Rabu, 18 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Heboh Buku IPS SD Jerusalem Ibukota Israel

Oleh Berita Hargo , dalam Headline , pada Kamis, 14 Desember 2017 | 14:23 Tag: , ,
  

Hargo.co.id, GORONTALO – Bukan hanya Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kesalahan penyebutan Jerusalem sebagai Ibukota Israel juga terjadi pada buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VI SD. Selain menjadi viral di media sosial, buku pelajaran tersebut turut beredar di Gorontalo.

Buku pelajaran IPS yang mencantumkan Jerusalem sebagai Ibukota Israel disusun oleh Sutoyo dan Leo Agung. Buku tersebut diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kesalahan pencantuman Ibukota Israel itu awalnya beredar di media sosial (medsos). Unggahan yang tersebar di Facebook dan WhatsApp itu menjadi ramai diperbincangkan apalagi menyusul keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Foto itu diunggah oleh pengguna Facebook, salah satunya pemilik akun bernama Angel Setiawati.
“Buku IPS Kelas 6 SD yang diterbitkan oleh Yudistira. Di situ tertulis Ibu Kota Israel adalah Jerussalem, Palestina ada tertulis tapi ga ada ibukota-nya,” tulis Angel, Senin (11/12).

Selang sehari setelah itu, Selasa (12/12), beredar pula unggahan melalui WhatsApp buku pelajaran IPS Kelas VI SD yang mencantumkan Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Buku yang diunggah itu merupakan terbitan Pusat Perbukuan Dikbud yang masuk dalam katalog Buku Sekolah Elektronik (BSE). Unggahan itu terus bergulir hingga kemarin (13/12).

Sementara itu penelusuran Gorontalo Post, buku pelajaran IPS yang terdapat kesalahan pencantuman Ibukota Israel ikut pula beredar di Gorontalo. Buku tersebut ditemukan di SD Negeri 2 Telaga, Kabupaten Gorontalo.

Menariknya, buku tersebut baru tiba dan diterima pihak sekolah pada pekan lalu. Sehingga buku tersebut belum sempat digunakan/diajarkan kepada para siswa.

“Kami juga belum tahu kalau ada kesalahan dalam buku itu. Sebab, buku-buku tersebut baru tiba dan masih tersimpan. Bahkan buku-buku tersebut belum disortir,” ungkap beberapa guru ketika berbincang dengan Gorontalo Post.

Terkait temuan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo Lilian Rahman mengaku baru mengetahui informasi tersebut ketika heboh di media sosial. Meski demikian dirinya, menegaskan pihak Diknas akan membahas hal tersebut secepatnya.

“Insyalah kami akan membahasnya,” tegas Lilian Rahman.
Selain itu juga lanjutnya, pihak Diknas akan mempertanyakan perihal buku tersebut ke pemerintah pusat, untuk mendapatkan petunjuk lanjut.

“Isyalah kami akan segera menghentikan (peredaran buku) kalau memang itu bertentangan,” tambahnya.

Sementara itu penulusuran Gorontalo Post di wilayah Kota Gorontalo maupun kabupaten lainnya, belum menemukan adanya buku pelajaran IPS yang mencantumkan Jerusalem sebagai Ibukota Israel.

Sementara itu penerbit Yudhistira secara resmi menyatakan permohonan maaf dan mengaku keliru dalam memuat informasi soal Ibu Kota Negara Israel dalam buku terbitannya.Kepala Penerbitan Yudhistira Dedi Hidayat mengungkapkan bahwa pihaknya mengambil data dari sumber internet world population data sheet 2010.’

“Kami tidak mengetahui kalau ternyata data tersebut masih menjadi perdebatan dan belum diakui secara internasional,” kata Dedi dalam surat dengan Nomor 12/Pnb-YGI/XII/2017.

Surat itu ditujukan kepada kepala sekolah dan guru pengajar. Dedi mengatakan, beberapa sumber di internet juga mencantumkan hal yang sama. Yakni, Yerusalem merupakan Ibu Kota Negara Israel. Terkait hal itu, Penerbit Yudhistira meminta maaf kepada masyarakat atas kekeliruan mereka dan berjanji akan melakukan revisi pada buku terbitan berikutnya.
(tr-58/nat/jpg/hargo)

 

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar