Rabu, 23 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Harga Ayam Meroket, Mau Tahu Kenapa?

Oleh Jamal De Marshall , dalam Headline Metropolis , pada Kamis, 21 Juni 2018 | 15:04 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Salah satu hukum ekonomi yakni ketika permintaan tinggi maka harga pun bisa tinggi. Itulah yang terjadi pada penjualan ayam kampung dan ayam broiler menjelang Lebaran Ketupat.

Hasil liputan Hargo.co.id, Kamis (21/06/2018), di Pasar Limboto harga ayam broiler dan ayam kampung mengalami lonjakan. Harga ayam broiler mencapai Rp 90 ribu per ekor. Padahal sebelumnya harganya hanya Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per ekor. Sedangkan untuk ayam kampung kini mencapai Rp 125 ribu per ekor, yang mana sebelumnya hanya Rp 75 ribu per ekor.

BACA  Dreambox, Tempat Nongkrong Kekinian Berkonsep Mengenang Impian

Sesuai pantauan di Pasar Limboto, hampir semua pedagang ayam tidak pernah sepi dari pembeli. Bahkan ada juga warga yang harus antri menunggu, untuk bisa mendapatkan ayam yang sudah dalam keadaan dipotong. Alasannya, setiap pembeli, paling sedikit lima ekor, dan itu membuat harus antri.

“Saya sudah hampir dua jam antri. Jadi harus sabar, jika ingin kebagian. Saat ini yang banyak dijual ayam dari Manado dan Bitung,” kata Cindra pembeli yang berdomisili di Desa Ombulo, Limboto Barat.

BACA  Lagi, Kasus Dugaan Pencabulan Terjadi di Kabupaten Gorontalo

Hal serupa juga dikatakan oleh Yudin Rahmat, Warga Daenaa. Dirinya harus mempersiapkan makanan yang cukup banyak, karena setiap tahunnya pada lebaran ketupat, rumahnya menjadi tempat persinggahan keluarga baik yang jauh maupun yang dekat.

“Ya sudah menjadi hajatan rutin kami yang hanya setahun sekali. Jadi persediaan harus lebih dari cukup. Makanya selain daging dan ikan laut dan danau, harus diperbanyak dengan ayam potong,” tambahnya.

Sementara itu Arman salah satu pedagang ayam broiler atau ayam potong di Pasar Limboto mengungkapkan, naiknya harga dikarenakan stok yang ada hanya sedikit dibanding permintaan pasar. Apalagi saat ini hanya mengandalkan ayam dari luar kota yang harganya lebih tinggi dari pada tempat yang biasanya para pedagang mengambilnya.

BACA  Soal Hutang Piutang, Nama Sekda Dicatut, Masuk Materi Hak Angket 

“Kalau harganya tidak dinaikkan, berarti kita hanya sekedar kerja bakti, karena keuntungan hanya bisa membayar gaji anak buah saja. Tapi meski demikian, kita pun masih kewalahan untuk melayani pembeli, belum lagi ditambah dengan langganan rutin kami setiap hari,” tutupnya. (ded/hg)


Komentar