Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Empat Tahun Pengabdian Empat Traveler dalam Book for Papua

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Sabtu, 8 Juli 2017 | 06:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Selain buku, Komunitas Book for Papua mendirikan rumah baca-tulis dan membantu mencarikan pembiayaan untuk anak-anak Papua berbakat yang ingin melanjutkan pendidikan. Terkesan kepada kejujuran seorang bocah penambang pasir.

GUNAWAN SUTANTO, Surabaya

SESUAI janjiku, ini adalah jersey buat kamu Yanu! Semoga kamu suka dengan jersey ini dan hadiah2 lainnya! Tetap semangat terus untuk belajar, yang rajin ke sekolah demi capai masa depanmu. Saya yakin akan ada hal2 yang indah menunggumu.”

Suntikan semangat itu melengkapi foto Kim Jeffrey Kurniawan di Instagram pada 30 Maret 2017. Dalam foto tersebut, gelandang Persib Bandung itu memamerkan jersey klubnya.

Tapi, nama di atas nomor punggung 23 bukan Kim. Yang tertulis di sana malah Yanuarius. Dia adalah seorang bocah Asmat di pedalaman Papua sana.

Lewat Book for Papua-lah Kim ”menemukan” Yanu. Persisnya melalui foto yang diunggah Satrya Said melalui akun pribadi dan akun Book for Papua. Di foto tersebut, bocah kelas I SD itu mengenakan kostum Persib yang dibelikan sang mama.

”Ada yang mention ke Kang Emil (Ridwan Kamil, wali kota Bandung) dan para Bobotoh. Dari sanalah donasi akhirnya mengalir untuk Yanu, termasuk dari Kim,” kata Satrya di drop point Book for Papua di kawasan Jalan Citarum, Surabaya, pada Selasa lalu (27/6).

Empat tahun sudah Satrya bersama tiga rekannya, Arum Ratna Pratiwi, Roslina Ginting, dan Bingar Subari, menjalankan Book for Papua. Dari home base di Surabaya, mereka menjalankan komunitas yang berkomitmen mengabdi untuk pendidikan di Papua itu.

Konsep awal komunitas tersebut hanya menyebarkan buku-buku, baik bekas maupun baru, ke Papua. Buku-buku itu didapat dari donasi masyarakat.

Tapi, setelah melihat langsung kondisi di Papua, empat anak muda itu melihat bahwa membuat perpustakaan saja tidaklah cukup. Akhirnya, dengan segala upaya, mereka mewujudkan kelas baca dan tulis.

Saat ini Book for Papua telah membuat enam rumah baca dan dua kelas baca-tulis. Untuk kelas baca-tulis, mereka melibatkan relawan dari gereja dan peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T).

BACA  Eks Terpidana di Kasus Munir Meninggal Dunia

Keempatnya dipersatukan kesukaan pada traveling. Khususnya mendaki gunung. Di luar Satrya, tiga anggota komunitas itu sehari-hari merupakan perawat. Mereka bekerja di dua rumah sakit swasta di Surabaya. Sedangkan Satrya yang pernah berkuliah di Jogjakarta sehari-hari berdagang.

Kalau kemudian Papua yang dipilih, kata Satrya, sang inisiator, itu karena kondisi pendidikan di sana paling buruk bila dibandingkan dengan seluruh daerah di Indonesia.

Seorang pastor yang berkawan dengan Satrya sempat menyebutkan, memberikan bantuan ke Papua ibarat memberikan setetes air kepada orang yang kehausan. ”Saya dapat cerita dari pastor tersebut bahwa di Papua kalender bekas saja bisa dijadikan buku tulis bagian belakangnya. Dari situlah, saya terpacu untuk melanjutkan membuat perpustakaan seperti yang dulu saya lakukan semasa kuliah di Jogjakarta,” kenangnya.

Satrya lantas ”mengompori” temannya yang lain. Arum orang yang pertama diajaknya.

Arum mengaku bersedia diajak Satrya karena ”panas” setelah sahabatnya itu bilang, ”Masak hanya mendaki gunung di Jawa.”

”Eh, akhirnya saya bisa sampai Papua, meskipun akhirnya tidak bisa traveling karena di sana harus ngurusi anak-anak. Tapi, setiap sudut Papua itu indah, jadi tetap merasa traveling,” katanya.

Perempuan kelahiran Mojokerto itu lantas mengajak dua orang kawan yang juga perawat, Roslina dan Bingar. Selain mengumpulkan dan mengirimkan buku serta mendirikan rumah baca-tulis, Book for Papua turut mencarikan dana untuk para bocah Papua berbakat. Yakni, yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Robert Um salah satunya. Ketika donatur yang akan menanggung biaya sekolah Um sudah didapat, sang ibu ternyata tidak rela dia keluar dari kampung mereka yang ada di pedalaman hutan Asmat. Untuk melanjutkan SMP di Merauke. Saat itulah, muncul Yanu yang menjadi semacam ”ice breaker” alias pemecah ketegangan berkat kaus Persib yang dikenakan tadi.

Bocah lain yang juga dibantu untuk melanjutkan pendidikan adalah Musa Ilintamon.

Dua orang tua pemuda asal Yahukimo itu sudah lama meninggal. Selama ini Musa diasuh neneknya, yang kemudian meninggal setahun lalu.

BACA  Tito Karnavian Tak Segan Beri Sanksi Kepala Daerah yang Tak Netral

Ketika lulus SMP, dia sudah memilih merantau. Dari pedalaman Yahukimo ke Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Ketika merantau itu, dia harus berjalan kaki 16 hari.

Melewati tiga kabupaten, menembus kawasan Pegunungan Jayawijaya. Untuk bisa bersekolah di SMA Negeri 1 Tiom, Musa harus bekerja kepada orang. Mengurus rumah orang plus ternak-ternaknya.

Nah, ketika hendak lulus SMA, Musa sempat bertemu relawan Book for Papua yang punya agenda kegiatan di Tiom. Musa mengutarakan cita-citanya agar bisa melanjutkan kuliah. Book for Papua lantas menemukan orang yang siap membiayai Musa kuliah di Medan.

Musa jelas sangat girang. Bahkan, dia mengutarakan siap menabung agar tak begitu memberatkan orang yang membantu.

Tapi, Tuhan berkehendak lain. Belum sempat Musa merasakan bangku kuliah, dia berpulang. ”Dia meninggal hanya gara-gara infeksi dari luka yang ada di kakinya,” ujar Arum Ratna Pratiwi, anggota komunitas Book for Papua lainnya.

Begitu mengingat cerita Musa, Arum merasa ingin berontak. Sebab, sebagai seorang perawat, dia tahu sebenarnya luka di Musa itu tak membahayakan nyawanya jika ditangani dengan baik. ”Itu karena akses kesehatan yang tidak memadai di sana,” ujarnya.

Selama empat tahun berkiprah, mereka merekam begitu banyak kondisi memprihatinkan di Papua. Banyak sekolah di pedalaman yang vakum. Tidak ada murid. Guru-guru juga jarang datang. Entah karena malas atau memang akses ke sekolah yang jauh dan sulit ditempuh.

”Ada gedung sekolah yang sudah empat tahun tidak terpakai. Ada juga guru yang datang hanya enam bulan sekali,” kata Satrya.

Di satu sisi memprihatinkan, di sisi lain, itu pula yang terus menyemangati Book for Papua untuk terus bergerak. Mengatasi berbagai kesulitan.

Selama ini Book for Papua kerap terkendala persoalan biaya untuk mengangkut buku-buku donasi. Karena itu, mereka lantas memilih Surabaya sebagai home base.

Sebab, pengangkutan buku ke Papua akan lebih murah jika dibawa dari Surabaya. ”Selama ini buku-buku ini sering kami bawa lewat kapal laut,” katanya.

Dari kapal laut, buku-buku itu didistribusikan ke pedalaman Papua. Ada yang dilanjut menggunakan speedboat, mengarungi lautan ganas, agar bisa mencapai pedalaman di Asmat.

BACA  Masyarakat Perlu Memahami Upaya Penanganan Covid-19

”Untuk kelas baca dan tulis, Satrya juga yang selalu ada di sana. Biasanya dia bisa 2–3 bulan keliling pedalaman Papua,” ujar Arum.

Satrya paling aktif karena memang yang paling punya waktu. Sejak Book for Papua berdiri, sudah belasan kali Satrya ke sana. Arum juga beberapa kali terjun ke medan berat Bumi Cenderawasih.

Para donatur datang dari berbagai lapisan. Biasanya para penyumbang itu tahu aktivitas Book for Papua dari media sosial. Nilai sumbangannya sukarela dan bisa diwujudkan dalam beragam bentuk.

Belakangan donasi bukan hanya buku. Tapi, juga alat tulis, seragam, baju bekas, hingga obat-obatan. Satrya dkk menerima baju bekas karena bagi anak-anak pedalaman Papua, perkara sandang sangatlah berharga.

”Disimpan baik-baik dan hanya digunakan untuk ke sekolah atau ibadah di gereja,” ujar Satrya.

Satrya maupun Arum sama-sama mengakui, di Papua, mereka tak hanya ”memberi”. Tapi, juga mendapatkan banyak pelajaran berharga. Salah satunya kejujuran.

Misalnya, dari bocah bernama Lepinus yang harus menambang pasir hanya agar bisa melanjutkan sekolahnya di sebuah SD swasta. Uang dari keringatnya ditabung di sebuah celengan. Benda berharga itu disimpan di kamar dengan ditutupi tumpukan kerikil.

”Uang dalam celengan tersebut ternyata 700 ribu. Sebenarnya uang itu akan digunakan untuk melunasi tunggakan sekolah, tapi tak pernah cukup karena sering diambil untuk makan saat pasir yang ditambangnya tidak laku dijual,” cerita Arum.

Book for Papua akhirnya berhasil mengumpulkan donasi untuk membayar uang sekolah Lepinus. Plus membelikan seragam. ”Dia ke sekolah telanjang kaki. Kami pun sempat mengajak dia beli sandal untuk ke sekolah, tapi dia tidak mau,” ujar Arum.

Lepinus ternyata ingin sekali punya sepatu bola. Tapi, tidak mau diberi begitu saja. Dia hanya ingin ditambahi uang untuk membeli sepatu bola. Dia ingin membeli barang berharga dari keringatnya sendiri. ”Kepolosan dan kejujurannya itulah yang membuat kami sangat terharu,” kata Arum. (*/c10/ttg/hg)


Komentar