Rabu, 12 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Jadi Korban Kebakaran, 1 KK di Dutohe Barat Himpitan di Dapur

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Rabu, 5 Oktober 2016 | 13:50 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id KABILA – Belum mendapatkan Bantuan, Suleman Akuba (56) warga Desa Olohuta Barat, Kecamatan Kabila KAbupaten Gorontalo, terpaksa tidur berdempetan di dapur bersama keluarganya, setelah bangunan rumah mereka di lalap api Rabu (23/8) bulan kemarin.

Hingga kini mereka terus mengharapkan bantuan pemerintah untuk memperbaiki tempat tinggal mereka.

Mengintip suasana kediaman keluarga Suleman Akuba yang berada di Kelurahan Olohuta, Kecamatan Kabila Kabupaten Bonbol, benar-benar sangat meprihatinya.

Susasana sore hari dengan dengan guyuran hujan yang berbunyi di atas genteng merupakan satu rahmad yang di berikan oleh maha pencipta.

Namun hal serupa nampaknya sedikit membuat Suleman bersama sang istri Rani Djakaria sedikit kewalahan, pasalnya setelah peristiwa kebakaran yang menimpah keluarga mereka.

Suleman bersama istri dan anaknya tersebut harus tidur berhimpitan di dapur yang berukuran kecil. hal itu terjadi lantara kobaran api yang membakar tempat tinggal mereka.

BACA  Kamis, 06 Mei 2021, Tepat Pukul 00.00 Wita, Pintu Masuk Gorontalo Dikunci

Pantauan Gorontalo Post Kemarin, meski di lihat dari jarak 20 meter bangunan rumah yang berdiri dengan diding beton, berbeda dengan kondisinya, bagian atap bangunan tersebut terdapat lubang-lubang, sehingga di saat musim hujan tersebut tempat mereka pastinya terlihat genangan air.

Saat mengintip lokasi dampur yang hingga kini menjadi tempat peristrahatan mereka memang sangat juga memprihatinkan, selain ukuranya sempit, mereka harus keolahan saat musih musan terjadi, pasalnya bagian atap dapur yang tersisa itu juga memiliki lobang, sehingga mereka sangat repat jika malam harinya.

Saat di wawancarai Gorontalo Post, Rani Djakaria mengatakan, hingga kini mereka terus mengharapkan agar mendapatkan bantuan dari pemerintah, agar dapat memperbaiki bangunan rumah tersebut.

BACA  Sebanyak 1.205 Jiwa dan 317 Hektar Sawah Terdampak Banjir di Limboto Barat

“saya ini heran sejak dulu sampai skarang saya ini tidak pernah mo dpa bantuan dari pemerintah, kecuali beras raskin,”ungkap Rani dengan mata berkaca-kaca.

Rani Juga menambahkan, meski bangunan tersebut tak layak untuk di tempati, dirinya sama sekali tak berniat untuk mengungsi ke tempat manapun.

Pasalnya bangunan rumah tersebut berdiri dengan jari paya hanya, mengharapkan pendapatan sebagai pencuci di rumah warga, dalam sehari saja dirinya mencuci pakaian di tiga tempat yang berbeda, di sanalah dirinya bisa mendapatkan upah sebesar Rp 300 Ribu perbulanya.

“pokonya tiap hari saya mo bacuci di tiga rumah, saya pe gaji itu 100 tiap bulan di satu rumah,”jelasnya.

Lebih lanjut rani menceritakan, saat ini dirinya tak bisa berharap besar dari sang sumai, pasalnya di rumah tersebut dirinya layaknya seorang kepala rumah tangga.

BACA  Beraksi di Bone Bolango, Begal Payudara Diringkus Polisi

Setelah suaminya menderita penyakit usus turun sejak 10 tahun lalu hingga saat ini, denganbegitu suaminya tersebut sudah tak mampu lagi untuk berkerja mencari penghasilan,” saya sangat berharap agar pemerintah bisa memeberikan bantuan terhadap mereka,” katanya.

Begitua rani menjelaskan sambil mengok ke atap rumahn, jika malam harinya dirinya bersama keluarga terus menjerit kedinginan, namun tak tahu lagi apa yang bisa di lakukan, mereka hanya terus bersama dan berdoa agar terus diberikan kesehatan.

“muda-mudahan saya mo dapat bantuan biar cuman sadiki-sadiki soaya so bersukur, karna ada bangun ini rumah bahanya saya beli lain lain,”pungkasnya.(tr-53/hargo)


Komentar