Jumat, 23 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Jika Diizinkan, Salat Id di Bone Bolango Diundur Sejam dan Disertai Qunut Nazilah

Oleh Zulkifli Polimengo , dalam Headline Kab. Bone Bolango , pada Minggu, 17 Mei 2020 | 11:05 WITA Tag: , ,
  Ilustrasi. Jika diizinkan, maka Salat Id di Bone Bolango akan disertai Qunut Nazilah. (Foto: Istimewa/ Sumber Google)


Hargo.co.id, GORONTALO – Hasil rapat Bupati Bone Bolango, Hamim Pou bersama tokoh agama, diperoleh dua opsi terkait Salat Id di tengah wabah Covid-19. Pertama tetap tak dilakukan Salat Id secara berjamaah, dan kedua dilakukan dengan berbagai syarat.

“Jadi ada 2 skenario yang telah disiapkan pemerintah untuk pelaksanaan Salat Id. Pertama, tak mengisizinkan dilakukan Salat Id berjamaah mengingat Bone Bolango masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19,” kata Hamim Pou.

Skenario kedua yakni tetap dilakukan Salat Id ketika terjadi penurunan penyebaran Covid-19 di Gorontalo dan lebih khusus di Bone Bolango. Salat Id yang dimaksud yakni dilakukan di lapangan terbuka, yang mana tiap kecamatan hanya ada satu lokasi salat. Syarat dan ketentuan tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

BACA  Proyek Jalan Pilolalenga - Biluhu Ditargetkan Selesai Akhir Tahun

Syarat protokol kesehatan yang dimaksud yakni seluruh jamaah wajib mengenakan masker. Selain itu, panitia Salat Id tingkat kecamatan harus menyiapkan alat pengukur suhu, alat cuci tangan dan sabun.

“Hal lain yang berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni ketika Salat Id diizinkan maka dilaksanakan pada pukul 08.00 Wita. Tahun-tahun sebelumnya dimulai pukul 07.00 Wita,” kata Hamim Pou.

BACA  Merapat ke HPMU, Muhlis Hasiru: Yang Mana Rakyat Suka, Saya Dukung

Ada yang menarik lagi, ketika diizinkan maka pada rakaat kedua Salat Id dilakukan qunut yang dikenal dengan Qunut Nazilah. Menurut berbagai sumber, Nazilah memiliki arti yaitu ‘Petaka’, atau musibah yang menimpa seseorang. Rasulullah membaca doa Qunut Nazilah selama satu bulan, setelah mendapatkan musibah.

Dalam konteks Indonesia, doa Qunut Nazilah dapat dibacakan dalam kondisi musibah yang memakan banyak korban. Seperti musibah gempa, longsor, banjir bandang, juga musibah wabah corona atau virus covid19 yang sedang terjadi saat ini.

“Setelah Salat Id selesai, akan dilanjutkan dengan Salat Tolak Bala. Setelah itu tidak diperkenankan bersalaman hingga berpelukan. Ini berlaku di seluruh lapangan jika memang diizinkan dilaksanakan Salat Id berjamaah,” tegas Hamim Pou.

BACA  Terkait Gugatan Masa Jabatan, Kuasa Hukum Hamim Pou Optimis Menang

Akhir pembicaraan, Hamim Pou menegaskan bahwa yang terpenting harus ada pakta integritas. Jaminan dari semua panitia penyelenggara Salat Id di lapangan masing-masing kecamatan, untuk mematuhi segala ketentuan tersebut.

“Tanpa Pakta Integritas, maka kemungkinan kita tidak bisa mengizinkan pelaksanaan Salat Id di lapangan terbuka. Untuk finalisasi hasil keputusan pemerintah daerah ini, akan dikeluarkan pada Rabu, 20 Mei 2020,” tegas Hamim Pou. (zul/hg)


Komentar