Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



GORONTALO DI TAHUN 2050

Oleh Berita Hargo , dalam Features , pada Selasa, 14 Februari 2017 | 22:49 WITA Tag:
  


Penulis: Funco Tanipu

(Kepala Pusat Studi Kebijakan dan Anti Korupsi UNG)

SUATU HARI DI TAHUN 2050

Seorang anak terbaring lemas tak berdaya dipangkuan ibundanya, anak itu menangis karena seharian hanya disusui air putih oleh ibunya. Ayah dari anak itu adalah seorang pemungut sampah, golongan sudra jazirah ini. Ia tak punya pilihan, anaknya kehausan tak bisa menikmati susu yang dijual di gerai toko yang dingin dan nyaman.

Sudah mahfum bagi warga Gorontalo di kala itu, jika susu adalah barang langka dan mahal tak terkira. Di tahun 2050, harga susu lebih mahal daripada emas. Membasahi tenggorokan bayi lebih penting dibanding menghiasi diri dengan untaian emas. Di tahun 2050, orang Gorontalo yang punya gudang air sama seperti memiliki berhektar-hektar kebun kelapa, sawah, cengkih.

Tahun 2050 adalah tahun di mana angka gizi buruk semakin tinggi, signifikan dengan angka kematian ibu pasca melahirkan. Gizi hanyalah pelajaran yang diteorikan di ruang-ruang kelas saat itu. Bukan kenyataan!

Belum lagi jika merasakan suhu di tahun 2050. Gorontalo seperti disinari 5 matahari. Udara amatlah panas, banyak yang mati dehidrasi. Pendingin udara sangat mahal, hampir menyamai harga mobil. Mobil pun mengalami penurunan harga yang luar biasa. Warga tak sanggup lagi dengan harga premium yang mencekik. Maklum, 20 tahun sebelumnya, 2030, cadangan minyak Indonesia sudah memasuki titik kritis.

Gorontalo di tahun 2050 benar-benar memasuki masa darurat. Manajemen apapun yang diterapkan selalu ditentang warga yang lapar dan haus. Setiap pemerintahan dijatuhkan hanya dalam hitungan bulan. Tak ada lagi yang berminat memimpin Gorontalo. Gubernur bukan lagi rebutan di tahun 2050, karena dipastikan berhadapan dengan warga yang beringas. Di saat itu, tak ada lagi preman, semua warga tak ubahnya berkelakuan seperti preman, bahkan zombie: saling sikut, saling mangsa, dan saling rebut sumberdaya! Orang-orang kaya harus menyewa tentara bayaran bersenjatakan senjata mesin otomatis hanya untuk mengamankan sumberdaya yang masih ia miliki.

BACA  4 Fitur Baru Pembaruan WhatsApp, Baca di Sini!

Demokrasi bukan lagi resep menarik bagi warga untuk memperbaiki kenyataan. Tahun 2050, demokrasi sekarat, karena hanya untuk hidup pada hari itu saja, seluruh warga butuh perjuangan yang berdarah-darah.

MUNDUR KE TAHUN 2017

Maaf pembaca budiman-budiwati, cerita di atas tak sanggup saya lanjutkan. Sebagai gantinya, perkenankan saya ajukan pertanyaan sederhana: apakah kita akan mewariskan masa depan yang beringas untuk anak cucu kita? atau sedari sekarang masa depan itu kita rangkai, bagaikan menenun sebuah kain yang akan dijahit menjadi baju. Masa depan pada hakekatnya terbuka, masa depan karenanya adalah propabilitas. Sejuta kemungkinan dengan satu peluang.

Kita sadar bahwa cadangan harta bumi kita semakin tipis, namun sifat eksploitatif kita melebihi ketersediaan itu. Kontras dengan tingkah sebagian kecil warga yang sibuk mengurusi diri sendiri, mengatur penampilan di panggung kampanye, menggandakan cetakan senyum yang dipasang di tiap pohon dan perempatan jalan. Semua seperti tak pernah merasa jika umur manusia terbatas, termasuk sumber daya alam. Mereka hanyut dalam kerakusan yang tiada batas.

BACA  Saingi Zoom, Google Meet Tanamkan Fitur Baru Mirip

Gorontalo ini butuh perhatian dan keseriusan bersama. Harapan anak-anak masa depan ada pada kita, warga Gorontalo di bulan Februari tahun 2017. Pemilihan kepala daerah yang tinggal menunggu jam ini, sudah semestinya dijadikan momentum saling bicara antar sanubari. Setiap kandidat semestinya membuka diri, menyapa antar kandidat, membagi gagasan, merenungi kekurangan diri, mendiskusikan kebuntuan.

Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur terbaik adalah mempunyai potensi untuk mengubah Gorontalo kita, mengarahkan Gorontalo ini agar tidak mengarah ke jalan kebangkrutan. Kita butuh Pemimpin yang berkemampuan mengambil resiko, penakluk keterbatasan dan kelemahan, penerobos dinding-dinding kelaziman yang usang karena tak mampu beradaptasi dengan zaman.

Gorontalo ini butuh kerjasama, bukan pertikaian, apalagi kerakusan! Kita lebih memiliki memori sinisme, yakni memori yang terprogram secara kolektif melihat setiap hal dari sisi negatif saja. Misalnya, yang berkinerja baik dicerca, yang berhasil dipatahkan, yang mudah malah dipersulit. Memori kolektif ini membuat politik kita berada di posisi yang selalu kalah sebelum berkompetisi, politik kita berada di level terburuk sepanjang masa, karena politik bukan diperuntukkan mencari jalan keluar, tetapi mencari cacat cela. Politik bukan untuk mencari kebenaran, tapi mengincar dan menguliti kesalahan!

Padahal, jika kita tarik ke masa lalu, Gorontalo adalah jazirah yang memiliki modal sosial yang cukup berharga. Energi sosial-spiritual getarannya cukup kuat. Karena itu seharusnya bisa memberi perspektif dan arah lebih baik. Gorontalo dikelilingi titik kosmos spiritual yang masih tersisa dari era ketika Islam ditegakkan di tanah ini. Kita bisa mengenali jejaknya dari Ju Panggola, Syarief Rum Assegaf, Ta Ilayabe, Hubulo dan masih banyak nama lainnya yang bahkan lupa kita catat. Mereka bukanlah seonggok sejarah tak bernilai, nilai mereka ada pada derajat nuansa spiritual dibanding daerah di seputaran Tomini. Tak salah jika Gorontalo dijuluki Serambi Madinah, itu semacam niat, seperti doa. Apakah tradisi niat baik, ritual doa masa depan itu kita singkirkan saja? Tak ada masa depan tanpa harapan. Tiada hari esok tanpa doa bersama, semua warga jazirah ini.

BACA  Nikon Indonesia Resmi Tutup Lapak Hari Ini

Ancaman sudah di depan mata. Intensionalitas kita seperti diperkosa. Kebangkrutan budaya, perayaan modernitas dan kegenitan politik dengan segala kerendahannya menjadi pintu masuk untuk mewariskan musibah bagi anak cucu kita. Bahaya sedang menunggu kita di tikungan. Persis di situ, kita harus memenangkan masa depan Gorontalo, tak cukup satu jargon saja. Memenangkan masa depan Gorontalo harus dilalui dengan membenahinya, merawat harapannya, menyuntikkan nilai spiritualnya.

15 Februari 2017 tinggal menghitung jam, tetapkan pilihan anda untuk memenangkan masa depan Gorontalo. Kita berdoa semoga keberkahan melimpah untuk negeri kita ini, semoga Allah menggerakan dan menjadikan hari pemilihan besok menjadi starting point kebaikan bagi kita sekalian. Amin..

 


Komentar