Senin, 30 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Donald Trump Terbebas dari Pemakzulan, Gedung Putih Bersorak Girang

Oleh Jamal De Marshall , dalam Kabar Dunia , pada Kamis, 6 Februari 2020 | 23:05 WITA Tag: ,
  Donald Trump bebas dari pemakzulan dalam sidang Senat AS, Rabu (5/2) waktu lokal. Trump pun tetap disetujui sebagai Presiden AS dan siap dicalonkan kembali pada Pilpres 2020 (OLIVIER DOULIERY / AFP)


Hargo.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terbebas dari dakwaan pemakzulan. Dia tetap tetap sebagai presiden dan siap maju dalam Pilpres 2020. Putusan itu dibacakan Senat AS dalam sidang pemakzulan di Senat pada Rabu (5/2) waktu AS. Trump membebaskan dari seluruh dakwaan pemakzulan.

Trump bisa dibilang diselamatkan oleh sesama Republikan yang bersatu melindunginya. Gedung Putih semakin besar.

Trump menjadi presiden ketiga dalam sejarah Amerika Serikat yang selamat di persidangan pemakzulan di Senat. Sebelumnya, Andrew Johnson (1868) menjadi presiden pertama AS yang meminta proses pemakzulan. Dia dimakzulkan oleh DPR AS dan proses selanjutnya dilanjutkan ke Senat. Namun, dalam sidang Senat, Johnson berhasil lolos dan dinyatakan tidak berhasil.

Kemudian, Presiden kedua yang mengundang pemakzulan adalah Bill Clinton (1998). Dia menyetujui peminjam dengan meminta agar skandal keuangan, pelecehan seksi, dan perselingkuhan. Ada 11 alasan yang menguatkan pemakzulan itu. Selanjutnya pada 11 Desember 1998, DPR AS meminta tiga pasal pemakzulan untuk Clinton.

Dakwaan-dakwaan itu kemudian dibawa ke Senat AS. Bagaimana, dalam sidang Senat AS pada 12 Februari 1999. Clinton akhirnya lolos setelah melalui sidang Senat. Dia membebaskan dari dakwaan setelah jumlah suara tidak memenuhi syarat dua pertiga untuk melengserkannya. Clinton tetap disetujui sebagai Presiden AS.

BACA  Bom Bunuh Diri Meledak Dekat Akademi Kepolisian

Trump menapaki jejak Johnson dan Clinton. Sebelumnya dia dimakzulkan oleh DPR AS dalam voting yang dilakukan pada Rabu (18/12/2019) malam waktu lokal atau Kamis (19/12/2019) WIB. Pemakzulan itu dipicu dua tagihan. Pertama, Trump dituding menyalahgunakan wewenang setelah menelpon Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Trump meminta Zelensky meminta kasus yang diminta Hunter Biden, anak capres Partai Demokrat Joe Biden. Joe Biden disebut akan menjadi calon kuat Trump pada Pilpres 2020. Trump dituding menggunakan dana bantuan AS untuk mendukung Zelensky.

Kedua, Trump dituduh melakukan proses investigasi pemakzulan yang dilakukan oleh DPR. Sebab, Gedung Putih memegang dokumen penting dan mengundang saksi untuk hadir dalam sidang.

Sama dengan Johnson dan Clinton, Trump juga lolos di sidang Senat. Trump membebaskan dari dua pasal pemakzulan yang disetujui oleh DPR yang dimotori Fraksi Demokrat. Suara untuk menyetujui Trump jauh dari dua pertiga yang diperlukan dalam Senat untuk memecatnya berdasarkan Undang-Undang AS.

BACA  Diego Maradona Wafat, Warga Argentina Merasa Kehilangan

Senat memberi suara 52-48 untuk membebaskan Trump dari dakwaan meminta persetujuan terkait peminta Trump agar Ukraina memata-matai musuh politiknya Joe Biden. Senator Republikan Mitt Romney bergabung dengan Demokrat dalam pemungutan suara untuk menghukum Trump. Tak ada suara dari Demokrat untuk membebaskan Trump.

Senat kemudian memberikan suara 53-47 untuk melepaskan Trump dari dakwaan melepaskan Kongres, dengan menolak pemilihan dan dokumen oleh DPR AS. Romney bergabung dengan senator Republik lainnya dalam pemungutan suara untuk melepaskan persetujuan obstruksi. Tak ada senator Demokrat yang memilih melepaskan Trump.

Masing-masing dari dua dakwaan, para senator berdiri di mejanya sendiri untuk menyediakan suara satu per satu, dengan dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung Jogn Roberts.

Usai pemungutan suara, Trump mengunggah video di akun Twitter pribadinya yang menunjukkan sinyal kampanye Trump untuk pemilihan mendatang dan selanjutnya diakhiri dengan “Trump 4EVA”. Trump menuturkan dirinya akan segera disampaikan pidato terkait putusan Senat AS.

BACA  Update Hasil Pilpres AS: Selisih Perolehan Suara Sangat Tipis, Siapa yang Unggul?

Sementara itu, Gedung Putih menyambut baik putusan Senat AS yang memilih untuk membebaskan Trump dari proses pemakzulan. “Proses pemakzulan berdasarkan serangkain kebohongan,” sebut sekretariat Gedung Putih dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Twitter.

Gedung Putih mengatakan pembebasan Trump dari persetujuan kebebasan merupakan langkah yang benar. “Seperti yang telah kita katakan selama ini, dia tidak menang,” imbuh pengakuan Gedung Putih.

Pada pengambilan suara Rabu (5/2), waktu AS, Senat membebaskan Trump dari pasal-pasal pemakzulan yang diloloskan Demokrat di DPR AS. Senat AS yang memimpin Partai Republik memilih Trump yang tidak memihak mengenai kewenangan dengan menyetujui suara 52-48, dan mengambil aman dalam hal yang disetujui Kongres dengan menyetujui suara 53-47.

*Berita ini juga terbit di jawapos.com edisi kamis 6 januari 2020


Komentar