Jumat, 3 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Sikap Komisi II DPRD Kabupaten Gorontalo Terkait PLN 

Oleh Admin Hargo , dalam Legislatif , pada Jumat, 12 November 2021 | 00:05 AM Tag: , ,
  Komisi ll saat melakukan rapat dengar pendapat dengan PLN dan pelanggan yang melaporkan kilometernya dicopot. (Foto Deice Pomalingo/HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Secara tegas Ketua Komisi ll DPRD Kabupaten Gorontalo, Ali Polapa memperingati Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengutamakan humanis. Ini  dalam rangka pendekatan ke masyarakat. 

Hal ini diungkapkan Ali Polapa ketika memediasi persoalan PLN dengan salah seorang konsumen, atas nama Fatma Kasim di Desa Limehe Timur  Kecamatan Tabongo,  Selasa (09/11/2021) Ali Polapa mengatakan, berdasarkan pengaduan dari konsumen tentang tindakan PLN yang mencopot kilometer.

Itu lantas membuat Komisi II mengundang pihak PLN dan pelapor dalam hal ini Fatma Kasim dan suami untuk dilakukan mediasi. Kesimpulan  PLN akan mencari siapa yang sebetulnya memindahkan kilometer tersebut, karena sesuai SOP tidak boleh memindahkan kilometer dari satu rumah  ke rumah lain. Tapi yang namanya konsumen tak paham atas SOP tersebut. 

“Sehingga Komisi ll menyoroti PLN, yang seharusnya melakukan pendekatan terlebih dahulu pada konsumen. Serta memberi pemahaman atau peringatan lebih awal kepada Fatma Kasim,” kata Ali Polapa.

Seperti diketahui Fatma Kasim ini adalah pemohon di 2004 dan lampu tersebut justru dipasang di rumah tua. Seiring berjalan waktu, meteran itu dipindahkan ke rumah baru, sementara Fatma Kasim tak tahu prosedurnya. 

Dirinya hanya melihat tetangga yang memasang kilometer, sehingga dirinya bertanya pada petugas PLN yang memasang kilometer di rumah tetangga apakah boleh memindahkan kilometer di rumah tuanya ke rumahnya yang baru.

Dikatakan Ali Polapa, dalam rangka penindakan PLN ternyata tidak menggunakan cara-cara pendekatan ke masyarakat dan membuat Komisi ll menyesalkan hal tersebut, karena kondisinya tuan rumah tak berada dirumah tetapi kenapa PLN langsung menabut tanpa memberitahukan kepada tuan rumah dalam hal ini konsumen. 

“Konsumen ini harus diutamakan, karena konsumen itu sebenarnya pemilik PLN, karena jika tak ada konsumen apa yang akan dilayani oleh PLN,” tegas Ali Polapa. (***)

 

Penulis: Deice Pomalingo 

(Visited 10 times, 1 visits today)

Komentar