Kamis, 21 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Duterte Yakin 15 Hari Lagi Kalahkan Militan

Oleh Aslan , dalam Kabar Dunia , pada Sabtu, 15 Juli 2017 | 08:00 AM Tag: ,
  

Hargo.co.id – Militer Filipina (AFP) salah sasaran lagi. Pada Rabu (12/7) jet tempur mereka menjatuhkan bom di lokasi yang ternyata didiami anggotanya. Padahal, mereka sedang berusaha menumpas kelompok militan Maute. Sebanyak 2 prajurit AFP tewas dan 11 lainnya luka-luka. Semua jet tempur FA-50 yang digunakan dalam serangan itu pun langsung ditarik. AFP memiliki 12 pesawat FA-50 yang dibeli pada periode kepemimpinan Benigno Aquino III.

’’AFP menghentikan penggunaan pesawat tersebut untuk serangan udara selanjutnya sampai penyebab kecelakaan itu bisa diketahui atau kerusakan peralatan telah ditemukan,’’ ujar Brigjen Restituto Padilla, juru bicara AFP, kemarin (13/7). AFP telah menerjunkan tim untuk melakukan penyelidikan tragedi salah tempat tersebut.

Mengandangkan FA-50 bukan berarti serangan udara di Marawi dihentikan. AFP akan menggunakan pesawat-pesawat lain yang mereka miliki. Insiden salah sasaran itu sudah dua kali terjadi. Yang pertama terjadi pada 31 Mei saat pesawat SF-260 menjatuhkan bom di daerah kawan, bukan lawan. Imbasnya, 11 orang prajurit tewas. Saat itu SF-260 juga dikandangkan sementara.

Juru bicara Satuan Tugas Gabungan Marawi Letkol Jo-Ar Herrera menjelaskan, saat kejadian, pasukannya tengah menggempur gedung-gedung yang dipakai untuk tempat persembunyian anggota Maute. Militan bentukan Abdullah dan Omarkhayam Maute tersebut masih menguasai 4 di antara 96 barangay atau desa di ibu kota Lanao del Sur itu. Jumlah mereka hanya sekitar 70 orang. Empat bom diluncurkan. Tiga tepat sasaran, tapi yang satu malah jatuh di sekitar gedung bertingkat yang dipakai oleh pasukan AFP untuk mengintai.

Pada Selasa (11/7) Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan yakin bahwa sekitar 15 hari lagi Maute bisa dikalahkan. Sebab, terlepas dari kejadian salah sasaran itu, kemajuan AFP cukup signifikan. Sejak Selasa hingga kemarin, AFP sudah berhasil merebut sekitar 200 bangunan yang sebelumnya dikuasai oleh Maute. Sejauh ini 392 militan berhasil dibunuh. Di pihak pemerintah, 92 prajurit dan 45 penduduk sipil meninggal. Selain itu, 400 ribu orang penduduk harus mengungsi.

Jumlah penduduk sipil yang tewas tersebut sudah termasuk enam jenazah yang ditemukan Batalion Infantri 51 pada Rabu. Sebagian jenazah sudah berupa tulang belulang. Hingga kemarin, proses evakuasi enam jenazah itu belum bisa dilakukan karena baku tembak masih berlangsung.

Komandan Komando Mindanao Barat Letjen Carlito Galvez Jr mengungkapkan, mereka mungkin warga sipil yang dieksekusi oleh Maute di awal konflik. Saat itu video pembunuhan tersebut diunggah Maute di dunia maya. ’’Eksekusi brutal itu bukti tindakan tidak Islami mereka. Para teroris tersebut tidak menghormati apa pun dan siapa pun,’’ ucap Galvez.

Maute adalah pendukung militan Islamic State (IS) alias ISIS. Pemimpin Abu Sayyaf, yaitu Isnilon Hapilon, yang kini dilindungi Maute juga merupakan pemimpin ISIS Asia Tenggara. Dari berbagai negara di Asia Tenggara, hanya di Filipina lah ISIS berani muncul dan unjuk gigi secara nyata. Karena itu, pemerintah terus meningkatkan kerja sama antiterorisme dengan berbagai negara, termasuk dengan India.

Pemerintah India bakal mengucurkan USD 500 ribu (Rp 6,8 miliar) untuk membantu pemulihan Marawi. Agustus mendatang Filipina akan menjadi tuan rumah pertemuan ke-25 Menlu India-ASEAN di Manila.

Filipina juga melakukan patroli perbatasan bekerja sama dengan Indonesia dan Malaysia untuk mencegah pergerakan militan ISIS dan sel-selnya. Tiga negara itu juga sepakat bertukar informasi intelijen serta mencari cara untuk mencegah pendanaan terhadap kelompok militan. Dengan begitu, ISIS Asia Tenggara diharapkan tidak bakal terbentuk. (Ruters/AFP/Philstar/Inquirer/ SunStarPhilippines/IndiaTimes/sha/c20/any/hg)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar