Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hidup Rukun dan Keberagaman Desa Banuroja, Miniatur Indonesia di Bumi Panua

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 27 Desember 2017 | 12:22 Tag: , ,
  

Hargo.co.id- “Kita Membangun Kita”. Prinsip yang dipegang teguh masyarakat Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Prinsip yang bermakna saling bantu dengan suasana kekeluargaan itu membingkai masyarakat Desa Banuroja yang hidup rukun dalam keberagaman agama dan etnis.

Gapura ornamen khas Bali setinggi tiga meter menyapa kedatangan Gorontalo Post siang itu, Senin (25/12). Pada sisi kiri dan kanan gapura, tertulis ucapan selamat datang di Desa Wisata Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Gapura berwarna perpaduan orange dan hitam itu menjadi pembatas antara Desa Manunggal Karya dan Desa Banuroja, Kecamatan Randangan.

Sekitar 100 meter dari gapura, pemukiman penduduk tampak berjejer rapi di pinggir jalan. Di depan setiap rumah terdapat pura. Nuansa daerah Bali sangat kental terasa ketika Gorontalo Post menyusuri jalan utama Desa Banuroja. Lebih kurang 500 meter kemudian, papan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah cukup mencolok. Papan nama yang terbuat dari beton itu berdiri kokoh di sudut kanan perempatan jalan utama dan jalan pemukiman warga Desa Banuroja. Papan nama yang sebagian tulisannya mulai agak pudar itu juga menjadi penanda bila Gorontalo Post sudah menyusuri separo jalan utama Desa Banuroja.

Ponpes Salafiyah Syafi’iyah dirintis oleh K.H Abdul Ghofir Nawawi pada 1985. Di dalam kawasan Ponpes terdapat sebuah masjid, yang menjadi pusat ibadah umat muslim Desa Banuroja. Tak jauh dari Ponpes yang melayani pendidikan dasar hingga menengah atas itu, menjulang pura yang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Letaknya di atas bukit sisi kiri jalan utama Desa Banuroja. Saat Gorontalo Post menyambangi, pura yang dinamai Pura Puseh Banuroja itu sedang dalam tahap renovasi.

Sekitar 100 meter dari lokasi pura, terdapat dua buah gereja. Pertama Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Immanuel, Banuroja. Kedua, Gereja Pantekosta, Banuroja. Kedua gereja berdampingan degan jarak cukup dekat. Sekitar 50 meter.Menariknya, meski lokasi tempat ibadah berdiri berdekatan dan berdampingan, tak pernah ada gesekan dan konflik yang mengatasnamakan agama. Uniknya lagi, warga Desa Banuroja hidup rukun dan damai dalam bingkai kekeluargaan. Kendati warga Banuroja terdiri dari multietnis. Yakni Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Gorontalo, DKI Jakarta, serta Sulawesi.

Nama Desa Banuroja merupakan akronim etnis mayoritas yakni Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo, dan Jawa. Bagi masyarakat Banuroja, toleransi bukanlah sekadar teori yang senantiasa diajarkan di berbagai jenjang pendidikan. Akan tetapi menjadi sebuah pedoman yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tepa salira, saling menghargai dan hormat menghormati itu dibingkai dalam falsafah “Kita Membangun Kita”.

“Sejak tahun 1981 hingga saat ini, masyarakat di Desa Banuroja hidup rukun dan damai. Tak pernah ada gesekan ataupun pertentangan, karena kita selalu mengedepankan prinsip kita membangun kita,” ujar Pemuka Agama Hindu I Wayan Adha.Prinsip “Kita Membangun Kita” mengandung nilai-nilai saling menghormati, tolong menolong/gotong royong serta menghargai perbedaan yang ada. Prinsip itu selalu dipegang teguh dan dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan.

Dalam kehidupan beragama, misalnya. Ketika umat Hindu merayakan Galungan, maka masyarakat Muslim dan Nasrani saling bersilaturahmi ke umat Hindu. Begitu pula, ketika umat muslim ataupun nasrani merayakan hari besar. Maka umat Hindu akan bersilaturahmi. “Begitu pula ketika ada perayaan yang bersamaan, maka kita akan duduk bersama dan saling berkoordinasi,” ujar I Wayan Adha.

Tak hanya dalam kehidupan beragama, kerukunan masyarakat Desa Banuroja juga terimplementasi dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. “Kita yang dimaksud dalam prinsip itu adalah seluruh masyarakat Banuroja. Sehingga melalui prinsip itu, seluruh masyarakat bersatu padu dan saling bantu membangun daerah ini. Termasuk menjaga keamanan dan kerukunan,” urai I Wayan Adha.

Keterpaduan itu dicontohkan I Wayan Adha, ketika pendirian Ponpes Salafiyah Syafi’iyah. Meski beragama Hindu, I Wayan dipercayakan duduk sebagai Pelindung Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Begitula proses pembangunan, masyarakat Desa Banuroja ikut bergotong royong. Tak ada sekat, apalagi sentimen agama. “Begitu pula ketika kerja bhakti. Seluruh umat beragama dan etnis yang ada di Banuroja sama-sama bekerja,” urai I Wayan Adha. “Dengan prinsip kita membangun kita maka kita tak bisa membangun kalau bukan kita sendiri yang membangun,” sambung Pria yang sudah bermukim 36 tahun di Desa Banuroja itu.

Lebih lanjut ketika disinggung mengenai tragedi bom Bali, I Wayan Adha dengan tegas menyatakan bila hal itu sama sekali tak meretakkan keharmonisan masyarakat Desa Banuroja. Tatkala tragedi bom Bali mencuat, seluruh pemuka agama dan pemuka masyarakat langsung berkoordinasi. Selanjutnya seluruh pemuka agama dan masyarkat menyampaikan kepada seluruh warga agar tetap tenang dan tak terprovokasi.

“Kita sampaikan bahwa yang terjadi di luar sana tak ada kaitannya dengan kita yang di sini. Kita selalu jaga koordinasi dan silaturahmi Sehingga Insya Allah kedepannya desa Banuroja akan selalu rukun dan damai,” kata I Wayan Adha. Hal senada dikemukakan Pemuka Agama Islam Moh.Za’pan. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengatakan, sejak berdirinya Desa Banuroja hingga saat ini tak pernah ada kesalahpahaman antar masyarakat. Seluruh umat bergama dan etnis di Desa Banuroja hidup rukun dan damai.

“Kita saling hormat menghormati. Ketika masyarakat Muslim merayakan Idul Fitri, masyarakat dari Hindu dan Nasrani datang bersilaturahmi. Begitu pula masyarakat Hindu maupun Nasrani merayakan hari raya-nya masing-masing,” ungkap Moh.Za’pan.

Selain bersilaturahmi, cara lain menghormati keberagaman ditunjukkan masyarakat Desa Banuroja menjaga keamanan dan ketenangan ketika perayaan hari raya keagamaan. Ketika perayaan Nyepi. Masyarakat Muslim dan Nasrani menghormati perayaan tersebut dengan tidak melakukan aktivitas yang bisa menggangu ketenangan Nyepi. Bahkan kumandang adzan tak menggunakan pengeras suara, sebagai bentuk penghormatan bagi umat Hindu yang melaksanakan Nyepi. Begitu pula perayaan Natal 25 Desember 2017, Senin (25/12).

Di tengah umat Kristiani menyelenggarakan ibadah, maka umat Muslim dan Hindu yang tak beraktivitas (bertani atau ke pasar) memilih berdiam di dalam rumah. Tak heran kondisi membuat situasi Desa Banuroja begitu tenang. Selanjutnya pasca pelaksanaan ibadah natal, masyarakat umat Muslim dan Hindu satu per satu mulai bersilaturahmi ke masyarakat umat Kristiani.

“Tanpa harus diundang. Masyarakat di sini sudah terbiasa saling bersilaturahmi. Baik dalam perayaan hari keagamaan ataupun perayaan hajatan tertentu,” kata Moh.Za’pan.
Meski mayoritas, lanjut Moh.Za’pan, umat muslim Banuroja sangat menghormati masyarakat umat Hindu dan Nasrani. Bahkan dalam kegiatan tertentu, masyarakat umat Hindu/Nasrani turut dilibatkan. Seperti pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

“Untuk guru kesenian beberapa waktu lalu gurunya beragama Hindu. Jadi bukan hanya dalam urusan keagamaan saja, untuk urusan kehidupan sosial kemasyarakat kita juga mengedepankan toleransi dan kebersamaan,” urai pria empat anak itu. Begitu pula dalam hal kepemimpinan. Dalam menentukan kepemimpinan, masyarakat Desa Banuroja melihat sosok pemimpin yang benar-benar mau bekerja dan melayani. Perbedaan agama bukanlah hal yang mendasar. “Saat ini Kepala Desa Banuroja bergama Hindu. Tak ada masalah, yang penting mau bekerja untuk rakyat itu yang utama,” tegas Moh.Za’pan.

Deteksi Dini dan Musyarawah. Selain senantiasa mengedapankan koordinasi dan silaturahmi, masyarakat Desa Banuroja juga memiliki sistem kewaspadaan dalam menangkal gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Yakni mendeteksi dini potensi atau pemicu munculnya gangguan kambtimbas. Contohnya keberadaan orang asing (di luar warga Desa Banuroja).

Setiap pendatang dari luar Banuroja diwajibkan untuk melapor ke kantor/aparat desa. Apabila ada warga/pendatang yang tak melapor ke aparat/kantor desa, maka warga sekitar akan melapor ke pemuka masyarakat atau aparat desa. “Langkah itu dilakukan agar Desa Banuroja ini selalu kondusif. Sehingga setiap warga selalu melakukan kewaspadaan dini di samping juga turut dibantu oleh Bhabinkamtibmas dan aparatur desa,” ujar Sekretaris Desa Ahmad Faiz.

Begitu pula ketika ada perselisihan di antara warga. Pemangku agama/tokoh masyarakat bersama aparatur desa akan mengundang masyarakat yang berselisih tersebut untuk duduk musyarawah. Sehingga masalah yang ada diselesaikan secara kekeluargaan, tanpa harus menempuh proses hukum di Kepolisian. “Masalah yang ada di desa, langsung diselesaikan di desa. Sehingga tak perlu lagi ke luar (ke Kepolisian). Dan alhamdulillah sampai saat ini sangat minim masalah/sengketa antar masyarakat. Baik antar pemeluk agama ataupun antar etnis,” urai Ahmad Faiz.

Sejalan dengan kewaspadaan dini, para pemuka agama dan tokoh masyarakat Desa Banuroja juga turut mewariskan sikap toleransi dan kebersamaan bagi kalangan generasi muda. Dalam setiap kegiatan, para pemuda Desa Banuroja selalu diingatkan agar tidak mudah terprovokasi, tak berbuat onar/masalah serta selalu mengedepankan musyawarah dan rasa kekeluargaan. Langkah itu dilakukan dalam kegiatan keagamaan maupun kegiatan umum sosial kemasyarakatan. “Pemuda Banuroja untuk kegiatan umum terhimpun dalam Karang Taruna. Sementara untuk kegiatan keagamaan ada pula organisasi kepemudaan masing-masing agama. Semuanya berjalan,” ungkap Ahmad Faiz yang juga salah seorang tokoh pemuda.(san)-(hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar