Kamis, 18 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dugaan Pungli dan Pelanggaran Kode Etik, Warga Minta Kepala Bandara Dicopot

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Kamis, 28 September 2017 | 12:46 Tag: , ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Belum lama menjabat sebagai Kepala Bandara Djalaludin Gorontalo, Power A.S Sihaloho sudah ditentang warga. Lebih dari 50 orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai aliansi masyarakat anti Pungutan Liar (Pungli) tersebut mendatangi kantor Bandara Djalaludin Gorontalo, kemarin, Rabu (27/9).

Mereka membawa sejumlah tuntutan kepada pihak bandara terkait adanya dugaan pungli yang dilakukan oleh Power A.S Sihaloho sebagai Kepala Bandara Djalaludin Gorontalo kepada pengelola parkir di bandara.

Dari pantauan Gorontalo Post, aksi yang dimulai pukul 11.30 Wita tersebut dilakukan di depan kantor eks bandara lama. Mereka menuntut agar Power A.S Sihaloho dicopot dari jabatannya sebagai kepala Bandara Djalaludin Gorontalo karena diduga telah melakukan pungli kepada pengelola parkir yang meminta uang sejumlah Rp 15 Juta kepada pengelola, diluar dari kontrak sewa lahan parkir yang sudah dikontrak.

Dan adanya tindakan kepala bandara yang dianggap sudah melanggar Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 99 Tahun 2011 tentang kode etik yang tidak memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kementrian Perhubungan.

Aksi yang berjalan damai dengan pengawalan pihak kepolisian tersebut di sambut baik oleh pihak bandara Djalaludin. Mereka diterima langsung oleh Kepala Tata Usaha (KTU) Bandara Djalaludin Gorontalo, Udik Novianto.

Setelah melakukan aksinya, para orator yang diketuai oleh Anton Abdullah diundang oleh pihak Bandara untuk melakukan audiens di ruang rapat kantor Bandara Djalaludin Gorontalo. Namun sayang, pertemuan yang bersifat tertutup sehingga awak media dilarang masuk untuk meliput.

Setelah melakukan pertemuan, Anton Abdullah selaku koordinator mengatakan bahwa aksi kali ini membawa dua poin penting untuk disampaikan kepada pihak Bandara Djalaludin Gorontalo, yakni dugaan pungli dan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Power A.S Sihaloho sebagai Kabandara.

“Yang dilakukan kepala bandara ini benar-benar sangat kita sesalkan dan kita akan melaporkannya langsung ke Kementerian Perhubungan,” ungkap Anton.

Terpisah, KTU Bandara Djalaludin Gorontalo, Udik Novianto menyampaikan kepada seluruh pengunjuk rasa secara langsung bahwa apa yang menjadi tuntutan kali ini akan diterima secara resmi oleh pihak bandara dan akan segera menindaklanjutinya.

Sementara itu, Kepala Bandara Djalaludin Gorontalo, Power A.S Sihaloho, ketika diwawancarai Gorontalo Post via seluler mengatakan, terkait tuntutan massa yang dialamatkan kepadanya itu sah-sah saja.

“Kalau ada bukti tentang dugaan pungli tersebut silahkan aja. Sekarang saja, saya nggak pernah nerima uang tersebut. Saya juga kalo sampai melakukan pungli, pasti ketangkap, bisa dipenjara saya,” tegas Power.

Ditambahkannya, terkait dengan kebijakannya yang menaikan harga sewa lahan parkir itu karena melihat lahan yang dipakai dan sewa lahan yang sekarang, menurut survei, sudah tidak sesuai.

Jadi pihaknya berencana akan menambah nilai sewa lahan agar bisa menambah jumlah pemasukan kas negara. “Itu juga akan didiskusikan terlebih dahulu dengan pihak ketiga atau pengelola. Namun belum mendapatkan kesepakatan.

Sehingga Rp 60 juta itu belum disepakati hingga sekarang, karena belum ada persetujuan pihak pengelola,” tutup Power yang saat itu sedang berada di luar daerah.

Meski sudah disiapkan satu unit mobil water canon untuk berjaga-jaga, beruntung aksi kali ini tidak berlangsung ricuh. Massa aksi itu pun langsung meninggalkan lokasi aksi dengan tertib dan tetap dikawal oleh anggota kepolisian.(tr-56/hg)

 

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar