Kakek 73 Tahun Persunting Gadis 18 Tahun di Gorontalo

Ali (73) dan Faradila Ismail (18) saat melangsungkan pernikahan di Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Selasa (08/10//2019). (Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Jodoh memang tak pandang usia. Jika dua insan saling saling cinta, maka tak ada yang bisa menghalangi. Seperti kisah pengantin baru di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, yang lagi viral. Pernikahan mereka biasa-biasa saja, yang bikin heboh adalah paut usia keduanya yang cukup jauh, 55 tahun. Mempelai pria berusia 73 tahun, sementara pengantin perempuan baru lulus SMA, usianya 18 tahun.

Hampir tak ada yang percaya seorang pria berusia lanjut, Ali (73), dan seorang gadis Faradila Ismail (18) menjadi satu pasangan yang diikat dalam sebuah janji pernikahan. Namun hal ini benar-benar terjadi. Mereka melangsungkan pernikahan di Paguat, Pohuwato pada Selasa (08/10//2019).

Diketahui Ali merupakan pria asal Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Berdasarkan pengakuan keluarga Faradilla, Ali merupakan seorang pengusaha kelapa sawit dan juga seorang kontraktor. Duda empat anak ini merupakan pendatang di Pohuwato.

Sementara Faradilla Ismail atau yang akrab disapa Dila, merupakan warga Desa Bulili, Kecamatan Duhiadaa. Gadis berparas cantik ini baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di salah satu SMA yang ada di Kecamatan Marisa. Dia adalah anak sulung dari pasangan Irfan Ismail (45) dan Ferawati Babunga (36).

Pernikahan kedua insan dengan selisih usia 55 tahun ini mendadak viral dan menghiasi dinding Facebook dalam dua hari terakhir. Beragam komentar pun mewarnai postingan sejumlah akun Facebook yang menaruh foto-foto kedua mempelai berbahagia ini. Ada yang tak percaya, ada yang berkomentar lucu, dan bahkan tidak sedikit yang mencibir.

Awak media Gorontalo Post (INN Grup)mendatangi kediaman mempelai wanita di Desa Bulili, Kecamatan Duhiadaa tepatnya di dusun Paseda. Sayangnya, baik Dila maupun suaminya, Ali, tidak berada di rumah. Hanya ada ibunya Dila, Ferawati Babunga (36).

Berdasarkan pengakuan Ferawati, awal pertemuan antara Dila dan Ali yakni melalui paman Dila yang kebetulan memiliki hubungan teman dengan Ali.

“Kami memang kenal dia (Ali, red) pak. Dila pe om baku taman deng dia yang memperkenalkan ke kami dulu. (Kami sudah kenal pak Ali. Teman pamannya Dila),” ungkap Ferawati.

Ibu dua anak ini mengakui bahwa putri sulungnya, Dila, telah menjalin hubungan pacaran selama sebulan sebelum mereka melangkah ke jenjang pernikahan.

“Awalnya saya kaget. Dan semua orang tua pasti akan menolak jika anaknya menjalin hubungan dengan orang yang usianya sangat jauh lebih tua,” tuturnya.

Berjalannya waktu setelah mengetahui hubungan anaknya dengan Ali, Ferawati pun berulang kali meyakinkan Dila akan pilihannya itu. Dengan berbagai masukan dan kegelisahan sebagai bahan pertimbangan Dila.

“Dila sudah dewasa dan punya pilihan. Saya hanya berusaha meyakinkan dia dengan memberi masukan. Akan tetapi lambat laun saya lihat hubungan keduanya semakin kuat. Dila juga sudah meyakinkan saya akan pilihannya. Kami pun sebagai orang tua tidak bisa berbuat banyak,” tambahnya.

Hubungan keduanya pun akhirnya mendapat restu dari orang tua Dila. Hingga akhirnya Dila dan Ali melangsungkan pernikahan di Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato.

“Kami juga sudah mengenal Ali dan dia orang baik. Anak kami Dila juga awalnya sudah menanyakan keseriusan Ali. Dia tanya ke Ali kalau memang serius datang ke rumah. Dan Ali menunjukkan keseriusannya dengan langsung melamar Dila,” kata Ferawati.

Dikatakannya bahwa Ali merupakan seorang duda yang telah ditinggal mati oleh istri pertamanya. Ali memiliki empat anak dan juga telah memiliki cucu. “So tidak ingat berapa depe cucu pak. Katanya dia seorang pengusaha sawit dan juga kontraktor,” lanjut Ferawati.

Lebih lanjut Ferawati berharap agar bahtera rumah tangga putri kesayangannya bersama Ali bisa berjalan dengan baik. Dirinya tidak menampik pernikahan ini mendapat penolakan dari kerabat dan keluarga. Dengan berbagai terpaan isu-isu tak sedap yang selalu didengar akan tetapi dirinya tetap yakin terhadap pilihan Dila yang benar-benar tanpa paksaan.

“Biarlah orang diluar sana berkata apa. Kami sebagai orang tua tidak mempermasalahkan anak kami menikah dengan Ali. Justru kami merestuinya karena mereka saling cinta. Dalam waktu dekat, kami sekeluarga akan diajak oleh Ali untuk bersilaturahmi ke keluarga yang ada di Sulteng,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Paguat, Jaswadi S.Ag saat dikonfirmasi awak media mengaku tidak mengetahui prosesi pernikahan Dila dan Ali yang dilangsungkan di wilayahnya.

“Saya tidak mengetahui hal tersebut. Kalaupun ada dan terjadi di Paguat, saya akan cek kembali datanya,” tandasnya. (ayi/gp/hg)

* Artikel ini juga telah diterbitkan di Gorontalo Post edisi Sabtu, 12 Oktober 2019

-