Minggu, 20 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hatta, Hamka, dan Hans B. Jassin

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Senin, 15 Januari 2018 | 09:49 WITA Tag: , , , ,
  


Menjadi tokoh besar yang dikenang zamanmeniscayakan tiga hal: otak, watak, dan akhlak. Itulah tiga kata kunci yang bisa kita rujuk dari (Bung) Hatta, (Buya) Hamka dan (Hans) BagueJassin. Meski pilihan hidup, talenta pribadi dan guncangan perjuangan ketiganya berbeda, tapi ketiganya bisa kita persatukan dalam hal: intelektualitas dan integritas pribadi. Ketiganya “menyatukan kata dan perbuatan”. Ketiganya amat teguh pendirian: Hatta mundur sebagai Wakil Presiden (1956), Hamka mundur dari MUI (1981) dan Hans Bague Jassin habis-habisan membela kebebasan imajinasi (kasus cerpen Ki Panjikusmin, 1968).

Lima tahun sebelum Bung Hatta wafat, tepatnya 10 Februari 1975, ia sudah menulis wasiat: “apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta, tempat diproklamasikannya Indonesia merdeka. Saya tidak ingin dikuburkan di makam pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikuburkan di tempat kuburan rakyat biasa, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya”. Dari sini, sangat terang siapa dan bagaimana jati diri Bung Hatta (12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980).

Suatu ketika, dalam keadaan yang tersudut atau disudutkan karena pemikiran dan pendirian hidup, ketiga tokoh besar Indonesia ini tetap kokoh membela kebenaran dan keadilan. Pikiran-pikiran Hatta (Demokrasi Kita) diterbitkan oleh majalah yang dikelola Hamka, Panji Masyarakat. Ketika karya buya Hamka dituduh plagiat oleh kalangan komunis (novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijk), H.B. Jassin tampil sebagai pembela utamanya. Demikian pula, ketika H.B. Jassin dituduh menerima tulisan yang merendahkan Tuhan dan agama, karena menerbitkan cerpen Langit Makin MendungKi Panjikusmin (8 Agustus 1968) di majalah Sastra (yang dipimpin H.B Jassin).Jassin diseret ke meja hijau. Departemen Agama menduduh Jassin bertanggung jawab. Ketika itu, meski Hamka diminta oleh jaksa negara membuktikan kesalahan cerpen tersebut dari sisi pandangan agama Islam, tapi hebatnya karena Buya Hamka meminta pengadilan membebaskan H.B. Jassin.

Dalam persidangan, Hamka amat terkesan dengan Jassin. Hakim ketua bahkan sempat menegur Jassin karena selama prosesi persidangan, setiap kali Jassin bicara, ia selalu menyebut “Pak, Hamka!” Sebuah cara memanggil yang sangat hormat. Hakim menegur Jassin karena menurutnya, di dalam persidangan, Jassin cukup memanggil “Saudara Hamka”. Tidak perlu menggunakan kata “Pak!”. Tapi, rupanya Jassin tetap dengan caranya. Ia tidak berubah, dan tetap memanggil “Pak Hamka!”. Berkatalah Jassin kepada hakim, “berat saya buat membahasakan beliau dengan saudara Hamka. Sebab di dalam hal agama Islam, bagaimana pun beliau adalah guru saya!” Hakim kembali menegur Jassin dengan berkata, “saya sendiri pun kalau di luar sidang akan tetap membahasakan saksi ahli dengan Pak Hamka. Namun di dalam sidang ini, demi keadilan, dia adalah saudara Hamka. Semua setara mencari keadilan!”.

Dihadapan hakim, Hamka menyatakan bahwa Jassin adalah sahabatnya sejak 30 tahun. Jassin adalah orang Islam yang baik. Hamka tahu bagaimana Islamnya orang Gorontalo. Keluar bersama dari gedung pengadilan (25 Februari 1970), Hamka dan H.B. Jassin menaiki mobil yang sama (mobil H.B. Jassin), keduanya duduk bersebelahan dan berbicara satu sama lain dengan penuh hangat dan respek. Saat itu, Jassin mengatakan kepada Hamka tentang intensitasnya membaca Al-Quran setiap harinya dan merenungkan ayat demi ayat (Historia, no. 21, 2015).

Hamka (17 Februari 1908- 24 Juli 1981) dikenal luas di Asia Tenggara sehingga tak heran kalau yang mengunjungi museum (rumah) kelahirannya di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, datang dari Singapore, Malaysia dan Brunei Darussalam. Banyak yang tidak tahu bahwa Hamka adalah penulis aktif di majalah Qalam (terbit di Singapore sejak tahun 1950) dan tersebar hingga ke Thailand Selatan. Beliau menulis tentang tulisan Jawi dan tema-tema antikolonialisme (Zara, 2017: 25; Rush, 2017, Adicerita Hamka).

Di zamannya, Hamka sangat populer. Banyak kapasitas yang melekat pada dirinya, yakni sebagai ulama, sastrawan, penulis, sejarawan, dst. Hamka menulis beragam tema, mulai dari novel, puisi, tafsir (al-Azhar), tasawuf, petuah agama, memoar, laporan jurnalistik, dan sejarah. Di luar itu semua, sejak awal Hamka adalah pioner di bidang media dengan mendirikan, mengelola dan aktif di majalah Pedoman Masyarakat (Medan), Pandji Masyarakat (1967-1981), dan Suara Muhammadiyah (Jakarta, terbit sejak 1915).

Di negeri kelahirannya, artefak dan memori yang menghormati Bung Hatta (di Bukittinggi) dan Buya Hamka (di Maninjau), di sana terdapat museum, universitas dan karya-karya intelektual yang berdiri kokoh. Manusia dari berbagai penjuru bisa mengunjunginya setiap saat. Sumatera Barat demikian memelihara kebanggaan istimewa karena berhasil “melahirkan” orang-orang besar di panggung nasional dan dunia. Warisannya dijadikan artefak dan “ilmu pengetahuan” yang abadi.

Hans Bague (H.B) Jassin (31 Juli 1917 – 11 Maret 2000)  agak berbeda. Di negeri kelahirannya (Gorontalo), ia sekadar menjadi nama jalan, itu pun dengan penulisan gelar yang keliru. Artefak intelektual dan warisan hidupnya nyaris tak tampak dan tak terasa. Generasi baru di negerinya pun tak semua mengenal nama dan karya-karyanya dengan baik dan bangga, baik di sekolah-sekolah maupun di lembaga-lembaga resmi. Sesekali memang di sebut namanya di forum-forum, tapi itu semua bukan dengan kesadaran tinggi dan penghayatan penuh. Terkesan sambil lalu saja nama H.B. Jassin di sebut-sebut.

Padahal, H.B. Jassin adalah kritikus berwibawa, sastrawan, redaktur, penerjemah, dan dokumentator terbaik sastra Indonesia modern di dunia. Memori karya bangsa (pemikiran, kreativitas, biografi, dan imajinasi) direkam dengan baik oleh H.B. Jassin. Karyanya sungguh tak ternilai. Ketekunan profesional dan kegigihan personalnya luar biasa. Tak kurang 200 ribu dokumen langka di PDS-nya, 34 terjemahan, mengantar sekitar 35 judul buku, 16 buah buku karya sendiri, dan mengoleksi puluhan ribu karya-karya sastra, sejarah, bahasa, dan pemikiran lainnya tentang Indonesia dan dunia Melayu.

Sebagai sastrawan, Hans menulis terjemahan Qur’an secara puitis (Al-Quran Bacaan Mulia), berbeda dengan Hamka yang konsen menulis tafsir al-Qur’an, dengan “rasa” Indonesia sesuai latar pengetahuan keagamaannya.Dalam karya Hans Jassin tersebut, ia beroleh kritik luas terutama karena beliau dianggap bukan ahli agama. Lagi pula, kitab suci bukanlah karya sastra. Ternyata, Hamka memberi pandangan mendalam dan apresiasi terhadap karya H.B. Jassin tersebut melalui ulasan panjangnya di majalah Pandji Masyarakat, 15 Agustus 1978, tepatnya 11 Ramadhan 1398.

Hamka menulis tentang Jassin:“saya mengenal Jassin bukanlah seorang berkata lebih daripada apa yang dibuatnya. Ia bukan orang yang suka mendedahkan diri. Dia orang yang sederhana mengatakan yang seadanya dan tidak akan menyanggupi hal yang dia tidak sanggup…”. Ilmuan sosial terkemuka jebolan Bielefeld, Jerman, Dr. Ignas Kleden berkata (2004): “suatu bangsa berbangga bukan hanya berapa panjang jalan raya yang sudah dibangunnya, berapa banyak pabrik yang didirikan, tapi apa sebetulnya yang dicarinya dengan jiwa dan pikiran ketika membangun jalan raya dan gedung-gedung tinggiPuji-puji dan seluruh tepuk tangan memang baik untuk upacara, tapi tak banyak relevansinya untuk kemajuan...”. Terang sekali, negeri ini tak wajar jika gagap melakukan loncatan-loncatan kemajuan.Kita mempunyai warisan pengetahuan dan keteladanan yang bercita-cita tinggi.Sudah tiba saatnya Gorontalo mengerjakan perannya di pentas dunia. Tak pantas jadi “jago kandang”, terbiasa inward looking dan terpeleset pada urusan sepele dan jangka pendek. ***

Lembaga Kajian Sekolah dan Masyarakat (LekSEMA)

Bekerja di UniversitasNegeriGorontalo

E-mail: basriamin@gmail.com

 


Komentar