Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Sosok Polwan Cantik yang Sempat Tersandera Kelompok Bersenjata

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Nusantara , pada Selasa, 3 November 2020 | 17:35 WITA Tag: , ,
  Foto: diambil dari Instagram hikmanursyaa


Hargo.co.id, JOGJA – Polwan cantik yang satu ini sempat menjadi omongan dan viral di media sosial. Briptu Hikma Nur Syafa Atun namanya. Ima panggilannya.

Beragam unggahannya saat bertugas sebagai Formed Police Unit (FPU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencuri perhatian.

Tak sekadar paras cantiknya, tetapi juga kedekatan dengan warga, khususnya anak-anak di Bangui Afrika Tengah.

Polwan Satlantas Polres Bantul ini bertugas sebagai FPU di Bangui, Afrika Tengah sejak pertengahan 2019.

https://www.instagram.com/p/CDyScTVnMHP/?utm_source=ig_web_copy_link

Dia menceritakan beragam kisahnya.

Termasuk saat disandera oleh kelompok bersenjata Bangui.

Melalui negosiasi yang alot akhirnya Briptu Ima dan timnya dilepaskan.

“Serangan senjata penembakan memang banyak dan sering terjadi. Masyarakat (Bangui) memang umum membawa senjata, tetapi sekarang sudah mulai diatur oleh UN. Memang berisiko dan muncul ancaman, tetapi tidak sampai melukai,” kata Ima di Gedung PAM Obvit Polda DIJ, Senin (2/11).

Bertugas selama satu tahun tiga bulan menjadi pengalaman tak terlupakan baginya.

Polwan kelahiran Bantul 1 Agustus 1994 mengaku Bangui adalah negara yang indah.

Terlepas dari konflik, warga khususnya anak-anak sangat dekat dengan pasukan FPU asal Indonesia.

BACA  Terkait Protokol Kesehatan, Doni Monardo Ingatkan Seluruh Kepala Daerah

Menjadi pasukan pertama yang terjun ke Bangui tidaklah mudah.

Ima bersama 139 personel FPU lainnya harus babad gurun.

Lokasi markas komando awalnya hanyalah hamparan pasir. Belum ada bangunan, apalagi markas komando bagi FPU PBB.

“Daerah yang kami tempati belum ada pasukan perdamaian sebelumnya. Kami tim pertama yang datang. Tentu tidak mudah untuk melakukan pendekatan kepada warga,” kenangnya.

Jangan bayangkan bangunan dengan ranjang yang nyaman. Untuk mengistirahatkan tubuh, Briptu Ima harus tidur dalam sebuah tenda.

Ini karena camp tempatnya bertugas masih baru.

Delapan jam berjaga sudah menjadi santapan rutinnya.

https://www.instagram.com/p/CDDuh4BHLgj/?utm_source=ig_web_copy_link

Tak lupa rompi antipeluru, helm baja, dan senjata laras panjang tak pernah lepas dari tubuhnya. Bukan untuk menakuti-nakuti, tetapi perlengkapan itu standar selama bertugas.

“Suara tembakan sudah terdengar biasa. Kalau di jalan-jalan bisa lihat warga menenteng AK-47. Ditambah lagi saat ini sedang ada pemilu di Bangui. Setiap kandidat itu punya pendukung pasukan bersenjata sendiri,” tuturnya.

Briptu Ima mengaku sedih atas kondisi di Bangui.

BACA  Melahirkan dalam Penerbangan, Ibu dan Anak Penumpang Lion Air Selamat

Untuk sebuah wilayah berdaulat, tetapi tidak aman dan nyaman ditinggali.

Ditambah lagi banyak anak kecil di kawasan tersebut. Sebagian anak kecil inilah yang terlihat dalam unggahan akun sosial media miliknya.

Ada rasa iba dalam hatinya saat bertemu anak-anak kecil tersebut. Uluran tangan minta makan selalu dia temukan.

Hanya saja, dia tidak bisa langsung memberikan makanan. Ini karena aturan tersebut telah terpatri selama bertugas.

“Masih serbakekurangan, terutama makanan dan minuman. Anak-anak kalau dikasih permen atau biskuit senang banget, sebenarnya dari UN memang melarang, tetapi kami enggak tegel (tega). Akhirnya berbagi makanan,” kata lulusan SMPN 2 Sewon ini.

Ima menceritakan perjalanan proses seleksi FPU.

Berawal dari pengumuman pendaftaran di akhir 2017, lalu dia mendaftar Januari 2018 dan diterima Februari 2018.

Selanjutnya April mulai menjalani pelatihan. Tes berlangsung secara ketat dan bertahap layaknya pendaftaran awal personel Polri.

Setelah proses yang cukup panjang, akhirnya bungsu dua bersaudara ini berangkat Juli 2018.

Tak sendiri, Ima turut menjadi bagian dari 14 Polwan yang lolos sebagai FPU PBB.

BACA  Ini Deretan Pasal Janggal UU Cipta Kerja yang Diteken Presiden Jokowi

Sementara untuk Jogjakarta, selain Ima adapula AKP Leonisa.

“Masih harus sekolah bahasa Prancis. Kurang lebih satu tahun belajar di IFI Jogja terus lanjut lagi di IFI Jakarta. Masih ditambah pelatihan internal dari kepolisian,” ujarnya.

Interaksi demi interaksi dengan warga lokal berlangsung intens.

Kedekatan emosional telah terjalin antara Briptu Ima dengan warga sekitar camp. Walau rawan konflik, Briptu Ima menilai warga setempat sangatlah ramah.

Kesempatan ini dia gunakan untuk berkomunikasi. Termasuk mengenalkan Indonesia kepada warga, khususnya anak-anak. Sambutan hangat selalu dia terima selama berkomunikasi. Kuncinya adalah mengedepankan kearifan lokal Indoneisa, senyum, sapa, dan salam.

“Pulang kemarin, kebetulan camp dan bandara dekat, anak-anak menangis begitu tahu kami akan pulang. (Pasukan) Indonesia dikenal baik banget, terkenal loyal dan ramah. Masih komunikasi sampai sekarang, sudah menyimpan nomor WhatsApp,” pungkasnya.(dwi/tif/radarjogja/jpnn/hg)

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JPNN.com, dengan judul: “Briptu Ima, Polwan Cantik yang Sempat Tersandera Kelompok Bersenjata“. Pada edisi Selasa, 03 November 2020.

Komentar