Rabu, 23 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hujan, Warga Beli Nasi Bulu dan Dodol

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo Post , pada Senin, 3 Juli 2017 | 23:07 WITA Tag: , ,
  


GORONTALO,hargo.co.id – Ada pemandangan berbeda dari pelaksanaan tradisi ketupat di Kampung Jawa (Yosonegoro). Tradisi khas masyarakat keturunan Jawa Tondano (Jaton) ini tak lagi seperti dulu, dimana makanan khas seperti nasi bulu dan dodol dibagi gratis kepada setiap pengunjung yang datang.

Kini ada sebagian yang justeru menjual dodok dan nasi bulu kepada pengunjung. Ada pula istilah malam bakupas. Hal ini dinilai melenceng dari tradisi dan dikritik pada tokoh adat.

Misalnya tradisi malam bakupas, yakni malam sebelum hari perayaan lebaran ketupat. Dimana pada malam itu, masyarakat sudah mulai berdatangan ke rumah-rumah masyarakat Jaton di Desa Yosonegoro untuk bersilaturahmi.

Sesuai dengan aturan adat masyarakat Jaton, diharuskan untuk melayani para tamu tanpa memandang suku etnis serta kepercayaan yang dianut. Maka pada malam bakupas ini, para tamu pun dijamu dengan sejumlah makanan khas Jaton seperti Dodol, Nasi Bulu, Ketupat, dan lain sebagainya.

BACA  Raih WTP Sembilan Kali, Pemprov Gorontalo Dapat Apresiasi dari Roem Kono

Tradisi malam bakupas ini rupanya dianggap telah melenceng dari adat sesungguhnya seperti yang diungkapkan Ketua Adat Jaton Desa Yosonegoro, Rusdin Mohammad Rivai.

“Tradisi tersebut sudah melangkahi ketentuan adat, karena seharusnya masyarakat Jaton baru bisa membuka pintu rumahnya bagi siapa saja itu nanti pada hari H setelah proses adat selesai yang ditandai dengan bunyi beduk,” ungkapnya.

Sayangnya ketentuan tersebut tidak diketahui oleh seluruh masyarakat, sehingga terus menjadi kebiasaan pada masa kini. Sehingga pada malam sebelum digelarnya pelaksanaan lebaran ketupat, masyarakat sudah berbondong-bondong mendatangi lokasi-lokasi perayaan adat asli Jaton ini.

BACA  Soal Pasokan Listrik, PLN Siap Dukung Industri Tambang di Gorontalo

Tia Nusa (26) salah satu pengunjung mengaku tidak mengetahui pasti mengenai ketentuan adat pada pelaksanaan lebaran ketupat ini.

“Kami tidak tahu kalau sebenarnya belum bisa mo datang pa depe malam bakupas, karena memang tidak ada pemberitahuan mengenai hal itu. Dan kalo dilihat, sekarang ini orang-orang lebih suka datang pas malam bakupas, karena kalo nanti hari H pasti panas matahari ditambah jalanan yang macet,” ujarnya.

Hal lain yang juga sudah melenceng dari adat pelaksanaan Ketupat yaitu kegiatan jual beli Dodol dan Nasi Bulu yang dilakukan oleh sejumlah orang tepat pada hari pelaksanaan tradisi ini.

BACA  Wagub Gorontalo Minta Penanganan Covid-19 di Boalemo Lebih Diintensifkan

Pantauan Gorontalo Post, terlihat para warga mulai membuka lapak dadakan di sepanjang jalan Trans Sulawesi mulai dari Isimu hingga Limboto Barat. Pada lapak tersebut mereka menjual aneka kuliner khas Jaton seperti Dodol dan Nasi bulu yang merupakan makanan yang wajib disajikan secara gratis kepada para pengunjung saat lebaran ketupat.

“Kalo mereka menjualnya di luar hari pelaksanaan Ketupat itu tidak masalah, karena itu sudah merupakan usaha mereka,” tandas Rusdin Mohammad Rivai.

Ida (43), salah satu warga mengatakan, dirinya menjual Nasi Bulu dengan harga 15 ribu rupiah untuk setiap satu ujungnya. “Banyak yang datang beli, terutama yang tidak dapat nasi bulu untuk dibawa pulang,” kata Ida.(tr-54/tr-53/tr-45/hargo)


Komentar