Sabtu, 5 Desember 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Gagal Paham Fungsi Juru Bicara

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Rabu, 19 Agustus 2020 | 13:30 WITA Tag: ,
  Noval Talani


Oleh: Noval Talani

‘Bersangkutan kan belum teruji, tidak memiliki pengalaman sebagai kepala daerah, hanya sebatas mencalonkan saja, jadi ya tidak paham lah soal kerja-kerja kepala daerah, biasalah, dibalik kesuksesan pasti ada yang tidak sukses, yang bersangkutan kan tidak pernah sukses menjadi kepala daerah’.

KUTIPAN di atas merupakan pernyataan Juru Bicara (Jubir) Gubernur Gorontalo, Noval Abdussamad yang diberitakan oleh salah satu media. Pernyataan di atas sungguh memalukan dilakukan oleh seorang jubir pemerintah karena bersifat sarkasme (sangat kasar). Saudara Noval ini gagal paham dengan posisinya sebagai jubir atau sebagai buzzer.

Pertanyaan saya sederhana “apakah pernyataan publik yang dikemukakan jubir itu merupakan konstruksi pemikiran Pak Gubernur?”. Jika jawabannya “Iya”, betapa menyedihkan provinsi yang bangga disebut Serambi Madinah memiliki Gubernur yang begitu memalukan pernyataannya. Sebab makna sarkasme dari pesan yang disampaikan itu telah melecehkan dan merendahkan martabat seseorang serendah-rendahnya. Dan yang paling mengerikan makna konotatifnya mengandung kesombongan dan keangkuhan.

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Namun, jika jawabannya “Tidak”, berarti sang jubir telah melenceng jauh dari fungsinya. Ia telah mengeluarkan pernyataan publik yang bersifat politis sarkasme sebagaimana layaknya seorang politisi menyerang lawan polik. Padahal, jika sedikit memahami fungsi jubir itu adalah kepanjangan lidah dari seseorang, kelompok, atau organisasi yang mengutus atau menugaskannya.

Perlu dicatat bahwa seorang jubir harus memiliki wawasan yang luas dan memahami permasalahan atau informasi yang akan disikapi oleh orang, kelompok atau organisasi yang diwakilinya. Selain memiliki kemampuan komunikasi politik atau publik yang mumpuni. Bagi saya pribadi, contoh jubir terbaik dari ranah pemerintahan itu adalah Daniel Sparingga dan Julian Aldrin Pasha. Keduanya adalah jubir di zaman Pak SBY.

Setiap kritik tajam yang ditujukan kepada pemerintah maupun personal Presiden SBY, keduanya mampu menunjukkan kualitas diri mereka menjalankan fungsi jubir. Mereka mampu menjelaskan secara sederhana persoalan atau informasi yang dikomentari. Seorang jubir bukan hanya menyampaikan pesan dari pengutus atau penugasnya secara denotatif apa adanya, tetapi mampu mengelaborasinya menjadi sebuah pernyataan publik yang layak diterima masyarakat.

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Misalnya, pernyataan yang saya kutip di atas. Jika pernyataan tersebut memang keluar dari mulut Pak Gubernur, tentu sang jubir harus mampu mengelaborasinya menjadi pernyataan publik yang bijak. Contoh pernyataannya mungkin bisa menjadi lebih diplomatis “apa yang dikemukakan Pak Rustam Akili mungkin benar dari perspektif beliau. Tetapi dari perspektif eksekutif mungkin sesuatu yang keliru. Sebab dalam sistem pemerintahan, Wakil Gubernur memiliki tanggungjawab konstitusional untuk membantu Gubernur. Sehingga apa yang dilakukan Wakil Gubernur dapat dilihat sebagai kepanjangan kebijakan Pak Gubernur”.

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Sebuah pesan bukan hanya mengandung makna dari pesan itu, tetapi juga mengandung dimensi relasi. Di sini sang jubir begitu jumawa mempertontonkan sebuah relasi antagonis. Ia menempatkan orang lain secara marjinal, rendah, dan termasuk orang gagal. Sikap jumawa jubir ini tentu membangun persepsi buruk terhadap orang, kelompok dan organisasi yang diwakili. Pendek kata, pesan yang dikemukakan sang jubir menggambarkan betapa buruknya relasi Pak Gubernur dengan Pak Rustam Akili. Sebuah sikap yang tak patut ditunjukkan oleh seseorang yang dibayar dengan uang rakyat.

Seorang jubir memiliki otoritas penuh dalam mengelola informasi publik, apalagi mewakili sebuah institusi pemerintahan. Seorang jubir harus mampu membedakan posisi Gubernur sebagai seorang politisi dan kedudukannya sebagai kepala daerah. Saya mengamati, persoalan yang dikritik oleh Pak Rustam Akil. (***)

*) Penulis adalah seorang  akademisi


Komentar