Senin, 29 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hasil Survei SMRC, 78 Persen Rakyat Indonesia Tolak Amandemen UUD 1945

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Sabtu, 16 Oktober 2021 | 14:05 PM Tag: , ,
  Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas, Ph.D

Hargo.co.id, JAKARTA – Upaya untuk dilakukan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, nampaknya sulit terjadi. Alasannya, sebagian besar masyarakat Indonesia tak menginginkan hal tersebut.  

Informasi yang berhasil dihimpun, sebanyak 78 persen rakyat Indonesia tidak menginginkan adanya amandemen pada UUD 1945. Kesimpulan ini muncul dalam survei opini publik yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk ‘Sikap Publik Nasional terhadap Amandemen UUD 1945’ yang dirilis secara online pada 15 Oktober 2021 di Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas, Ph.D, survei opini publik ini digelar pada dari 15 hingga 21 September 2021 melalui tatap muka atau wawancara langsung. Sampel sebanyak 1.220 responden dipilih secara acak (multistage random sampling) dari seluruh populasi Indonesia yang berumur minimal 17 tahun atau sudah menikah. 

“Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 981 atau 80 persen. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen atau asumsi simple random sampling,” ungkap Sirojudin Abbas pada presentasi hasil survei yang disampaikan.

Lanjut kata Sirojudin Abbas, ditemukan bahwa mayoritas warga (66 persen) menilai UUD 1945 adalah rumusan terbaik dan tidak boleh diubah atas alasan apapun bagi Indonesia yang lebih baik. Ada 12 persen yang menilai bahwa walaupun UUD 1945 buatan manusia dan karena itu mungkin ada kekurangan, sejauh ini paling pas bagi kehidupan Indonesia yang lebih baik.

“Sehingga total ada 78 persen. Dua sikap ini menunjukkan bahwa publik tidak ingin ada perubahan atau amandemen pada UUD 1945 atau Konstitusi Republik Indonesia,” tegas Sirojudin Abbas. 

Sementara dukungan atas amandemen datang dari minoritas warga. Hanya ada 11 persen yang berpendapat beberapa pasal dari UUD 1945 perlu diubah atau dihapus. Selanjutnya, 4 persen yang menilai UUD 1945 sebagian besar harus diubah. Masih ada 7 persen yang menjawab tidak tahu.

Sikap publik yang tidak menghendaki adanya amandemen UUD ini terlihat dominan pada setiap massa pemilih partai, maupun pemilih Capres 2019. Demikian pula pada setiap lapisan demografi.

“Mayoritas warga pada setiap massa pemilih partai, massa pemilih capres 2019, yang puas maupun tidak puas dengan kinerja Presiden Jokowi, dan seluruh lapisan demografi tidak menghendaki perubahan pada UUD 1945,” kunci Sirojudin Abbas.

 

Rilis : SMRC

(Visited 19 times, 1 visits today)

Komentar