Jangan Suka Sedih, Kesedihan Bisa Bikin…

LifeStyle
  Ilustrasi (Dite Surendra/jawa pos/jawapos.com)

Stres fisik maupun emosi merangsang produksi hormon kortisol yang diperlukan tubuh sebagai penyedia energi dan pengendali stres. Namun, efek sampingnya berpotensi melemahkan sistem imunitas tubuh. Itulah mengapa ketika mengalami tekanan, seseorang mudah terkena flu, demam, sakit perut, dan gangguan kesehatan lainnya.

banner 300x300

”Dalam kondisi ketika emosi yang dihadapi terlalu hebat, semua sistem yang disiapkan tubuh itu gagal,” papar ahli fisiologi senior tersebut. Seolah organ tubuh mendapat ”perintah” dari otak untuk menyerah. Flight (kabur/menyerah) dalam arti makin lama fungsi organ-organ tubuh menurun hingga kondisi terburuknya, meninggal. Atau, mengalami depresi.

Kemungkinan lain, menjadi manic. ”Itu, antara lain, akibat dari kegagalan mengatasi stres,” urainya. Maka, sejatinya organ yang paling berperan adalah otak, sedangkan hati merupakan organ sasaran dari otak.

Sementara itu, ketika seseorang jatuh cinta, mata akan melebar, debar jantung meningkat, dan wajah memerah. Hal itu merupakan kerja hormon-hormon yang dikendalikan hipotalamus pada otak, bukan hati. Melalui hipotalamus, otak memberikan sinyal pada kelenjar hipofisis untuk mengatur hati.

banner 728x485

”Otak memberi perintah, eh, bikin gulanya ditinggikan, nih orang perlu energi untuk ujian atau mau melamar pacar,” bebernya. Peran hati lebih banyak berkaitan dengan sistem imunoglobulin.

Ketika patah hati atau berduka atas kepergian sosok tercinta, manifestasi kesedihan itu berpengaruh terhadap fisik. ”Satu per satu kemampuan organnya menurun,” jelas dr Minarma. Terutama pada lansia, kemampuan untuk bertahan dari stresor semakin lemah. (nor/c7/ayi/tia/hg)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *