Kamis, 21 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



FIP-UNG Perdalam Pengetahuan Tentang Jurnalis

Oleh Jamal De Marshall , dalam Edukasi Gorontalo , pada Selasa, 10 Maret 2020 | 23:05 WITA Tag: , ,
  Wakil Direktur Gorontalo Post Kristina Femmy Udoki (jilbab putih-hijau) foto bersama peserta pelatihan jurnalistik bertajuk “Simak, Pahami, Tuangkan, Publikasikan” di Aula FIP-UNG, Selasa (10/03/2020). (foto istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Seharian penuh, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo (FIP-UNG) mendalami pengetahuan teori dan praktek kegiatan pers saat agenda pelatihan jurnalistik, Selasa (10/03/2020). Mereka tidak hanya dilatih cara menulis yang baik, tetapi juga diajari manajerial pers, jenis-jenis berita dan teknik pengambil gambar dalam karya jurnalistik.

Hadir sebagai pemateri yakni Wakil Direktur Gorontalo Post, Kristina Femmy Udoki dengan tajuk Manajemen Pers, Pemimpin Redaksi Gorontalo Post, Jitro Paputungan dengan materi Teknik Menulis Berita dan Wawancara, Direktur Barakati.id Ronald S Bidjuni dengan materi Fotografi Jurnalistik dan Reporter CNN Indonesia TV Ajis Halid dengan materi Jurnalistik Televisi.

Femmy menjelaskan, manajemen media massa yang profesional kunci keberhasilan lembaga pers. Hal itu pula yang berusaha dilakukan Gorontalo Post sehingga selama 20 tahun ini bisa terus eksis menyebar informasi dan melakukan edukasi publik lewat pemberitaan-pemberitaan di koran.

BACA  Tak Ada Acara Malam Tahun Baru di Pohuwato

“Salah satu kunci Gorontalo Post bisa bertahan di tengah derasnya persaingan media massa karena konsisten mengedepankan berita yang menggalih kearifan lokal,” ujarnya.

Jitro Paputungan mengupas lebih dalam teknis penulisan berita yang dimulai dari penjabaran rumus kuno India terkait penulisan berita yang dikenal singkatan 5W + 1 H dan pola penulisan piramida terbaik. Selain itu, ia mengurai panjang teknik wawancara, jenis berita, dan fungsi profesionalitas wartawan sebagai kontrol sosial.

“Awal yang berat dalam menulis berita memang menjadi tantangan pertama yang harus dilewati. Caranya adalah pahami isu yang akan ditulis, lengkapi data dan konfirmasi narasumber dengan mencatat dan merekam. Tulislah dengan jujur sesuai apa yang dilihat dan didengar,” kata Jitro Paputungan.

Ronal menerangkan, fungsi, syarat, teknik foto jurnalistik, dan keunggulan dalam foto sebagai berita dalam bentuk gambar. Pemilihan foto harus lebih selektif dan harus memenuhi kaidah jurnalistik dan norma yang berlaku di masyarakat.

BACA  Hingga 3 Januari 2021, Gorontalo Utara Tutup Seluruh Destinasi Wisata

Ajiz mengatakan, untuk teknis kerja reporter TV punya alurnya. Prosesnya dimulai dari persiapan, peliputan hingga penayangan. Selama peliputan, peralatan wajib dan peralatan pendukung harus disiapkan.

“Semua prosesnya bertalian. Teknik pengambilan gambar dan kontrol suara dalam peliputan, editing video sangat menentukan kualitas hasil karya jurnalistik yang menarik,” ujarnya.

Pelatihan jurnalistik FIP UNG mengambil tajuk “Simak, Pahami, Tuangkan, Publikasikan” dan mengikutsertakan 28 mahasiswa perwakilan dari lima jurusan/program studi di FIP UNG. Skedul tersebut sekaligus juga dirangkaikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara FIP dengan Gorontalo Post dan Barakati.id.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIK UNG, Rustam Husain mengatakan, kegiatan ini adalah implementasi dari visi-misi Rektor UNG untuk meningkatkan kemampuan lulusan yang unggul dan berdaya saing. Dari pelatihan ini, mahasiswa bisa diharapkan tidak saja paham mengenai seluk beluk dunia pendidikan, tetapi memiliki kompetensi jurnalistik sebagai karir alternatif bagi mahasiswa setelah lulus nanti.

BACA  Ibadah Natal di Kota Gorontalo Patuhi Protokol Kesehatan

“Kami harapkan lulusan FIP tidak hanya berorientasi menjadi guru, tetapi bisa memilih karir dibidang jurnalistik dengan menuangkan melalui tulisan, artikel dan berita,” ujar Rustam.

Dekan FIP UNG Arwildayanto mengatakan, pelatihan jurnalistik punya manfaat besar. Ini juga merupakan wujud implementasi amanat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim yang mencetuskan ‘Merdeka Belajar’.

Menurut Arwildayanto, mahasiswa memerlukan kompetensi beragam dengan mendapatkan berbagai sumber belajar yang luas sesuai dengan bakat dan minat, serta harus dipersiapkan karir alternatif selain ilmu yang didapatkan selama di bangku kuliah.

“Mudah-mudahan kedepan peserta pelatihan jurnalisti kini dapat lebih mengembangkan minat dan kemampuan menulis serta dapat memilih karir alternatif menjadi jurnalis atau wartawan di berbagia Media,” katanya. (and/hg)


Komentar