Minggu, 12 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hasil Survei SMRC: 49 Persen Warga Nilai Bansos Covid-19 Tak Capai Sasaran

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Rabu, 13 Mei 2020 | 22:05 WITA Tag: , , ,
  Saiful Mujani Research and Consulting


Hargo.co.id, JAKARTA – Masyarakat menilai berbagai bantuan sosial dari pemerintah untuk penanggulangan dampak pandemi Covid-19 belum efektif. Sebanyak 49 persen menyatakan bantuan sosial itu belum mencapai sasaran. Sementara yang menilai sudah mencapai sasaran lebih sedikit 37 persen. Ini merupakan hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

“Kami baru saja melakukan survei opini publik nasional tentang wabah Covid-19 : efektivitas bansos. Surveinya dilakukan melalui telepon dimulai pada 5-6 Mei 2020 dengan melibatkan 1.235 responden dengan margin of error 2,9 persen. Hasilnya, 49 persen menilai tidak mencapai sasaran, sementara 37 persen menilai suada mencapai sasaran,” ungkap Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas, melalui rilisnya yang masuk ke redaksi Hargo.co.id, Rabu (13/05/2020).

Hasil itu, lanjut Sirojudin, cukup mengkhawatirkan. Sebab, dana yang dikucurkan pemerintah hanya akan berarti bila bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan.

Ia menambahkan, menurut temuan penelitian ini, bantuan tersebut dianggap tidak tepat sasaran karena warga melihat ada warga lain yang berhak tapi belum menerima bantuan (60 persen) dan bansos diberikan kepada yang tidak berhak (29 Persen).

BACA  Idul Adha 1441 H, Mudik Tak Dilarang

“Warga yang layak menerima bansos adalah 34 persen. Mereka adalah yang berada di bawah garis kemiskinan (9,41 persen) hingga yang berada sedikit di atas garis kemiskinan sebanyak 24.97 persen merujuk pada data Susenas BPS 2019. Sedangkan menurut temuan penelitian ini baru 21 persen warga yang menyatakan sudah menerima. Berarti masih ada 13 persen yang belum menerima, atau sekitar 35 juta orang dari populasi nasional 2020 yang diproyeksikan 271 juta jiwa,” jelas Sirojudin.

“Kalau kita bandingkan data tersebut, bisa disimpulkan masih ada 13 persen warga yang mendesak dibantu tapi belum menerima bantuan,” ujar Abas. “Ini persoalan serius, karena mereka yang tak menerima bantuan bisa kelaparan, tak mampu berobat, tak mampu bayar kontrakan, dan persoalan-persoalan mendesak lainnya,” sambung Sirojudin.

Lebih lanjut, Sirojudin mengatakan, bantuan yang diberikan pun bisa tidak sepenuhnya diperoleh. Mayoritas 55 persen warga yang sudah menerima bansos, menyatakan hanya menerima sembako saja. Yang menyatakan menerima dana Program Keluarga Harapan (PKH) saja 16, 6 persen yang menyatakan menerima sembako dan PKH saja 11,8 persen, yang menyatakan menerima sembako dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) saja 10,3 persem; dan yang menyatakan BLT saja 5,2 persen.

BACA  Pakar Epidemiologi: Ada 3 Skenario Prediksi Pandemi Berakhir Agustus

Sebanyak 87 persen warga yang sudah mendapat bantuan pun menyatakan bahwa bantuan tersebut hanya cukup untuk dua minggu atau kurang.

“Mayoritas warga (74 persen) juga belum tahu bagaimana mendaftar agar dapat bantuan. Terkait proses penyebaran bantuan, mayoritas warga (62 persen) berharap petugas datang ke warga yang berhak untuk mendaftarkan mereka,” ucap Sirojudin.

Menurutnya lagi, bantuan pemerintah ini sangat dibutuhkan mengingat mayoritas warga secara nasional menyatakan kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk. Jauh lebih banyak yang menyatakan sekarang lebih buruk dibandingkan yang menyatakan lebih baik. Perbedaannya sangat signifikan, hampir tidak ada yang menyatakan sekarang lebih baik.

Mayoritas warga 79 persen menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk dibandingkan sebelum adanya wabah Covid-19. Sementara yang menyatakan tidak ada perubahan hanya 19 persen dan yang menyatakan lebih baik jauh lebih sedikit lagi, yaitu 1 persen.

BACA  Update Covid-19 Gorontalo : 31 Orang Sembuh, Enam Pasien Baru

Demikian juga, 84 persen warga menilai kondisi ekonomi nasional lebih buruk dibanding sebelum ada wabah Covid-19; yang menyatakan tidak ada perubahan hanya 8 persen dan yang menyatakan lebih baik jauh lebih sedikit, yaitu 2 persen.

Masyarakat juga cenderung pesimistis dengan kondisi ekonomi setahun ke depan. Mereka yang menganggap kondisi ekonomi rumah tangga membaik tahun depan jauh lebih rendah dibandingkan yang menganggap kondisi ekonomi rumah tangga tahun depan memburuk. Hanya 29 persen yang menganggap akan membaik, sementara 53 persen menganggap kondisi ekonomi akan memburuk.

Begitu juga soal kondisi ekonomi nasional setahun ke depan. Warga yang optimistis hanya 27 persen dan yang pesimistis 49 persen.

“Bantuan sosial dari pemerintah diperlukan sampai pandemi berakhir dan warga bisa melakukan kegiatan normal. Maka keberlanjutan bantuan, menambah jumlah warga yang dibantu, mendaftar secara lebih baik warga yang wajib dibantu, dan memperbaiki mekanisme penyaluran bantuan hingga tepat sasaran adalah agenda-agenda mendesak bansos yang harus dilakukan pemerintah pusat dan daerah bersama-sama,” pungkas Abbas. (rwf/hg)


Komentar