Sabtu, 28 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Humor Tinggi dan Marahnya Seorang Presiden Santun

Oleh Berita Hargo , dalam DI'SWAY , pada Senin, 6 Juni 2016 | 13:44 WITA Tag: ,
  


Oleh Dahlan Iskan

Presiden Obama kembali jadi pelawak. Di depan forum tahunan wartawan Washington bulan lalu, gelak tawa tidak habis-habisnya. Seperti setahun sebelumnya: setengah jam pidato tepuk tangannya lebih dari 70 kali.

Salah satu sasaran humornya tentu para calon presiden. Setelah lama ngelawak dan ngerjain dua capres dari partainya sendiri, Bernie Sanders dan Hillary Clinton, wajahnya berubah seperti mau menutup pidato. Lalu memasukkan kertas ke saku jasnya. Sambil mengucapkan kata-kata seperti akhir sebuah sambutan.

Yang hadir tahu belum seharusnya pidato penuh humor itu berakhir. Melihat seluruh wartawan dan pimpinan media itu terperangah, tiba-tiba Obama ngelawak lagi. Tentang gayanya yang seolah mau mengakhiri pidato itu.

’’Saya hanya bercanda,’’ katanya. Belum mungkin pidato itu berakhir. ’’Kalian kan tahu saya belum menyebut Donald,’’ katanya.

BACA  Peniup Sempritan

Donald Trump. Capres Partai Republik itu nemang sering jadi sasaran humor Obama.

Tentu kali ini pun Obama tidak boleh melewatkan konglomerat yang juga terkenal sering dikerubungi wanita cantik itu. Kali ini Obama seperti membela capres yang juga penyelenggara ratu kecantikan, Miss Universe, itu.

Dia angkat nama Trump tinggi-tinggi. Untuk dijatuhkan, tentunya.

“Kalau ada yang bilang Donald itu tidak punya pengalaman luar negeri, itu tidak benar,’’ katanya seolah membela. ’’Dia sudah berpengalaman bertemu Miss Swedia, Miss Argentina, Miss Azerbaijan…’’

Belum selesai kalimat itu, hadirin sudah menenggelamkan pidatonya dengan tepukan gemuruhnya. Tahun lalu, di forum yang sama, Obama lebih seru lagi ngerjain Donald Trump. Sampai ada yang menganalisis keseriusan Trump dalam pencapresan kali ini dilatarbelakangi ’’brutal’’-nya humor Obama saat itu. Apalagi Trump hadir langsung di forum yang amat besar tersebut.

BACA  Semut Raksasa

Jenis humor Obama seperti itu membuat dia digelari ’’killer comedian’’.

Obama memang seru kalau lagi ngerjain Trump karena Trump selalu mengecam Obama. Apa pun yang dikerjakan Obama dianggap salah oleh Trump.

Dari penampilan tahunannya di forum Washington Correspondent itu, tak ayal lagi, Obamalah presiden yang paling humoris. Humor yang sangat cerdas. Bukan humor yang membuat posisi presiden turun ke level pelawak. Humor yang kadang menguliti dirinya sendiri.

Misalnya, dia ceritakan betapa mudanya dirinya saat jadi presiden dulu. Kini, katanya, rambutnya sudah abu-abu. Beda, katanya, dengan istrinya yang tetap kelihatan muda dan cantik. Lantas, di layar dia tampilkan slide tiga fotonya berdua dengan istri. Saat pertama jadi presiden, saat terpilih lagi empat tahun kemudian, dan foto tahun terakhir jadi presiden.

BACA  Dua Apel

Di foto pertama sama- sama kelihatan muda. Di foto kedua sang istri terlihat kian modis, sedangkan Obama kian terlihat tua. Yang lucu foto ketiga. Sang istri tetap cantik, sedangkan wajah Obama sudah menjadi wajah tengkorak. Rupanya, Obama sengaja mengganti foto bagian kepalanya dengan tengkorak kepala.

Presiden Clinton dalam humornya juga sering mengerjai dirinya sendiri. Misalnya, saat tampil terakhir di forum yang sama 16 tahun yang lalu. Itu adalah tahun terakhir masa jabatannya yang kedua. Saat itu Clinton baru saja jadi bulan-bulanan. Terkait dengan hubungannya dengan gadis Lewinsky.

Laman: 1 2 3


Komentar