Friday, 23 July 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ini Upaya Perangi Kekerasan Seksual dan Perundungan di Kampus

Oleh Admin Hargo , dalam Edukasi , pada Thursday, 15 July 2021 | 08:05 AM Tags: ,
  Psikolog Kabupaten Gorontalo, Temmy Habibie salah satu narasumber yang diundang pada kegiatan Webinar ‘Kekerasan seksual dan perundungan’ oleh PIK-M Palebohu UNG. (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Beberapa tahun terakhir kasus kekerasan seksual dan perundungan (Bullying) menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat terutama kalangan mahasiswa. Pelecehan seksual dan perundungan bisa terjadi pada siapa saja, dan kapan saja termasuk pria dan wanita. Namun, untuk kasus kekerasan seksual banyak terjadi terutama pada kaum perempuan.

Kedua kasus tersebut bukan hanya terjadi dalam lingkungan masyarakat, namun kerap terjadi di lingkungan kampus. Sampai sekarang, banyak orang yang belum memahami perilaku apa saja yang termasuk dalam kategori pelecehan seksual dan perundungan (bullying).

Sebagai upaya untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa dan mahasiswi  maupun calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi dengan mengetahui ciri-ciri pelaku yang akan melakukan atau yang sudah menjadi korban kekerasan seksual dan perundingan di lingkungan kampus, PIK-M (Pusat Informasi Konseling Mahasiswa) Palebohu UNG menggelar Webinar Nasional dengan tema ‘Kampus mencegah kekerasan seksual dan perundungan pada mahasiswa’ Senin, (12/07/2021).

Kegiatan tersebut tentu saja dilaksanakan secara daring mengingat pandemi Covid-19 di provinsi Gorontalo yang terus meningkat.

Kasus kekerasan seksual kebanyakan terjadi antara dosen dan mahasiswa dan mahasiswinya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut bisa juga terjadi antar mahasiswa. Selain itu, kasus perundungan kerap terjadi antara mahasiswa senior dan junior, biasanya terjadi disaat masa Ospek atau orientasi studi dan pengenalan kampus.

Dalam Webinar tersebut, Mantan Komisioner Komnas Perempuan, Riri Khorirah yang juga sebagai narasumber mengungkapkan penyebab kasus kekerasan seksual di kampus susah dibuka atau sulit dibuktikan karena beberapa alasan sebagai berikut.

“Pertama, kasus tersebut melibatkan orang-orang yang mempunyai otoritas di kampus. Sehingga mengakibatkan posisi korban berada di bawah kendali pelaku. Kedua, budaya kampus yang lebih mementingkan nama baik kampus, karena kampus tidak ingin dikenal sebagai kampus yang tidak aman,” kata Riri Khorirah.

Solusi yang diberikan Riri Khorirah yakni penting adanya sistem pengamanan dan pencegahan di kampus. Ini dapat mencegah dan dapat mengurangi serta merespon kasus-kasus yang ada. Tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan publik kepada kampus tersebut sehingga ketika ada kasus bisa tertangani dengan baik.

Psikolog Kabupaten Gorontalo, Temmy Habibie S.Psi, Psi yang juga sebagai narasumber mengatakan, kekerasan seksual di kampus bukan hanya terjadi karena pakaian korban tapi dari relasi kekuasaan pelaku.

“Hal tersebut kerap membuat korban menjadi bungkam karena mendapat ancaman nilai dan sebagainya,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Karmila Machmud S.Pd, M.A, Ph.D berharap kegiatan ini akan menghasilkan rekomendasi untuk menyusun regulasi di Universitas Negeri Gorontalo yang dimana didalamnya dapat melindungi hak-hak seluruh mahasiswa dan mahasiswi dari kekerasan seksual maupun perundungan. (***)

Penulis: Rita Setiawati

(Visited 50 times, 1 visits today)

Komentar