Kamis, 13 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Dia, 10 Pemenang Lomba Desain Arsitektur Nusantara

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Rabu, 26 Oktober 2016 | 14:31 WITA Tag: , ,
  


Sejak 2013 Propan Raya sudah menggelar sayembara desain arsitektur budaya Indonesia, agar kita menjadi tuan rumah di negari sendiri dan mengangkat nama Indonesia di level dunia,” ucap Hendra Adidharma.

Sayembara Desain Rumah Wisata atau homestay ini sudah digagas sejak 10 November 2014, saat Menparekraf Arief Yahya –sebelum, Kementerian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif dipecah—blusukan ke Propan Raya.

Lalu dilanjutkan dengan arahan Presiden Joko Widodo tentang pentingnya mengembalikan jati diri dan identitas budaya lokal dengan menelorkan ide “Arsitektur Nusantara” di Mandeh, Pesisir Selatan, Sumbar, 10 Oktober 2015, dan Borobudur, 29 Januari 2016.

BACA  Usai Alom: Ilaga Papua Daerah Keramat, Jangan Main-Main!

Maka disusun kerjasama tiga lembaga, Kemenpar, Bekraf dan Propan Raya, untuk membuat sayembara desain Arsitektur Nusantara untuk 10 Destinasi Prioritas yang biasa disebut 10 Bali Baru itu. Kemenpar menyiapkan hadiah total Rp 1 M untuk pemenang lomba desain yang digulirkan bersama.

“Kebetulan kami bersama Kemen PU PR juga akan membangun 100.000 homestay di destinasi, maka Sayembara desain itu difokuskan untuk homestay,” jelas Arief Yahya.

Mengapa diprioritaskan untuk homestay? Pertama, sektor tourism itu mirip dengan telecommunication dan transportation, yang biasa disebut dengan 3T. Di Telco ada istilah Budget Telco atau budget operator dan sudah menjadi basic need atau kebutuhan dasar dengan system pre paid atau biaya abonement kecil.

BACA  Febri: Muka KPK Diselamatkan Mereka yang Tak Lulus TWK!

Di Transportasi ada sebutan LCC atau Low Cost Carrier, airlines yang berbiaya ekonomis, seperti Citilink, Air Asia dan Lions. Di Tourism pun akan kami dorong membangun lebih banyak LCT Low Cost Tourism dalam akomodasi, yang sering disebut homestay atau rumah wisata.

Bahkan, Menpar Arief Yahya sudah mempresentasikan konsep LCT itu ke markas UNWTO –Lembaga PBB yang bergerak di bidang Pariwisata—di Madrid Spanyol, bersama tim sembilan Board of Directors-nya yang dipimpin Sekjen Taleb Rifai.

BACA  Positif Covid-19, Ustaz Tengku Zulkarnain Meninggal Dunia

Jika 100.000 homestay itu sukses terbangun hingga 2019, maka target kapasitas akomodasi untuk menampung wisatawan bisa terpenuhi. “Kedua, inilah yang kami sebut dengan Sharing Economy atau bahasa Pak Presiden Joko Widodo disebut Ekonomi Gotong Royong,” jelas dia.

Jika Desa Wisata –konsep yang dimiliki Kemendes PDT itu ada 70.000 desa. Maka, homestay itu bisa diduplikasi lebih banyak lagi dengan B to B, business to business. Ketiga, system pemasarannya pun akan dibuat dengan Go Digital.

Laman: 1 2 3


Komentar