Rabu, 20 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



DPR Soroti Pola Pembinaan Militer Pasca Tewasnya Prajurit Paskhas

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Minggu, 14 Mei 2017 | 07:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan anggota Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) TNI AU Praka Yudha Prihartanto, menimbulkan pertanyaan. Yakni soal pola pembinaan di institusi yang dinaunginya.

Anggota komisi pendidikan DPR Dadang Rusdiana mengatakan, hal tersebut perlu didalami Komisi I DPR yang bermitra dengan TNI AU. “Apakah kejadian ini mencerminkan model pembinaan yang ada? Ini perlu didalami oleh komisi I DPR,” ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (13/5).

Menurut dia, pendidikan militer sangat khas dan berbeda dengan pendidikan di sekolah sipil. Penegakan disiplin dan loyalitas menjadi keistimewaan dalam sistem pendidikan kemiliteran. “Namun demikian penegakan disiplin berlebihan dan berdampak hilangnya nyawa kan tidak bisa ditolerir juga,” pungkas Dadang.

BACA  Hari Pertama Berkantor di Jakarta, Risma Blusukan Ke Kolong Jembatan

Diketahui, kematian Praka tidak lepas dari tiga perwira TNI AU yang melakukan pembinaan terhadapnya. Ketiganya adalah Lettu MP, Letda Pas IH, dan Letda Pas AJ.

Pembinaan yang mereka berikan kepada prajurit TNI AU asal Kebumen itu merupakan perintah dari Pjs Kasiops Paskhas TNI-AU Kapten Pas NP. Pembinaan itu bermula dari interogasi soal utang piutang yang melilit Praka. Setiap ditanya, prajurit kelahiran 3 Oktober 1988 itu memberikan jawaban yang berbelit-belit.

BACA  Presiden Minta Semua Gubernur Paham SWF Indonesia Investment Authority

Rupanya jawaban itulah yang membuat tiga perwira muda itu ”menyetrap” atau memberi hukuman kepada prajurit TNI AU yang pernah ditugaskan dalam kontingen Pasukan Perdamaian PBB untuk Lebanon itu.

Sehingga Praka Yudha dimasukkan ke dalam salah satu barak dengan kondisi terkunci. Saat di dalam kamar barak, Yudha kabur melalui kaca nako jendela. Ketiga komandannya itu kembali berhasil menangkapnya.

Ternyata gara-gara kabur ini, para perwira muda itu geram hingga diduga melakukan hukuman fisik. Terbukti, sejumlah luka yang terdapat di tubuh korban. Mulai dari wajah, punggung, leher, hingga pantat.  Itu terlihat dari beberapa foto  yang diterima Jawa Pos Radar Malang.

BACA  Pemda Bisa Jatuhkan Sanksi Bagi Masyarakat yang Menolak Vaksinasi Covid-19

Bahkan kabarnya, saat dihukum fisik, tangan Yudha diikat kain dan diikat ke sebuah tiang. Setelah itu, Yudha kembali dimasukkan ke kamar barak dalam kondisi tangannya diikat. Sekitar pukul 11.05, Yudha minta izin keluar barak untuk ke kamar mandi.

Namun saat keluar, Praka langsung berlari ke barak dan mengambil pisau komando. Saat itulah perwira tersebut melakukan aksi bunuh diri fengan menyayatkan pisau komando ke lehernya. (hg/dna/JPG)


Komentar