Empat Pemuda Paguat Ciptakan Kolang-kaling Berkualitas

Empat pemuda Paguat yang sedang memproduksi kolang-kaling berkualitas guna dipasarkan di Gorontalo. (Foto Ryan/Hargo.co.id)

Hargo.co.id, GORONTALO – Kreatifitas serta kerja keras Kuntay, Apu, Vander dan Dendi, empat pemuda asal Paguat membuahkan hasil. Mereka berhasil mengubah buah aren menjadi produk bernilai rupiah.

Tak tanggung-tanggung, dengan produk yang dilabeli dengan nama Pangling (Paguat Kolang-kaling) ini, kini 4 pemuda dari Desa Sipayo, yang awalnya sempat diremehkan, kini bisa meraup omset puluhan juta, dan bisa mempekerjakan masyarakat sekitar.

Meski di awal usahanya sempat diremehkan bahkan ditertawakan oleh teman-teman sebayanya. Kini keempat pemuda asal Desa Sipayo tersebut, mulai mencicipi manisnya hasil kerja keras mereka.

Bahkan meski baru beroperasi beberapa minggu, pesanan demi pesanan mulai membanjiri usaha yang hanya meminjam tempat penampung ikan salah satu masyarakat di Desa Sipayo tersebut.

Sehari mereka mendapat pesanan kolang-kaling hingga ratusan kilogram. Namun keterbatasan produksi yang hanya mencapai 50-60 kilogram perharinya, membuat banyaknya pesanan tak bisa dilayani, termasuk pesanan dari beberapa toko swalayan besar di Kota Gorontalo.

Harga yang mereka tawarkan sebesar Rp. 15.000 per kilogram, sehingga dalam sebulan mereka pun bisa meraup omset hingga Rp 25 juta. Tingginya jumlah permintaan pasar, ditambah omset yang sangat besar, membuat mereka memberanikan diri untuk memberdayakan masyarakat sekitar sebagai pengupas buah aren, dengan upah Rp. 25 ribu per keranjang.

Saat ditemui, keempat pemuda itu mengaku ide usaha tersebut didapatkannya saat sedang ngobrol santai. Dibantu sang mentor, keempatnya pun langsung melakukan beberapa kali percobaan untuk mengolah buah aren menjadi kolang-kaling. Setelah dirasa pas, baru produk kolang-kaling mulai dipasarkan baik online maupun turun langsung ke pasar-pasar tradisional.

“Alhamdulillah saat pertama kali dipasarkan di Marisa, respon masyarakat cukup antusias. Bahkan beberapa meminta untuk menjadi konsumen tetap. Beberapa diantaranya pun kaget, produk kolang-kaling kami dinilai berbeda dari kolang-kaling pada umumnya. Sekarang ada beberapa pesanan dari toko di Kota Gorontalo yang terpaksa tidak kami terima, karena melihat jumlah produksi kami masih terbatas,” ujar Dendi, yang sesekali ditimpali tiga rekanya.

Sementara itu, sebagai sang mentor, Haris berharap, ke depan usaha kreatif yang dijalankan anak muda Pohuwato tersebut mendapat perhatian dari pemerintah. yang tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan mereka dalam dunia usaha.

“Mereka masih sangat awam dalam dunia usaha, apalagi melihat kondisi mereka yang semua pengolahannya masih menggunakan alat seadanya, tentu sangat membutuhkan peran serta pemerintah. Paling tidak, semangat, kreatifitas, dan Kerja keras mereka harus kita apresiasi. Jangan salah loh, meski rata-rata dari mereka ini hanya pengangguran, sekarang dengan omset yang lumayan mereka sudah bisa memberdayakan masyarakat,” ucap Haris yang juga merupakan pengusaha Ikan di Paguat tersebut. (ryn/hg)

-