Rabu, 18 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Festival Danau Limboto, Budaya Lokal Diekspos Total

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 22 September 2017 | 14:54 Tag: , ,
  

Hargo.co.id Gorontalo – Perhelatan Festival Pesona Danau Limboto (FPDLP) kian mempertegas niatan Pemkab Gorontalo menjadikan Danau Limboto sebagai destinasi wisata unggulan Gorontalo. Kemarin (21/9) bertempat di pesisir Danau Limboto, festival yang bakal berlangsung 21-25 September ini, mampu menyedot puluhan ribu pengunjung. Baik dari Kabupaten Gorontalo, daerah tetangga hingga berbagai daerah di Indonesia.

Yang tak kalah menarik dari perhelatan ini, adalah carnaval budaya multi etnik yang diikuti ribuan warga dari seluruh Kecamatan se Kabupaten Gorontalo. Masing-masing kecamatan menampilkan dua budaya lokal yang khas di daerahnya masing-masing.

Contohnya, dari Kecamatan Limboto menampilkan Ratu Tolangohula dan Longgo Dewasa. Dari Kecamatan Limboto Barat menampilkan Hadra dan Roda Sapi lengkap dengan hasil kebun. Ada juga penampilan Tenggedi Dewasa dan Tinilo Lo Paita dari Kecamatan Pulubala. Ke ujung Kabupaten Gorontalo, yakni dari Kecamatan Asparaga menampilkan carnaval atraksi suku polahi.

Uniknya bukan hanya budaya lokal yang ditampilkan, ada juga budaya-budaya dari luar Gorontalo seperti atraksi reong Ponorogo dari Kecamatan Boliyohuto.

Kemeriahan festival yang turut dihadiri sejumlah kepala daerah se-Indonesia itu ditambah dengan penampilan karnaval karawo masing-masing SKPD. Seluruh SKPD berlomba-lomba menampilan kreasi karawo, dengan mengusung tema penyelamatan danau Limboto. Tema ini tercermin lewat konsum-kostum karawo yang digunakan, yang banyak menampilkan kostum burung, ikan, dan maleo.

Untuk mencuri perhatian, beberapa SKPD bahkan membuat atraksi yang mengundang atensi dari hadiri. Contohnya dari Satpol PP Kabupaten Gorontalo, yang membuat aksi teatrikal yang memperlihatkan cara-cara mereka dalam menindak pelanggar-pelanggar Perda, seperti orang mabuk, hewan lepas, hingga pasangan kumpul kebo.

Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo selaku tuan rumah menjelaskan festival tersebut sengaja dibuat seheboh mungkin, sebagai langkah untuk mengajak seluruh masyarakat Gorontalo untuk peduli terhadap kelestarian danau Limboto, juga untuk pengembangan sektor pariwisata lokal yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat ditingkat bawah.

Wakil Bupati Gorontalo Idris Rahim mengakui Kabupaten Gorontalo menjadi salah satu daerah di Gorontalo yang selalu melakukan perubahan disektor pariwisata, sehingga berdampak pada bagi Provinsi Gorontalo.

Pemerintah provinsi sendiri jelas Idris terus mendorong revitalisasi danau, sebab tegasnya danau Limboto tak sekedar tentang pesonanya saja, tetapi peranannya jauh lebih besar, baik itu pada ekologinya, sebagai peternakan itik , sumber air baku, dan juga sektor perikanan.

“Oleh karena itu kita harus lestarikan danau ini, salah satunya dengan cara seperti ini,” kata Idris Rahim.

Dari kementerian Pariwisata RI juga memberikan apresiasi yang sama. Kepala Biro Hukum Kementerian Pariwisata Iqbal Alamsjah mengatakan apa yang dilakukan Kabupaten Gorontalo wajib untuk menjadi contoh untuk daerah lain, khususnya mereka yang memiliki danau. Karena itulah kementerian Pariwisata siap memberikan bantuan, dan suport atas acara-acara di Kabupaten Gorontalo.

“Ini cara yang tepat sebagai ajang promosi, apalagi ada bumbu-bumbu adat dan budaya, benar-benar membuktikan Gorontalo sebagai surga pariwisata,” tutur Iqbal.

Hal sama juga disampaikan Dirjen Capil Kementerian Dalam Negeri, Prof Zudan Arif Fakhrullo. Mantan Penjabat Gubernur Gorontalo mengatakan, Kabupaten Gorontalo sudah membuktikan keseriusannya dalam penyelamatan danau Limboto.

“Saya betul-betul mengapresiasi kegiatan ini, apa yang dilakukan Kabupaten Gorontalo sangat luar biasa,” ujarnya.

Terlebih lagi tambah Zudan agenda tersebut dibarengi dengan pembentukan Satgas Revolusi mental di 53 desa se Kabupaten Gorontalo. Memang diakui Zudan banyak daerah yang sudah memulai gerakan yang sama, namun baru Kabupaten Gorontalo yang melakukan pembentukan Satgas dari tingkay desa.

“Satgas yang berasal daerah desa merupakan, satgas gerakan revolusi mental pertama di Indonesia. Ini perlu kita dorong ke seluruh Indonesia, nanti Kabupaten/kota di Gorontalo juga mengikuti.Sehingga provinsi Gorontalo ini menjadi model dalam pengembangan satgas di Indonesia,” tambah Zudah.

“Karena untuk menggerakkan revolusi metal, tidak boleh hanya berhenti di SKPD. Tetapi harus dimulai di masyarakat desa, karena inti pemerintahan itu ada di desa,”sambungnya lagi.
Sementara itu sejumlah pejabat baik dari dalam daerah, maupun dari pemerintah pusat tampak menghadiri pembukaan.

Diantaranya Staf Ahli Menteri Ekonomi PMK RI Hazwan Yunas, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Nyaman Syudihida, Wakil Bupati Gorontalo Idris Rahim, Kapolda Gorontalo Brigjenpol Rachmat Fudail, Dandim 1304 Letkol (inf) Dadang Ismail Marzuki, Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga, Anggota DPR-RI Elnino Mohi, Pengcara Farhat Abbas, dan sejumlah pejabat lainnya. (nat/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar