Sabtu, 2 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Isi ‘Curhatan’ Guru Honorer di Gorontalo ke Wamenag RI

Oleh Admin Hargo , dalam Kab. Gorontalo , pada Sabtu, 30 Oktober 2021 | 12:05 Tag: , , ,
  Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Saadi sebelum bertatap muka bersama guru honorer di Kabupaten Gorontalo. (Foto: Herman Abdullah/HARGO).

Hargo.co.id, GORONTALO – Kunjungan Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Zainut Tauhid Saadi di Provinsi Gorontalo dimanfaatkan Para guru Honorer di Kabupaten Gorontalo untuk menyampaikan keluhan mereka terkait status honorer dan persoalan tunjangan kinerja.

Keluhan tersebut disampaikan para honorer saat Zainut Tauhid Saadi berkunjung ke Ballroom Masjid Baitul Izza Limboto, Kabupaten Gorontalo. Saat itu, Dirinya memberi ruang untuk berdialog bersama para guru honorer agar bisa menyampaikan aspirasi mereka.

Irmawati Pulubuhu, salah satu guru honorer yang hadir dalam pertemuan itu meminta kejelasan terkait perbedaan selisih tunjangan Kinerja mereka. Menurutnya, ada perlakuan berbeda yang diterima antara guru madrasah yang diangkat pemerintah daerah (Pemda) dengan guru yang ditempatkan di Pemda.

“Guru pendidikan Agama islam itu tidak mendapatkan selisih tunjangan kinerja. Sedangkan, guru pemda yang ditempatkan di madrasah itu mendapatkan selisih tunjangan Kinerja. Ini sebenarnya ada apa,” tanya Irmawati Pulubuhu

Dirinya mengatakan, selisih tunjangan itu dibayarkan pada 2015. Sedangkan, guru agama yang diangkat Kemenag baru akan dibayarkan pada 2018. Irmawati Pulubuhu menanyakan penyebab perbedaan waktu pembayaran tunjangan tersebut.

“Mengapa tidak disamakan waktu pembayarannya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya juga mempertanyakan terkait persoalan sertifikasi guru. Dilihat dari lama kerja, kata dia, seharusnya para guru agama tersebut sudah memiliki sertifikasi. Namun hingga kini mereka belum mendapatkannya.

“Teman-teman kami, guru pendidikan agama islam baik ASN maupun non ASN sudah lama mengabdi. Tapi belum juga disertifikasi,” sambung Irmawati Pulubuhu.

Bagaimana tanggapan Zainut Tauhid Saadi terkait persoalan tersebut? Menurutnya, hal itu masih manusiawi. Walaupun pemerintah sudah berusaha melakukan yang terbaik, segala sesuatu pasti ada kendalanya. Meski begitu, pihaknya akan tetap memperjuangkan hak hak yang sama sesuai yang diinginkan.

“Kementerian Agama tetap memperjuangkan agar memiliki hak hak yang sama. Seperti yang disampaikan tadi, seperti tunjangan kinerja, sertifikasi dan lain lain. Hanya saja proses pembayarannya ada perbedaan. Begitu kira-kira. Saya tidak mengatakan itu bagian dari diskriminasi. Bukan begitu,” jelas Zainut Tauhid Saadi. 

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Zubair Pomalingo saat dikonfirmasi menyampaikan perbedaan selisih Tukin itu memang kebijakan dari Kemenag Dengan alasan mereka yang berwenang itu.

“Perbedaannya ya memang dari Kemenag. Karena mereka itu vertikal. Kita tidak bisa mencampuri lebih dalam,” ucap Zubair.

Pengangkatan yang dilakukan terhadap guru honor sebanyak 137 itu, kata Zubair,  dasarnya atas pengusulan yang diambil Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo.

“Rencana bupati itu, 365 yang diangkat jadi honorer Pemda. Sekarang baru 137. Mudah-mudahan akan ketambahan,” terang Zubair Pomalingo. (***)

 

Penulis : Herman Abdullah

(Visited 65 times, 1 visits today)

Komentar