Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hari Ini, 28 Partai Perebutkan 13 Juta Suara

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 15 Maret 2017 | 15:30 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Berbayang kebangkitan populisme, Belanda menggelar pemilihan umum (pemilu) Rabu, (15/3). Hingga tadi malam (14/3), para pemimpin partai masih berusaha keras menarik simpati rakyat. Terutama, mereka yang sudah punya suara, tapi belum menentukan pilihan. Sejauh ini, partai Liberal VVD masih unggul dalam polling.

Perdana Menteri (PM) Mark Rutte memanfaatkan hari terakhir kampanye untuk berdebat dengan Geert Wilders. Dalam tayangan debat yang disiarkan secara langsung oleh stasiun-stasiun televisi Belanda itu, Rutte memperingatkan rakyat Belanda supaya tidak larut dalam efek domino populisme. “Mencuit dari sofa dan memimpin negara adalah dua hal yang sangat berbeda,” kata Rutte.

BACA  Jejak James Bond di Polandia Terungkap Lewat Arsip, Begini Tampangnya

Seperti Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Wilders yang merupakan pesaing terberat Rutte juga hobi menuangkan ide-idenya lewat Twitter. Sebagian besar cuitan politikus Freedom Party tersebut juga memicu kontroversi. “Saat Anda menjadi pemimpin sebuah negara, Anda harus menggunakan hati nurani dan kepekaan,” ungkap Rutte yang dikenal moderat.

BACA  Debat Capres AS: Badut Trump dan Biden yang Tidak Cerdas

Dalam debat langsung itu, Rutte menyatakan keinginannya untuk segera mengakhiri konflik dengan Turki. Sebaliknya, Wilders malah mengusulkan serangkaian kebijakan yang lebih tegas. Di antaranya, mengusir duta besar Turki dari Belanda. “Anda sudah tersandera (Presiden) Erdogan. Tutup semua perbatasan Belanda,” tegas politikus berambut ikal tersebut.

BACA  Presiden Donald Trump dan Istri Positif Covid-19

Hari ini sekitar 13 juta penduduk Belanda menggunakan hak pilih mereka. Mengingat ada 28 partai politik yang meramaikan pemilu kali ini, menentukan pilihan memang bukan perkara mudah. Selain Rutte dan Wilders, ada Jesse Klaver yang sedang naik daun. (AFP/Reuters/BBC/hep/c21/any) 


Komentar