Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Donald Trump Menolak Gaji Rp 5,3 Miliar dan Hanya Minta Rp 13 Ribu

Oleh Fajriansyach , dalam Headline Kabar Dunia , pada Rabu, 16 November 2016 | 07:50 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id – Saat diwawancarai dalam program 60 Minutesyang tayang di CBS oleh Leslie Stahl, presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kembali tidak akan mengambil gaji yang diterimanya.

Trump mengatakan hanya mengambil USD 1 (setara Rp 13 ribu) per tahunnya. Mengaku tidak mengetahui gaji yang diterimanya, Trump tetap bersikukuh hanya menerima USD 1 meski kemudian Stahl mengatakan kalau gaji presiden setahun sejumlah USD 400 ribu (setara Rp 5,3 miliar). ”Tidak, saya tidak akan mengambilnya,” katanya.

BACA  Pasca Pandemi, Fadel Muhammad Ajak Perkuat Pertanian dan Perikanan

Trump bukan pejabat pertama yang meminta digaji minimum. Herbert Hoover, miliuner tambang yang kemudian jadi presiden AS dan John F Kennedy, juga memilih tidak mendapatkan gaji dan mendonasikannya untuk amal. Pun demikian dengan mantan gubernur California Arnold Schwarzenegger dan mantan gubernur Massachusetts Mitt Romney.

Selain pejabat negara, CEO ternama juga melakukan hal tersebut. Seperti Mark Zuckerberg CEO Facebook, Sergey Brin dan Larry Page dari Google, CEO Oracle Larry Ellison, serta CEO Hewlett Packard Enterprise Meg Whitman.

BACA  Cegah Covid-19 pada Hari Pemilihan, KPU Klasifikasi Tiga Kelompok

Tetapi, meski tidak mendapatkan gaji, para pemimpin bisnis tersebut menerima gaji dengan cara lain. Termasuk saham-saham di perusahaan mereka dan kompensasi berbasis kinerja lain. Pendiri Apple Steve Jobs juga mempopulerkan konsep gaji USD 1 di Silicon Valley setelah kembali ke pucuk pimpinan perusahaan pada tahun 1997.

BACA  Update Hasil Pilpres AS: Selisih Perolehan Suara Sangat Tipis, Siapa yang Unggul?

Dikutip BBC, eksekutif bisnis sebenarnya telah mengorbankan gaji mereka sejak Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Mereka terdiri atas eksekutif terkemuka, bankir, dan produsen, yang mengajukan diri membantu pemerintah dalam selama Perang Dunia I. Ide itu kemudian muncul kembali selama Perang Dunia II, dengan para eksekutif yang berasal dari raksasa industri seperti Lockheed, Chrysler, dan Boeing.(*/tia/hg)


Komentar