Kamis, 18 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dua Mata

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Senin, 28 Februari 2022 | 12:35 Tag: , , , , , , , , ,
  Dua Mata - DISWAY

Oleh : Dahlan Iskan

EROPA kian kompak di belakang Ukraina. Anda juga sudah tahu: Amerika-Eropa sudah kian menyatu. Kiev, ibu kota Ukraina, belum juga jatuh. Kemarin sore. Entah tadi malam waktu sana. Saat Anda membaca Disway jam 04.00 pagi ini di sana masih jam 11.00 malam. Serangan frontal biasanya menjelang subuh.

Sudah empat hari perang. Kiev belum jatuh. Menurut Rusia, itu untuk menghindari jatuhnya korban dari pihak sipil. Sedang menurut Barat, itu sebagai bukti bahwa tentara Ukraina memberi perlawanan yang serius.

Yang terlihat gemes justru tokoh satu ini: Ramzan Akhmadovich Kadyrov.

Ia terus mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin: untuk diizinkan memberangkatkan tentara dalam jumlah besar dari daerahnya: Chechnya.

Ramzan tidak sabar Ukraina tidak segera jatuh. Sejak lama Ramzan berpendapat Ukraina harus direbut. Sejak dulu: Ukraina membahayakan Rusia.

Ramzan itu seperti Putin: bongol. Jagoan. Ia memang nge-fans berat ke Putin. Di antara seluruh pimpinan negara bagian di federasi Rusia, Ramzan-lah yang paling loyal ke Putin.

Ramzan putra seorang ulama besar Chechnya: Ahmad Khadzhi Abdulkhamidovich Kadyrov. Sang ayah bergelar mufti besar Islam Chechnya. Akhmad  lulusan pesantren Bukhara, Uzbekistan, dekat makam Imam Bukhari, perawi hadis paling dipercaya.

Ahmad meninggal tahun 2004: bom meledak di dekat tempatnya duduk di acara besar di Chechnya.

Waktu itu Kadyrov baru berumur 28 tahun. Ia bertugas menjadi ajudan dan sopir sang ayah. Ia bersumpah akan menumpas seluruh jaringan pembunuh ayahnya. “Akan saya tumpas sampai sel yang paling akhir. Sampai saya mati atau masuk penjara,” sumpahnya. Ia pimpin gerakan pemuda anak negeri. Ia buktikan ucapannya itu.

Setahun kemudian adik perempuannya diculik. Ia kerahkan ratusan anak-buahnya untuk mengepung tempat penculikan. Sang adik dibebaskan disertai pesta ledakan senjata api ke udara.

Kalau saja umurnya sudah 30 tahun, Kayirov akan dilantik langsung menggantikan ayahnya: sebagai Presiden Chechnya. Sambil menunggu cukup umur, ia diangkat menjadi wakil perdana menteri pertama. Tapi kekuasaan negara praktis ada di tangannya.

Begitu Kadyrov berumur 30 tahun, Presiden Chechnya mengundurkan diri. Kadyrov menjadi Presiden Chechnya, tanpa gelar mufti.

Tindakan pertama yang ia lakukan adalah: membangun masjid baru. Yang harus terbesar. Yang harus di pusat kota Grozny, ibu kota Chechnya, yang paling pusat. Bangunan lama yang strategis di situ harus diruntuhkan untuk masjid. Luas tanahnya harus mencapai 14 hektare, sekalian untuk sekolah tinggi Islam.

Dalam waktu singkat masjid itu jadi: bermenara empat, setinggi 160 meter. Desainnya dimiripkan dengan Blue Mosque Istanbul. Yang diminta meresmikan: Imam masjid Konya, dari kota kelahiran Maulana Rumi, Turki.

Langkah keduanya sebagai presiden Chechnya: minta agar jabatan presiden itu dihapus. Diganti saja dengan jabatan ”ketua”.

“Tidak boleh banyak presiden di Rusia. Presiden harus hanya satu: Putin,” katanya.

Pemerintah pusat pun setuju. Semua jabatan presiden di negara bagian dihapus. Banyak presiden yang sewot dengan usul Kadyrov ini, tapi apa boleh buat.

Kadyrov secara resmi mengumumkan bahwa istrinya tiga: Medni Musaevna Kadyrova, Fatima Khazuyeva, dan Aminat Akhmadova.

 

Medni Musaevna Kadyrova

 

Fatima Khazuyeva

 

Aminat Akhmadova

Dua anak lelaki Kadyrov hafal Quran. Demikian juga dua anak perempuannya. Yang perempuan itu bahkan ikut lomba pelajar paling cerdas se-Rusia.

Putin sangat sayang pada keluarga ini. Ketika sang ayah tewas, Putin melayat secara pribadi. Sampai ke makam Akhmad.

Putin juga menggelontorkan dana pusat sangat besar ke Chechnya. Itu karena Kadyrov memiliki program membangun kembali Chechnya dari keruntuhan ekonomi akibat perang.

Kadyrov juga mendeklarasikan Chechnya harus menjadi negara termakmur dan teraman di dunia.

Ia tumpas habis gerakan bersenjata di Chechnya. “Sekarang ini tinggal ada 150-an bandit di seluruh Chechnya,” katanya. “Selebihnya sudah kami tumpas,” tambahnya.

Ia biasa memberi gelar bandit kepada lawan-lawannya. Sedang yang disebut ”bandit” itu sering menyebut diri mereka jihadist atau pejuang Islam.

Ayah-anak Akhmad-Kadyrov ini lambang pemeluk Islam aliran Sunni. Sedang yang disebut ”bandit” tadi umumnya dari aliran Wahabi –banyak datang dari luar Chechnya.

Mereka itu awalnya menjadi satu barisan: sama-sama melawan pemerintah pusat Rusia yang lagi runtuh. Gerakan minta merdeka memang terjadi di mana-mana, seiring dengan rontoknya Uni Soviet. Termasuk di Chechnya.

Presiden Rusia –sebelum Putin– Boris Yeltsin menggempur Chechnya habis-habisan. Tidak boleh merdeka. Perlawanan dari Chechnya juga habis-habisan. Ini dianggap perang Islam lawan komunis.

Setelah itu terjadi keretakan. Golongan Wahabi dianggap semakin mendominasi Chechnya. Budaya Chechnya yang Sunni terasa kian tersisih.

Maka Akhmad memutuskan untuk berbalik arah: memihak Rusia. Saat itu di pusat Rusia sudah berubah: Yeltsin sudah diganti Putin.

Maka pertempuran Chechnya yang kedua (1999) hanya berlangsung singkat: tahun 2000 Rusia menguasai sepenuhnya Chechnya. Lalu memberikan otonomi khusus yang sangat luas. Termasuk dalam hal agama.

Kadyrov selalu terpilih kembali sebagai ketua Chechnya. Ia pernah berniat mundur. Tapi didaulat maju lagi untuk periode ketiga: menang 87 persen. Kelihatannya Kadyrov akan seumur hidup memimpin Chechnya. Sambil menunggu anaknya –barangkali.

Kadyrov tidak hanya geram dalam hal Ukraina. Ia juga pernah minta izin ke Putin: untuk menggempur ISIS di Syria. “Dalam beberapa minggu ISIS akan habis,” katanya menjamin.

Kadyrov kini baru berumur 45 tahun. Ia mencita-citakan Chechnya jadi negara Islam moderat dan modern. Ia menyerukan mereka yang dulu lari ke Eropa untuk pulang membangun negeri. “Chechnya sekarang ini paling tenang dan aman di dunia,” katanya.

Keberhasilan Kadyrov memimpin perang di dalam negeri itu mendapat penghargaan militer dari pusat: mayor jenderal.

Rusia kini seperti manusia jagoan yang sempurna: punya dua mata. Putin di Utara dan Kadyrov di Selatan. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Delapan Tahun

Satriano Misnart
Klo Profesor yang salah,bilangnya sedang menguji,tp klo rakyat jelantah yang salah  langsung aja bilang g*bl*k kok dipelihara.. Ups…..maap

donwori
ANDA SUDAH TAHUUUUUUUU

koes plus harus bertanggung jawab atas propaganda kolam susu dan tanah surga

Amat Kasela
cewe juga gitu, Mbah. Selalu punya alasan menolak cowo. “Kamu terlalu baik buat aku”, “Aku masih mau fokus belajar”, “Aku masih ingin sendiri”, “Aku masih mau mengejar karier”, dst. Padahal, alasan utamanya, “Kamu tidak ganteng”, “Kamu tidak kaya”. wkwkwkwkwkwk

Tunk B
ternyata populasi Unta terbanyak ada di Negara Australia. Jadi sekarang kalau mikir unta -> mikir Australia

GEARY G
Semua wanita terlahir cantik, apakah yang otak nya encer atau yang biasa saja,  Kalau kita bilang tidak Cantik, pasti kita “kurang teliti” melihatnya

Liam
Saya cuma bisa menduga umur 60-an masih kuat dan bisa “menyemai” , berarti genetik nya bagus. Tapi moral kesetiaannya meragukan. Dus tidak dapat di percaya sebagai seorang pemimpin. Tapi bisakah nasionalisme di ikat dengan moral? Bisakah seorang yang berselingkuh, sekaligus peduli akan kemakmuran negara? Bisakah seorang yang tak bisa mengendalikan nafsu syawat nya ,sekaligus bisa mengatur sebuah negara menuju kemakmuran? Ini masih tanda tanya bagi saya.

Mirza Mirwan
Tentang Lyubov Polezhay, wanita berambut blonde yang fotonya dimuat Disway di atas. Ia tidak sekadar punya hubungan khusus dengan Viktor Yanukovich, tetapi memang “vnutrishniy partner”-nya — teman kumpul kebonya. Sebelum dilengserkan dan lari ke Krimea, Yanukovich dan Lyubov tinggal di perumahan mewah di Mezhyhirya di utara Kyiv — kayak Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, di mana Trump tinggal. Bersamanya tinggal pula Mariia, gadis cilik, putri Lyubov. Tetapi, dari piagam penghargaan dari sekolahnya untuk Mariia, di situ tertulis “Mariia Polezhay”. Berarti bukan anak Lyubov dengan suami sebelumnya, yang nama belakangnya Polezhay. Kenapa Yanukovich terpikat pada Lyubov? Nah, ini kalau menggunakan logika Bung Leong Putu, eh, Mbah Mars, eh, bukan juga, logika Eyang Subur, karena Lyubov 25 tahun lebih muda ketimbang Lyudmila, isteri Yanukovich yang setahun lebih tua. Di tahun 2014 dulu Yanukovich 63 tahun, Lyudmila 64, sedang Lyubov baru 39 tahun. Mungkin hubungan Yanukovich sudah terjalin sejak sebelum jadi presiden. Taruhlah, sejak usia awal 30-an.

Aju Y
Ikan bandeng, makan kawat orang ganteng, numpang lewat

Saridin
Saya belum pernah ke Eropa timur (Kecuali nanti diajak Abah liputan ke sana). Tapi, nampaknya memang di -sebagian- Eropa Timur, isu etnis menjadi salah satu alat yang paling efektif dalam pertarungan politik. Contoh paling populer adalah Yugoslavia, yang sekarang jadi 7-8 negara mini. Bahkan di Bosnia Herzegovina, negara yang hanya sedikit lebih besar dari Jawa timur tanpa Madura, dengan penduduk yang hanya 3,5 jt an, Presiden nya harus dijabat 3 orang perwakilan etnis yang ada disana: Serbia, Kroasia, dan Bosniak-Muslim. Bayangkan kalau Indonesia harus memiliki 300 lebih pejabat Presiden mewakili etnis. Dan Ketua Pejabat Presiden nya bergantian, bisa2 dalam 5 tahun menjabat Ketua Presiden hanya 5 hari. Dan sepertinya, Ukraina juga demikian. Terlanjur terbelah antara Ukrainian dan Russian-Ukrainian. Kalau sudah begini, hampir pasti ujung-ujungnya adalah solusi 2 negara. Maka, beruntung lah kita, Bangsa Indonesia. Yang memiliki sejarah Majapahit, dan Bhinneka Tunggal Ika. Filosofi bangsa yang sekarang kita merasa tak merasakan faedahnya. Tapi, jika tanpa sejarah Majapahit dan Filosofi Bhineka tunggal Ika, negara ini bisa jadi beberapa negara mini. Mungkin sampai puluhan. Maka, kita pantas bersyukur. Apalagi, Disway National Network menjadi salah satu benang pengikat negara yang luas dan multietnis ini.

(Visited 50 times, 1 visits today)

Komentar