Hasil Revisi Reviu, Hanya RS ZUS Gorut yang Turun Kasta

Hargo.co.id, GORONTALO  –  Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merevisi reviu kelas rumah sakit di Gorontalo. Sebelumnya ada tujuh rumah sakit yang direkomendasikan turun kelas, seperti RS Islam Gorontalo dari tipe D ke  D*,  RS MM Dunda Limboto dari B ke C, RS Ainun Habibie tipe C ke C, RS Zainal Umar Sidiki (ZUS) Gorut dari tipe C ke tipe D, RS Tumbulilato dari D ke D*, RS Bunda Kota Gorontalo dari tipe D ke D*, dan RSIA Siti Khadijah dari C ke C* (Tanda * merupakan kelas terendah rumah sakit). Kini dalam rekomendasi terbaru  nomor : YR.05.01/III/3787/2019 tertanggal 28 Agustus 2019, tersisa RS ZUS Gorut yang dinyatakan turun kelas tipe C ke tipe D, sementara enam rumah sakit lainya tetap pada tipe sebelumnya.

Revisi rekomendasi reviu kelas rumah sakit ini, dilakukan setelah Kemenkes RI memberikan masa sanggahan kepada seluruh rumah sakit yang sebelumnya dinyatakan turun kelas. Total seluruh Indonesia ada 615 rumah sakit.

“Di masa sanggah, dilakukan penilaian ulang oleh tim reviu kelas, maka Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan mengeluarkan dan menyampaikan rekomendasi hasil penilaian ulang tersebut, sebagai dasar memberikan izin operasional baru instansi terkait,” tulis surat Kemenkes yang ditandatangani Dirjen Pelayanan Kesehatan dr.Bambang Wibowo, Sp.OG (K), MARS.

Dari hasil penilaian kembali itu, terdapat 194 rumah sakit yang direkomendasikan penyesuaian kelas, termasuk salah satunya RS ZUS milik Pemda Gorontalo Utara (Gorut) di Kwandang.

Menyikapi hal itu, Wakil Bupati Gorut Thariq Modanggu, kepada Gorontalo Post, Kamis (29/8) mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah konkrit menyikapi turun kelas RS ZUS. Beberapa langkah yang dilakukan yakni perbaikan sejumlah sarana dan prasarana rumah sakit, seperti ruang rawat inap.

“Kita sudah hitung kebutuhan anggaran untuk perbaikan sejumlah fasilitas itu, untuk dimasukan dalam APBD Perubahan yang belum lama ini disahkan,” terangnya.

Disamping itu, Thariq Modanggu mengatakan, sesuai kewenangan diembannya  dalam posisi wakil bupati, dirinya telah menyampaikan saran dan pertimbangan langsung kepada Bupati Gorut Indra Yasin untuk melakukan langkah-langkah konkrit mengenai RS ZUS. Selain perbaikan dan pemenuhan fasilitas, pemenuhan alat medis juga pemenuhan SDM berupa tenaga dokter.

“Kami sudah sarankan agar tenaga dokter yang disekolahkan Pemda Gorut beberapa waktu lalu agar dapat bertugas di RS ZUS. Tindak lanjut akhir tergantung bupati,” kata Thariq.

Senada dikatakan Thariq, Sekda Gorut Ridwan Yasin, pihaknya terus mendorong agar kedepan RS ZUS bisa naik kelas. Upaya yang dilakukan adalah pemenuhan fasilitas penunjang, SDM, alat medis dan lain sebagainya.

Menurutnya, pada masa sanggahan pihaknya telah menyampaikan sanggahan, namun hasilnya akhirnya belum sesuai apa yang diharapkan, RS ZUS tetap turun kelas. Untuk itu, upaya perbaikan terus dilakukan melengkapi berbagai penunjang rumah sakit.

“Kita dapat Rp 500 juta dari Pemprov Gorontalo, itu digunakan untuk perbaikan dan penambahan ruang kelas rumah sakit. Kedepan sudah harus ada ruang VIP, SDM tenaga medis kita akan tambah dan memenuhi segala kebutuhan rumah sakit lainnya, terus kita seriusi,” jelas Ridwan.

Dia mencontohkan, untuk jumlah dokter spesialis, standar rumah sakit itu minimal 9 tenaga dokter. Namun yang ada di RS ZUS baru kurang lebih 5 dokter, begitu pula fasilitas lainnya harus benar-benar lebih representatif seperti ruang rawat inap, fasilitas kamar mandi dan WC, kebersihannya dan sektor-sektor vital lainnya.

“Penting bukan saja target naik kelas, tapi memang kita ingin kedepan pelayanan kepada masyarakat lebih baik. Insya ALlah dengan upaya kita ini, kami optimis kedepan RS ZUS akan naik kelas,” tambahnya.

Sayangnya Direktur RS ZUS dr. Fenty, tidak memberikan komentar ketika ditanyakan soal turun kelas tersebut.

“Maaf, saya besok (hari ini-red) baru mau menghadap Pemda. Tunggu aja hasilnya ya,” jawab dr. Fenty via WhatsApp, tadi malam.

Sementara itu, hasil rekomendasi terbaru terkait reviu kelas rumah sakit, disambut positif RS MM Dunda Limboto. Sebelumnya RS Dunda direkomendasikan turun kelas dari tipe B ke tipe C.

“Alhamdulillah setelah kita lakukan sanggahan, data yang kita masukkan juga diterima, kita bisa mempertahankan tipe kelas B ini,” ujar Direktur RS MM Dunda Limboto dr Mohammad Natsir Mawardi Abdul.

Ia menjelaskan sesuai dengan SDM, serta fasilitas yang ada di RS MM Dunda memang sudah sesuai dengan tipe kelas selama ini. Hanya saja, pada proses evaluasi sebelumnya ada beberapa data yang tidak masuk.

“Pertamakan kita benahi dari SDM, dari yang seharusnya yang ada di rumah sakit. Yang dirilis pertama belum lengkap sesuai. Contohnya dokter penyakit anak yang kita miliki 2 orang  dokter tetapi yang terdata hanya 1 orang, begitu pun data dokter lainnya. Itu yang kita perbaiki dengan bukti-bukti yang ada,  sehingga itu  dilihat sudah sesuai sehingga tidak turun kelas,” jelas Direktur MM Dunda.

Tak hanya itu saja, adanya evaluasi dan Monitoring sebelumnya menurut Natsir menjadi semangat Rumah sakit untuk berbenah diri.

“Ke depan kita akan  benahi SDM, dan alat-alat kesehatan kita. Malah kita ini ada alat kesehatan yang Cuma ada di kelas A ada di rumah sakit MM Dunda, contohnya Hidro Scan yang Cuma ada di Kandau dan RS Wahidi Makassar, dan SDM kita sudah terlatih,” lanjut Natsir. (gp/hg)

-