Guru Bukan Buruh, Siswa Bukan Kerbau

Oleh : Katrina Hapili

MEMBACA pemikiran modern Yufal Harari Noah yang menempatkan vitalitas revolusi pemikiran sebagai motor peradaban menyadarkan kita tentang pentingnya guru yang andal. Sejauh mana mana daya kompetisi generasi masa depan menjawab tantangan bangsa sangat ditentukan oleh didikan dan asahan seorang guru.

Itu sebabnya ada adagium yang menandaskan bahwa orang hebat bisa melahirkan banyak karya bermutu, tetapi guru bermutu mampu melahirkan banyak orang hebat.

Merujuk prespektif religius, Nabi Muhammad, juga para nabi lainnya yang menjadi panutan dari berbagai agama sejatinya adalah seorang guru. Mereka adalah pendidik sejati yang membawa lentera pengetahuan hingga umat manusia menembus alam kegelapan dan hidup tercerahkan.

Di abad modern, historis kebangkitan Jepang pasca runtuhnya Hiroshima dan Nagazaki adalah contoh nyata bagaimana peran guru  begitu menentukan maju-mundurnya bangsa. Ketika Jepang porak-poranda akibat kekalahan melawan Sekutu dalam perang dunia II, mereka mulai membangun dengan pertama-tama menanyakan jumlah guru yang masih hidup.

Guru menjadi proyeksi awal hingga akhirnya kini Jepang menjadi salah satu negara super power rujukan teknologi dunia.

Di Indonesia, posisi guru juga sangat penting dan genting. Guru punya tanggungjawab melaksanakan amanat UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional.

Ketentuan itu mewajibkan pendidik dan tenaga kependidikan menjalankan tiga hal penting dalam pengajaran dan pendidikan; 1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; 2) mempunyai komitmen secara profesional meningkatkan mutu pendidikan; 3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Ketika memaknai aturan ini, jelas guru bukan tugas mudah, namun tugas mulia. Dan sebagai seorang guru, saya pun menyadari betapa amanah mulia itu begitu berat, tetapi wajib dijalankan. Pengalaman bertahun-tahun di depan kelas dan berhadapan dengan macam-macam karakter siswa, memberikan pelajaran betapa sulitnya tugas seorang guru sebagai pendidik anak bangsa.

Sebagaimana umumnya guru, dinamika pendidikan dan pengajaran yang saya temui pun selalu dihadapkan pada dua kutub karakter siswa: ada siswa yang pandai, santun dan aktif, namun tidak sedikit juga yang lambat daya serapnnya, malas belajar dan bandel.

Dalam kasus ini, ada ungkapan kuno dari So Hoke Gie, “Guru bukanlah dewa dan murid bukan kerbau”, maka disitulah guru harus bisa mengedepankan nilai “construction in education” saat berhadapan dengan ragam tabiat murid tanpa mempedulian dia penurut atau sebaliknya.

Hanya saja sulit bagi saya merepresentasekan pemikiran guru dalam mendeteksi akar dari persoalan ini. Mungkin saja fokus masalah satu guru belum tentu dianggap berlaku bagi guru lainnya karena perbedaan persepsi mengenai pembelajaran.

Namun sejauh yang pernah saya alami, ketika memposisikan diri sebagai pengajar yang jauh dari siswa, mereka para siswa akan terlihat seperti sebatas robot yang sekadar mengerjakan tugas mata pelajaran belaka. Selebihnya, kesadaran belajar tumbuh kerdil.

Apalagi bagi saya seorang guru Bahasa Inggris. Sangat dituntut kreatif agar siswa tertarik belajar. Tetapi ketika membangun kedekatan emosi dengan siswa dan berusaha memberikan contoh-contoh sederahana dalam materi ternyata mendorong semangat belajar siswa.

Yang terpenting bagi saya, optimisme guru harus tetap profesional dan tidak boleh apatis. Ketika terdapat siswa yang sering melawan, emosi guru tetap perlu dijaga sebagai pendidik.

Manakala berhadapan dengan perilaku negatif siswa, kebijakan dan kebijaksanaannya sangat dituntut. Guru harus tegas sekaligus ramah dan ‘haram’ untuk acuh tak acuh terhadap nasib siswa.

Guru dituntut mengajar dan mendidik dengan wawasan dan teladan sebagai komitmen demi menjaga marwah profesinya dan lembaganya.

Sekarang pula, bukan zamannya lagi mengenang spektrum pendidikan Indonesia, dimana guru yang mengajar di depan kelas, murid sekadar mendengarkan. Guru di abad ini memerlukan komitmen pada tujuan belajar, bisa mandiri dalam memilih cara belajar, serta memonitor proses dan hasil pembelajaran.

Maka eksistensi guru untuk terus dan terus belajar dalam meningkatkan kompetensinya menduduki peran penting. Mutu pendidikan bergantung pada kualitas dan kompetensi seorang guru.

Hal ini sejalan dengan tuntutan UU Nomor 14/2005 tentang guru dan dosen yang mewajibkan setiap guru memiliki empat kompetensi dasar. Dari kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial.

Komptensi pedagogik menuntut kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian diperlukan demi melihat kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap,  stabil, dewasa, arif,berwibawa dan berakhlak mulia.

Kompetensi profesional diharuskan dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, termasuk menyangkut struktur dan metodologinya.

Kompetensi sosial menuntut kemampuan guru berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, juga masyarakat sekitar.

Di samping kompetensi tersebut, yang harus dipahami juga bahwa guru yang pintar selalu dituntun mengajar dengan buku, tetapi guru terbaik mampu memadukan itu dengan sumber nurani. Tunai bakti seorang guru lebih dari sekadar soal transfer ilmu pengetahuan kepada setiap murid-muridnya, namun harus mendidik mereka.

Problem yang melanda dunia pendidikan di Indonesia saat ini, termasuk di Gorontalo antara lain karena masih cukup banyak guru yang terjebak pada model yang memposisikan dirinya sebagai pengajar, lalu lalai akan tanggungjawab mendidik karakter siswa.

Problem ini muncul karena cara pengajaran guru tidak lahir dari kesungguhan hati. Guru lebih dipandang sebagai profesi karir ekonomis dengan keahlian disiplin ilmu tertentu. Ekstrimnya, bisa dibilang, yang penting sudah mengajar, menuntaskan RPP dan terima gaji setiap bulan. Padahal amanah guru yang sejatinya adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Masa depan generasi bangsa melekat di pundak guru.

Itulah sebabnya tugas mendidik harus bangkit dari hati. Selain mengajar bidang ilmu tertentu, guru juga menjadi pembina dan teman bagi siswa dalam merangkai asa dan menjadi pribadi yang berguna.

Untuk tugas itu pun,  tidak mesti mengajar di bidang etika atau menjadi guru agama. Mengajar dibidang apapun, sesungguhnya setiap guru dapat menerapkan pendidikan bagi para muridnya, yakni mengajar dengan hati

Gagasan filosofis pengajaran ini sebetulnya puluhan tahun lalu telah ditancapkan Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan nasional. Mengajar dengan hati adalah satu-kesatuan dalam eksistensi tugas guru. “To educate the head, the heart, and the hand”. Dalam pendidikan, guru dituntut menerapkan pendidikan humanis dengan daya cipta, daya rasa dan daya karsa.

Tentu saja saya bukan guru terbaik. Di luar sana cukup banyak rekan-rekan guru lain yang lebih kaya wawasan dan pengalaman yang dapat dikutip teladannya. Namun di titik sadarnya, semua guru pasti merasakan betapa besar tanggung jawabnya.

Hal itu dapat dimengerti ketika kita memandang bahwa guru sebagai sebuah profesi yang bukan sekadar ladang ekonomi. Guru bukanlah buruh yang sekadar mengupayakan tujuan keuntungan materil individu dan organisasi.

Jauh di atasnya, ada tujuan mulia demi mencerdaskan anak bangsa. Mengubah anak didik menjadi cerdas dan berbudi baik adalah jawaban atas pertanyaan kenapa guru harus ada. (***)

(*) Penulis adalah Guru SMK Negeri 4 Kota Gorontalo

-