Senin, 23 Maret 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



In Memoriam Abram Badu: Wafat Setelah Take Off

Oleh Berita Hargo , dalam Features Indonesia 99 Kata , pada Jumat, 6 Desember 2019
  

Hargo.co.id – KABAR duka menyelimuti dunia pendidikan Kota Gorontalo. Abram Badu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo meninggal dunia di usia yang ke-52. Pria kelahiran Bolaang Mongondow itu ‘pergi’, namun amal, karya dan kerja kerasnya bagi pendidikan Gorontalo tetap menjadi warisan abadi yang menginspirasi. Abram Badu wafat dengan tenang saat penerbangan pulang ke Gorontalo menggunakan pesawat Lion Air, Kamis pagi (05/12/2019).

Abrham duduk di kursi tengah yang diapit sepupunya, Kasman Kiama, dan istrinya, Nurlena Hasan. Setelah pesawat take off dari Bandara Sukarno Hatta menuju Bandara Sultan Hassanudin, Kasman tahu jika sepupunya itu telah menghembuskan nafas terakhir. Kasman kemudian membiarkan Abram terbaring dipundaknya, istri Abram, Nurlena Hasan, ketika itu belum mengetahui jika Abram telah wafat, termasuk keluarga yang ikut dalam penerbangan itu. Abram memang dalam perawatan medis di Jakarta, ia dirawat di rumah sakit Pertamina, Jakarta, namun ia meminta untuk segera pulang ke Gorontalo.

Begitu tiba di Bandara Djalaluddin Gorontalo, tangis pun pecah, seluruh anggota keluarga yang mendampingi baru menyadari, ayah tiga anak itu telah tiada. “Dalam perjalanan, almarhum masih sempat mengobrol, lalu tertidur tenang. Saya sadar, beliau sudah pergi, tetapi karena tak mau membuat suasana gaduh di pesawat. Saya biarkan almarhum terbaring dipundak selama di Bandara Hasanuddin hingga tiba di Gorontalo,” ujar Kasman yang ditemui Gorontalo Post di rumah duka di Jl. Palma, Kelurahan Libuo, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo seusai penguburan.

Abram Badu, yang cuti sakit sejak lebih dari sebulan lalu sempat dirawat intensif di RS Pertamina, Jakarta. Dalam proses perawatan itu, ia mendadak meminta dipulangkan ke Gorontalo, kondisinya memang drop, di tengah perjalanan, antara Jakarta dan Makassar, ia wafat. Abram dikebumikan di pekuburan keluarga di Dulomo Utara, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Selain istri dan sanak keluarga, prosesi pemakamannya dihadiri para pejabat di lingkup Pemerintah Kota dan Provinsi Gorontalo, juga para guru dan siswa se-Kota Gorontalo.

Sepanjang perjalanan karirnya, Abram adalah sosok birokat berprestasi yang memiliki semangat kerja tinggi. Ia mengawali pengabdiannya sebagai insan cendekia di SMA Tilamuta dengan mengajar matematika selama kurun waktu 1989-1991. Pria kelahiran Bolaang Mongondow, 11 April 1967 itu kemudian meneruskan amal baktinya sebagai guru di SMA Negeri 3 Gorontalo. Karena prestasinya, antara 2003 — 2011, berturut-turut, Abram bisa menduduki kepala SMP Negeri 8, Kepala SMK Negeri 4 Gorontalo dan Kepala SMA Negeri 3 Gorontalo. Ia juga sempat menjadi pengawas pendidikan, sebelum dilantik Walikota Gorontalo Marten Taha sebagai Kepala Dinas Dikbud Kota Gorontalo pada tahun 2016. Gelar akademik terakhir Abram Badu adalah doktor dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Dalam waktu singkat menjadi Kepala Dinas Dikbud, Abram berjasa besar bagi kemajuan prestasi pendidikan Kota Gorontalo. Kecakapannya mengelola manajemen pendidikan, membuat Kota Gorontalo mendulang deretan prestasi sampai di pentas nasional. Kota Gorontalo tiga kali meraih Anugerah Kihajar, banyak sekolah yang mendapat prestasi adiwiyata, banyak guru dan siswa yang meraup rangking utama, banyak siswa yang hampir putus sekolah diselamatkannya berkat pengelolaan pendidikan gratis.

Dialah tokoh yang paling getol mendorong guru-guru di Kota Gorontalo agar melek Teknologi dan Informasi sekaligus inovatif perumus konsep pendidikan IT yang berkolerasi dengan kearfian lokal. Abram telah menancapkan keberhasilan menjalankan dengan baik upaya Pemkot Gorontalo memperluas akses pendidikan, memperbaiki tata kelola pendidikan sehingga kini bisa fokus seutuhnya pada penguatan mutu.

Karena peran besar itu, Pemkot Gorontalo merasa kehilangan motor penggerak pendidikan sebagaimana diakui Sekretaris Daerah Kota Gorontalo Ismail Madjid. Saat hadir pada proses pemakaman almarhum, Ismail tak kuasa menahan air mata ketika mengenang sosok Abram yang cerdas, pekerja keras namun memiliki jiwa sosial yang tinggi.

“Almarhum orang baik. Jasanya besar bagi Kota Gor Sekolah-sekolah kita ini bisa maju berkat kepemimpinannya. Kerja dan amal baktinya akan selalu dikenang dan menjadi contoh bagi kita semua,” ujar Ismail.

Teladan berharga yang diwariskan Abram juga contoh pekerja keras dan pengabdian tulus yang hanya dibatasi oleh kematian. Ia adalah sosok yang memiliki semangat hidup tinggi. Meski dalam sakit yang panjang, Abram tetap bekerja menjalankan tanggungjawabnya, mengurusi pendidikan, memperhatikan guru dan siswa. Dia adalah contoh bagaimana persoalan sakit, lelah dan kekalutan tak menjadi penghalang untuk menembus batas-batas diri dalam berbuat kebaikan.

Kabid Dikdas Dikbud Kota Gorontalo Lukman Kasim mengenang, bagaimana hari-hari Abram di kantor yang tak kenal lelah. Lukman mengetahui, Abram menderita penyakit maag akut, bahkan sempat berkali-kali harus dilarikan ke rumah saat sedang bekerja di kantor.

Namun, tipe Abram yang memang pekerja keras, terkadang membuat ia dan rekan-rekannya khawatir. Walau pernah ada larangan dokter untuk lebih banyak beristrahat, ia tetap memaksa bekerja. Di dalam sakit, ia menjadi motivator bagi bawahannya agar terus meningkatkan kompetensi dan kinerja.

“Beliau ini orangnya humoris, tapi tegas. Waktu kerja, sangat serius. Ia manajer pendidikan yang cakap. Satu pesan penting yang selalu saya ingat dari belaiu, perbaiki integritas,” katanya.

Lukman juga menuturkan, ada beberapa target utama yang sebetulnya kini sedang dipacu Abram sejalan dengan keseriusannya meningkatkan mutu pendidikan, termasuk menyangkut sekolah adiwiyata dan program kihajar. Pada tahun ini, meski penilaian pusat sudah ekstra ketat, Kota Gorontalo bisa meloloskan dua sekolah. Di tengah situasi itu, ia cuti sakit, dan akhir meninggal dunia.
Saran kepada almarhum untuk lebih banyak beristirahat juga sering disarankan keluarga.

Apalagi ia telah mengalami sakit serius sejak dua tahun silam. Abram juga pernah beberapa kali dioperasi di Makasar dan Jakarta. Namun, semua sakitnya itu dikalahkan oleh semangat pengabdiannya hingga nafas terakhir.

“Saya selalu menyarankan kepada almarhum agar istrahat lebih banyak karena kondisi kesehatan kurang baik, namun almarhum menolak dan mengatakan dia sehat. Pesannya kepada kita, jadilah orang yang amanah,” kata Samsul Bahri Badu, saudara almarhum.

Kepala SMA Negeri 1 Kota Gorontalo, Abdurrahman Deu mengungkapkan, Abram adalah sosok pemimpin yang begitu mengerti perasaan dan masalah yang dihadapi siswa, guru dan kepala sekolah dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Selain itu, yang membuat para guru salut. Abram hampir tak pernah absen dalam acara-acara kependidikan. Saat lagi marak-maraknya persoalan siswa yang terindikasi terlibat panah wayer, ia masih tetap berusaha mengontrol meski sakit.

“Kami kehilangan teladan berharga. Contoh guru, contoh kita semua,” kata Abdurrahman.Kini, Abram Badu telah tiada. Mengenang perjalanan hidupnya, terbetik harmoni hati tentang pengabdian tulus yang hanya dibatasi oleh mati. Namun, dalam mati, jasa, karya dan amal baktinya, akan tetap abadi. Selamat jalan, pak Guru, Abram Badu. (gp/hg)