Senin, 17 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



FAO Bidik Pengembangan Lahan Marginal di Indonesia, Untuk Apa?

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Sabtu, 19 Agustus 2017 | 01:00 AM Tag: ,
  Ilustrasi (Anwar Basalamah/Radar Kediri)

Hargo.co.id – Food Agriculture Organization (FAO) mulai tahun 2017 melirik Indonesia untuk bekerja sama dalam program pengembangan lahan marginal. FAO siap bersinergi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rangka pengembangan jagung di lahan marginal yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur sekaligus Koordinator Program Upaya Khusus (UPSUS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ani Andayani mengatakan sinergi ini didukung oleh model Conservation Agriculture yang tengah diimplementasi FAO untuk menjaga keberlanjutan kesuburan tanah. Salah satunya untuk meningkatkan produksi jagung.

“Produksi jagung di NTT sangat cocok disinergikan dengan model Conservation Agriculture yang dijalankan FAO. Menjadi wadah yang tepat untuk mengimplementasikan model tersebut, sehingga hasilnya dapat dilihat langsung dari pemanfaatan lahan marginal dan besarnya produksi jagung,” kata Ani dalam keterangan tertulis (18/8).

Model Consevation Agriculture bertujuan meningkatkan kesuburan tanah melalui optimasi kelembaban tanah, efisiensi pemanfaatan air tanah, penggunaan bahan organik untuk kesuburan tanah. Oleh karena itu, menurut Ani, sinergi Kementan dengan FAO ini sangat positif untuk penerapan inovasi dan teknologi bagi pelaksanakan program UPSUS peningkatan produksi jagung di NTT dan NTB yang lahan pertaniannya relatif kurang subur dan banyak memiliki lahan terlantar atau dikenal lahan marginal.

“Karena itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementan yang bekerja sama langsung dengan FAO dapat mengsinergikan model Conservation Agriculture untuk pengayaan inovasi dan teknologi yang dihasilkan, sehingga lahan marginal dapat dimanfaatkan sepenuhnya khususnya untuk menghasilkan jagung menuju swasembada” jelasnya.

Konsultan FAO, Joseph Viandrio mengatakan sinergi model Conservation Agriculture dengan Program UPSUS merupakan langkah yang tepat untuk mempercepat pencapaian swasembada jagung. Dia mengungkapkan Program UPSUS khususnya di NTT berhasil meningkatkan pengembangan produksi jagung. Hal ini terlihat dari adanya penambahan luas lahan, bantuan insentif ke petani meningkat yakni berupa benih, pupuk, dan alat mesin pertanian serta perbaikan irigasi.

“Selain itu, sistem dan mekanisme pelaporan Program UPSUS sudah bagus. Dengan sistem dan mekanisme ini, model Conservation Agriculture dapat dengan mudah diimplemetansikan dan diadopsi para petani,” ungkap Joseph.

Perlu diketahui, berdasarkan data BPS, realisasi luas tanam jagung di NTT pada musim tanam Oktober hingga Maret 2015/2016 sebesar 289.112 hektar. Kemudian, luas tanam jagung pada musim tanam Oktober hingga Maret 2016/2017 sebesar 324.501 hektar. Realisasi luas tanam Oktober hingga Maret 2016/2017 ini melebihi target yang ditentukan 268.056 hektar.
Sementara luas lahan jagung NTT sebelum Program UPSuS pada musim tanama Oktober-Maret 2013/2014 hanya 248.979 hektar.

(ika/JPC/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar