya maka pada 19 sampai 21 Agustus 2021, TP2GP melaksanakan visitasi ke Provinsi Gorontalo.

Dalam visitasi tersebut tim TP2GP melakukan pertemuan dengan TP2GD provinsi Gorontalo serta mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan Dokter Aloei Saboe di Gorontalo.
Berdasarkan rapat pleno TP2GP di Jakarta, Dokter Aloei Saboe termasuk salah satu dari 8 nama calon pahlawan nasional yang diusukan ke Menteri Sosial RI untuk diteruskan ke Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan selanjutnya diserahkan kepada Presiden RI untuk ditetapkan. Keputusan siapa calon pahlawan yang akan ditetapkan merupakam hak prerogatif Presiden. Untuk tahun 2021 ini, Presiden Joko Widodo melalui Keppres Nomor 109/TK/2021 memutusakan untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 4 tokoh yaitu: Tombolotutu (Sulawesi Tengah), Sultan Aji Muhammad Idrus (Kalimantan Timur), Usmar Ismail (DKI Jakarta) dan Raden Arya Wangsakara (Banten).

Penutup
Pemberian anugerah pahlawan nasional merupakan salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap setiap warga negara yang telah memajukan dan memperjuangkan pembangunan bangsa dan negara demi kejayaan dan tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bagi masyarakat Gorontalo, penganugerahan gelar pahlawan nasonal bagi Dokter Aloei Saboe akan menumbuhkan kebanggaan, keteladanan, kepatriotan, sikap kepahlawanan dan semangat kejuangan, Ingatlah pesan mendiang Presiden Sukarno:

“Hanya bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar”. Oleh karena itu maka pengusulan Dokter Aloei Saboe sebagai calon pahlawan nasional dari Gorontalo harus dilanjutkan. Kita dukung pemerintah Provinsi Goronalo untuk terus memperjuangkan nama Dokter Aloei Saboe menjadi pahlawan nasional Kita doakan bersama semoga Prof.dr.Aloei Saboe akan ditetapkan oleh Presiden menjadi pahlawan nasional di tahun 2022 mendatang. Aamiin. Aamiin…Yaa Rabbal’aalamiin. (***)

 

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo dan juga Ketua IDI Cabang Kota Gorontalo

(Visited 22 times, 1 visits today)

Komentar