Selasa, 6 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Guruku Idolaku

Oleh Admin Hargo , dalam Persepsi , pada Kamis, 11 November 2021 | 20:05 Tag: , ,
  Sutarjo Paputungan, M.Pd.I

Refleksi Hari Guru Nasional

GURU adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif dalam kelas. Keberadaannya di tengah-tengah peserta didik dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan, dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para peserta didik. Kondisi seperti itu tentunya memerlukan keterampilan dari seorang guru, menyadari hal itu maka sayta menganggap bahwa keberadaan guru yang menjadi idola sangat diperlukan.

Guru dengan segala kelebihan dan kekurangannya memiliki peranan penting bagi peserta didik. Apapun pandangan peserta didik tentang guru, entah itu killer, kejam, pelit nilai, sabar, atau apapun itu sebutan, tetapi punya andil terhadap masa depan peserta didik. Tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari peserta didik. Setiap guru memiliki cara mengajar yang berbeda-beda. Ada yang sangat serius tanpa rasa humor, dan ada pula yang sangat humoris. Kalau kita tanya kepada peserta didik guru mana yang menjadi idola atau favorit mereka tentu jawabnya adalah guru yang mengajar dengan humor. Walaupun terdapat nuansa humor namun tidak menghilangkan nuansa keseriusan dan kedisiplinan seperti contoh Pak Djafar Muhammad, Kepala Rumpun jurusan listrik, Sudah diketahui bahwa materi pelajaran memiliki ciri yaitu membosankan dalam muatannya di mana ia  mengharuskan konsentrasi pikiran dan hati. Kita sebagai guru akan menemukan peserta didik menguras seluruh indranya untuk menguasai bahan pelajaran yang kita sampaikan.

Saat saya sekolah di jenjang SMA dulu namanya STM Cokroaminoto, Kotamobagu, (Sekolah Teknik Menengah)  ada sosok guru Jurusan Kelistrikan namanya Pak Djafar Muhammad.  Kalau melihat sosoknya maka akan menilai kalau beliau adalah guru yang galak. Kalau dilihat pelajarannya maka beliau guru yang membuat peserta didik tegang. Ternyata semua tebakan saya salah. Pak Djafar Muhammad, setiap masuk ke kelas langsung menyapa para peserta didik. Setiap peserta didik yang terlambat saat Pak Djafar Muhammad, sudah di dalam kelas maka akan selalu ditanya kenapa terlambat…? apapun alasan peserta didik, beliau tidak pernah marah, dan segera mungkin memberi kesempatan kepada peserta didik untuk masuk kelas dan belajar bersama teman-teman yang sudah ada di dalam kelas, serta melanjutkan apa yang sedang dilakukan, kemudian  timbul obrolan kecil penghantar pelajaran. Saat di STM Cokroaminoto Kotamobagu, saya memilih jurusan Listrik, sehinga  saat memulai pelajaran Kelistrikan juga peserta didik dibuat nyaman dengan candaan-candaan kecil di awal pembelajaran. Kemudian memberikan pertanyaan urut dengan menyebut nama kami satu persatu yang membuat kami lebih dekat dengan Pak Djafar Muhammad. Kalau jawaban kami benar maka akan ada pujian plus humor dari beliau. Kalau pun salah juga ada candaan yang membuat kami termotivasi. Pelajaran kelistrikan ditangan Pak Djafar Muhammad, menjadi pelajaran yang menyenangkan.

Pak Jufri Panigoro, guru dan sahabat, guru yang gaul menurut saya. Mudah bergaul dengan peserta didik dan bahkan akrab. Kami sering berkunjung ke rumah beliau untuk belajar tentang pelajaran listrik. Setelah selesai belajar, kamipun ngobrol santai sembari bercanda. Beliau sangat ramah. Saya sering disuruh menulis materi pelajaran Listrik di papan tulis. Karena tulisan saya lebih bagus daripada teman-teman. Setelah selesai menulis di papan tulis, saya langsung  menulis materi di buku tulis. Saat ini beliau telah menyelesaikan gelar Magisternya. Saya yang pernah sebagai anak didiknya sangat bangga memiliki guru bergelar Magister. Saya belajar dari beliau tentang bagaimana seorang guru mampu menempatkan diri sebagai seorang sahabat di hadapan peserta didik. Berbicara dengan bahasa anak muda. Tentu dengan batasan-batasan tertentu. Peserta didik akan lebih terbuka ketika guru mampu menjadi pendengar dan solusi bagi permasalahan anak didiknya.

Pak Adam Paputungan, guru yang mengajari saya jadi guru. Hal yang selalu saya ingat dan saya cerita ke anak didik saya di sekolah sampai hari ini. Pak Adam Paputungan adalah guru Matematika, Kebiasaan beliau ketika mengajar, adalah menyuruh peserta didiknya membaca buku terlebih dahulu sebelum beliau menjelaskan. Waktu baca kurang lebih 15 menit. Setelah itu beliau keluar kelas selama peserta didik membaca/belajar. Masuk lagi dan sering menyuruh saya maju menuliskan dipapan tulis. Saya diberi kesempatan menjelaskan materi semampunya. Seingat saya setiap pertemuan dua sampai tiga kali saya disuruh maju mengerjakan soal Matematika. Dan juga teman sekelas saya namanya Defi Dotulong, sekarang beliau sebagai TNI yang bertugas di Gorontalo, dulu saat saya maju menjelaskan atau mengerjakan materi di depan kelas, saya tidak merasa bahwa hal ini sangat berguna di masa depan. Hari ini saya sangat merasakan bahwa apa yang beliau ajarkan kepada saya, sangat berguna ketika saya guru.

Ibu Nurhayati Laneto, guru Pendidikan Agama Islam sekaligus guru spiritual saya. Beliau adalah orang spesial bagi saya. Beliau menemani saya dan teman-teman saya dalam keseharian di sekolah dan masjid sekolah. Setiap ba’da sholat Dzuhur, beliau memberikan halaqah tentang ilmu agama Islam. Kerangka yang beliau tanamkan kepada saya, sampai hari ini masih menancap kuat. Logika dan dalil menjadi satu yakni motto “Perjuangan membutuhkan pengorbanan yang besar, untuk itu janganlah berhenti berjuang sebelum berhasil”. yang saya selalu pakai dalam menyelesaikan setiap masalah sampai hari ini. Yakni Kerangka ideologis yang didasarkan pada agama. Saya belajar dari beliau bahwa jangan berhenti untuk belajar.

Terlalu singkat ruangan ini untuk menuliskan satu per satu tentang kontribusi guru kita. Canda atau humor yang dilakukan seorang guru adalah senda gurau dengan peserta didik tanpa mencela dan menghinanya. Bila dalam mengajar timbul kedekatan dengan peserta didik, maka kehadiran kita sebagai guru pasti akan selalu dinantikan dan ini yang dikatakan sebagai guruku Idolaku.

 

*Penulis adalah Pengiat Literasi, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPD AGPAII) Kota Gorontalo serta Guru PAI SMP Negeri 2 Kota Gorontalo.
(Visited 918 times, 1 visits today)

Komentar