Minggu, 9 Agustus 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Grafik Penularan Covid-19 Turun, Sejumlah Negara Longgarkan Pembatasan

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Minggu, 3 Mei 2020 | 00:05 WITA Tag: ,
  TAK LAGI TERLARANG: Pengunjung bermasker mengunjungi Kota Terlarang di Beijing, Tiongkok, Jumat (1/5). Bekas istana kaisar itu sudah kembali dibuka dengan pembatasan jumlah pengunjung. Selain itu, para turis wajib mengenakan masker (Mark Schiefelbein/AP)


Hargo.co.id, INTERNASIONAL – Untuk Anda semua pejuang di garis depan yang memerangi virus korona di seluruh dunia. Kalimat itu menjadi pengantar lagu You Are The Champion yang dirilis Queen dan Adam Lambert, Jumat (1/5). Versi baru lagu We Are The Champion yang dirilis pada 1977 tersebut dibuat untuk menggalang dana yang akan disalurkan ke COVID-19 Solidarity Response Fund milik Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Seperti halnya orang tua, kakek nenek, dan buyut kita yang berjuang dalam dua perang dunia, para pejuang pemberani di garis depan itu adalah jagoan baru kita,” ujar Brian May, gitaris Queen, sebagaimana dikutip Agence France-Presse.

Mereka yang berada di garis depan memang menjadi ujung tombak untuk melawan musuh yang tak kasatmata, virus SARS-CoV-2. Ratusan dokter, perawat, dan staf medis di berbagai penjuru dunia bahkan harus tumbang dan kehilangan nyawa. Namun, di saat bersamaan, mereka berhasil merawat para pasien hingga membaik.

BACA  Diragukan Menangani Covid-19 di Filipina, Rodrigo Duterte: Bunuh Semua Pasien

Seperti yang dilansir Jawapos.com, Berdasar data yang dirilis Johns Hopkins University, secara global sudah ada lebih dari satu juta pasien Covid-19 yang sembuh. Kabar baik itu datang bersamaan dengan kian bertambahnya negara dan kota-kota yang melonggarkan kebijakan karantina wilayah. Di antaranya adalah Malaysia dan Australia.

“Sebagian besar sektor ekonomi dan aktivitas bisnis akan diizinkan untuk beroperasi mulai 4 Mei,” ujar Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin dalam pidatonya saat Hari Buruh kemarin. Keputusan tersebut diambil karena angka penularan di negeri jiran itu terus turun.

BACA  Kamar Mayat Sampai Tidak Muat, Wabah COVID-19 di Amerika Makin Gawat

PM ke-8 Malaysia tersebut menegaskan bahwa keputusan itu diambil berdasar data di lapangan, nasihat dari Kementerian Kesehatan, protokol WHO, dan berbagai pertimbangan lainnya. Meski dibuka, bukan berarti semua bisa benar-benar normal. Ada prosedur operasional standar kesehatan ketat yang harus dipatuhi.

Beberapa industri dan aktivitas bisnis tetap ditutup karena bakal sulit menerapkan aturan jaga jarak. Misalnya, bioskop, tempat karaoke, pusat pijat refleksi, kelab malam, bazar Ramadan, bazar Idul Fitri, konferensi, dan pameran. Salat di masjid dan mudik Lebaran tetap tidak diperbolehkan.

Restoran yang besar dan memungkinkan untuk jaga jarak boleh buka. Pun demikian dengan olahraga yang tidak melibatkan orang banyak dan kontak fisik. Misalnya bersepeda, lari, badminton, dan golf.

Muhyiddin menjelaskan, pihaknya sudah bersiap seandainya ada kenaikan kasus lagi. Kemampuan Kementerian Kesehatan dalam menangani pasien Covid-19 sudah ditingkatkan. Termasuk juga fasilitas seperti tempat tidur, pusat karantina, pengobatan, ventilator, APD, dan berbagai hal lainnya. Malaysia siap menghadapi kemungkinan apa pun. “Jangan ceroboh, tetap waspada,” tegasnya.

BACA  Aman dari Ledakan, Kontingen Garuda di Lebanon Bergerak Bantu Korban

Setali tiga uang, Australia juga terus mengalami penurunan kasus. PM Australia Scott Morisson mengungkapkan bahwa Kabinet Nasional tengah meninjau ulang kebijakan karantina di negaranya. Seharusnya pelonggaran aturan akan dilakukan 11 Mei. Tapi, karena tren penurunan penularan, ada kemungkinan akan dimajukan pada 8 Mei. Beberapa negara bagian bahkan sudah memberikan kelonggaran sejak beberapa hari lalu.(jawapos/hg)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh Jawapos.com dengan judul yang sama. Pada edisi Sabtu, 2 Mei 2020

Komentar