Rabu, 25 Maret 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Festival Apangi: Habiskan 2 Ton Tepung Beras 

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo , pada Kamis, 20 September 2018 Tag: ,
  

Hargo.co.id, GORONTALO – Festival Apangi yang digelar masyarakat Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo benar-benar spektakuler. Event tahunan setiap malam 10 Muharram itu tak hanya menyajikan ribuan buah kue apangi (Ind: Kue Serabi,red). Keikutsertaan dan partisipasi masyarakat secara swadaya menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam festival apangi.

Pada tahun ini, lebih kurang ada 100 ribu buah kue apangi yang disiapkan oleh masyarakat Dembe I. Kue-kue tersebut dibuat secara swadaya oleh masing-masing Kepala Keluarga (KK).

Kue yang memiliki cita legit dan manis itu sajikan di 54 posko. Setiap posko menyediakan 1.500 hingga 2.000 buah kue apangi. Setiap pengunjung dipersilakan untuk menikmati kue apangi yang disajikan. Bahkan ada pula yang disiapkan untuk dibawa pulang.

Untuk membuat 100 ribu buah apangi, lebih kurang 2 ton tepung beras disiapkan masyarakat Dembe I. Jumlah tersebut diasumsi dari jumlah kue apangi yang dibuat masyarakat per kilogram tepung beras. Satu kilogram tepung beras bisa menghasilkan 50-60 buah kue apangi. Kebutuhan itu belum termasuk kue apangi berukuran ‘raksasa’, yang memiliki diameter lebih kurang 1 meter.

Untuk gula merah kebutuhannya bervariasi. Berkisar 1- 3 kilogram gula merah yang dibutuhkan setiap KK dalam menyajikan kue apangi yang dibuat.

“Jumlah kepala keluarga di Kelurahan Dembe I sekitar 1.700-an KK atau 4.124 warga dengan jumlah hunian 854 rumah,” ujar Lurah Dembe I Adriyun Katili.

Menurut Adriyun Katili, festival apangi sudah berlangsung secara massal beberapa tahun terakhir. Hal itu dilakukan untuk memperkenalkan identitas Kelurahan Dembe I ke masyarakat luas.

“Jika ketupatan ada di Kampung Jawa, malam qunut dengan makan kacang wau lutu di Batudaa dan Maulid Nabi dengan festival Walima di Bongo. Nah Di Dembe I ini 10 Muharram ada festival apangi,” ungkap Adriyun Katili.

Inovasi ini, menurutnya, akan terus dijaga.
“Masyarakat Dembe I sudah diberdayakan, tinggal bagaimana kita menjadikan ini sebagai tradisi. Dengan modal kelurahan Pariwisata, maka sangat tepat dibuatkan satu identitas seperti ini,” urai Adriyun Katili.

Lebih lanjut Adriyun Katili mengutarakan, pada festival apangi 2018 suguhan yang ditampilkan agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini tak hanya menampilkan kue apangi saja. Tetapi turut pula ditampilkan produk kerajinan masyarakat Dembe I.

“Seperti upiah karanji, kain karawo maupun berbagai kerajinan masyarakat kita tampilkan. Ini bertujuan untuk memperkenalkan bahwa Dembe I memiliki banyak potensi bernilai ekonomis,” ujar Adriyun Katili.

Ketua Dekot Gorontalo Febriyanto Koniyo yang turut hadir pada festival apangi menekankan, harus ada sinkronisasi Festival Otanaha dan Festival Apangi.
“Sehingga lokasi Dembe I bisa lebih meriah lagi di tahun-tahun mendatang,” ujar Fedriyanto.

Pria yang akrab disapa FYK itu melanjutkan, tahun depan akses jalan dapat diperbaiki untuk mempermudah akses masyarakat untuk menjangkau lokasi festival.

“Kita harus sadar akan potensi pariwisata di Kota Gorontalo ini. Dembe I ini sangat potensial untuk kita kembangkan wisatanya agar lebih mendunia dna menjadi kunjungan wisatawan baik nasional maupun internasional,” terangnya.

Di sisi lain, antusiasme warga untuk datang dan menikmati festival apangi tak sejalan dengan akses jalan menuju lokasi tersebut. Kondisi jalan yang sempit dan berkelok-kelok membuat arus lalu lintas mengalami kemacetan.

Pantauan Hargo.co.id (Gorontalo Post Grup), selepas magrib sekitar pukul 16.30 arus lalu lintas menuju ke Kelurahan Dembe I mulai meningkat. Para peseda motor mulai membanjiri jalan menghubungkan Kota Gorontalo-Batudaa, Kabupaten Gorontalo itu. Puncaknya sekitar pukul 19.30 wita.

Warga yang sudah memadati setiap posko di tepi jalan Kelurahan Dembe I membuat arus lalu lintas padat merayap. Kendaraan yang bergerak dari arah Batudaa harus rela antre dan mengular. Kondisi serupa juga terjadi untuk arus lalu lintas dari pusat Kota Gorontalo menuju Kelurahan Dembe I.

Festival Apangi bermula dari kebiasaan masyarakat Dembe I menyambut puasa Hari Asyura 10 Muharram. Kala itu masyarakat mengantar kue apangi (serabi) ke masjid sebagai sajian buka puasa untuk orang yang berpuasa.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat secara gotong royong membuat perayaan lebih besar untuk menyambut datangnya 10 Muharram.

“Festival apangi juga bukan hanya sebatas serimonial biasa, melainkan suatu ajang yang dapat mempererat silaturahim antara masyarakat serta sanak keluarga yang tidak berkesempatan berkumpul bersama pada hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha,” ujar Adriyun Katili.

Pelaksanaan festival apangi secara massal terus tumbuh. Pada 2016 masyarakat menyediakan sekitar 26.000 apangi dan pada tahun 2017 meningkat tiga kali lipat dari sebelumnya menjadi 70.000 apangi.(ndi/afni/dela)