Sabtu, 6 Maret 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kalau Ngotot Ikut Pilkada, 3 Kader Terbaik Golkar Ini Terancam

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 10 Oktober 2017 | 21:35 WITA Tag: , ,
  


Banyaknya kader Golkar yang maju dalam pencalonan Pilkada, Fikram meyakini hal itu tidak akan membingungkan kader dan simpatisan utamanya di tingkat akar rumput. Sebab yang didukung pasti figur calon yang diusung partai. “Sebab kader Golkar dikaderkan dengan pendidikan politik,” tandasnya.

Hal senada juga dikemukakan Marten Taha. Dia menegaskan, seluruh kader Golkar wajib mendukung figur yang sudah ditetapkan oleh DPP untuk diusung dalam setiap perhelatan Pilkada. Hal itu di atur tegas dalam Juklak dan Pedoman Organisasi (PO) Partai Golkar.

BACA  Harta Gubernur Sulsel Didominasi Tanah dan Bangunan

“Bila ada kader Golkar yang tidak mengikuti kebijakan partai, pasti ada sanksi,” kata Marten Taha saat diwawancarai awak media, tadi malam.

Namun demikian lanjut Marten, ketentuan pemberian sanksi tersebut bukan menjadi wewenang dari pihaknya sebagai pengurus ditingkat kabupaten/kota. Kewenangan tersebut berada di tangan DPP melalui evaluasi dari DPD I Provinsi Gorontalo.

“Soal bagaimana bentuk sanksinya apakah dipecat atau ada sanksi lain itu tergantung evaluasi. Kita tidak bisa memutuskan karena yang berhak itu adalah DPP. Yang pasti itu, setiap kader Golkar wajib taat pada ketentuan partai,” jelasnya.

BACA  ‘Si Jago Merah’ Ngamuk di Jalan Andalas, 'Alifa Laundry' Terbakar

Indra Yasin saat dimintai tanggapannya soal ancaman pemecatan menyatakan, dirinya menghormati apapun yang akan diputuskan oleh Golkar. Namun Indra menyatakan, keputusannya untuk ikut Pilkada 2018 jangan dimaknai sebagai upaya ajang untuk berhadap-hadapan dengan Golkar.

“Saya kira, saya tidak berhadap-hadapan dengan Golkar. Tapi kita maju bersama. Ini kan hanya masalah kendaraan saja,” ujar Indra, saat dihubungi via selular tadi malam.

BACA  Sebanyak 1.708 GTT Ikut Ujian Kompetensi

Soal rekomendasi dukungan Golkar yang sudah diberikan kepada Thomas Mopili, Indra mengatakan, ini hal yang biasa dalam politik. Karena itu merupakan keputusan pimpinan partai. “Saya kira kita harus hormati itu,” ujarnya diplomatis.

Rum Pagau yang sempat dimintai tanggapanya belum lama ini memang tidak mengurai gamblang soal posisinya yang nanti akan berhadap-hadapan dengan Golkar. Dia hanya memberi jawaban diplomatis. “Kita harus diam kalau orang tua memarahi kita. Walau kita dalam posisi yang benar,” kata Rum Pagau. (rmb/idm/hargo)

Laman: 1 2


Komentar