Kalender Event, Kemenpar Coret Festival Danau Limboto

Goyang Mopobibi menjadi pelengkap pada pelaksanaan FPDL 2019. Namun, Kemenpar mencoret FPDL dari CoE 2020. (Foto Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencoret Festival Pesona Danau Limboto (FPDL) dalam daftar top 100 event pariwisata Indonesia 2020. Padahal, pada pelaksanaan festival Danau Limboto baru-baru ini, penyelenggara mampu memecahkan rekor tarian terbanyak, yakni Goyang Mopobibi.

Kementerian Pariwisata RI hanya mengakomodir, Festival Karawo dan Festival Pesona Pulau Saronde, masuk dalam calender of event (CoE) 2020. Padahal, sebelumnya Festival Pesona Pulau Saronde tidak termasuk dalam CoE. Agenda pariwisata yang berpusat di Gorontalo Utara ini, dipastikan menggeser Festival Danau Limboto.

Keluarnya nama Festival Danau Limboto dalam daftar CoE mengagetkan Pemda Kabupaten Gorontalo. Bahkan menjadi tanda tanya besar. Pasalnya selama dua tahun berturut-turut event tahunan ini tak pernah absen sebagai 100 Event yang disponsori Kementerian Pariwisata.

“Alasannya juga saya tidak tahu. Saya baru terima informasi itu tadi malam (15/06/2019). Saya juga mencari informasi ke Kementerian Pariwisata itu, yang memberi penjelasan bahwa itu (Event masuk) sesuai dengan usulan (pemerintah) provinsi, mereka tinggal menerima di sana, terus ada tahapannya, harus di ekspose di sana, dan kebetulan yang ekspose di sana juga bukan kita,” ujar Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Gorontalo Yusran Lapananda.

“Intinya FPDL itu benar hilang dari kalender Event pariwisata, tetapi bukan berarti kiamat juga bagai kita, tetap FPDL jalan terus,” lanjut Yusran.

Dirinya menegaskan tak masuk kalender wisata tak berdampak banyak pada FPDL 2020 mendatang. Sebab meskipun masuk dalam kalender Kementerian, seluruh pelaksanaan dan kegiatan FPDL dibiayai oleh anggaran pemerintah.

“Kemarin saja (FPDL 2019) kita hanya dibiayai artis, seluruhnya kita biayai sendiri. Jadi FPDL tetap jalan, karena ini agenda tahunan kita, dan kita akan tetap mengundang mereka (kementerian),” tegas Yusran.

Hanya saja diakui Yusran, yang berbeda Event FPDL tidak ada lagi di kalender kementerian, jadi wisatawan nasional tidak bisa melihat bahwa September itu ada Event FPDL di Kabupaten Gorontalo. Selebihnya tegas Yusran akan tetap sama.

Selain itu Yusran menegaskan tak lagi masuk di CoE bukan gambaran tidak suksesnya FPDL tahun ini. Karena tahun ini dapat dipastikan FPDL jauh lebih semarak, mulai di pembukaan hingga item-item kegiatan yang digelar.

“Kegiatan tahun ini jauh lebih meriah, dari mulai pembukaan hingga penutupan semua meriah. Kita juga berhasil mencatatkan rekor MURI,” terangnya.

“Bahkan jika dibandingkan tahun lalu, tahun ini ada banyak peningkatan. Selain wisatawan, PAD kita meningkat sekali. Tahun lalu PAD hanya Rp 400 juta, tahun ini kita mencapai Rp1,2 miliar tiga kali lipat. Belum lagi ekonomi warga yang sangat terasa perbedaannya,” lanjut Yusran.

Lebih lanjut Mantan Kepala Badan Keuangan itu menambahkan, dengan tidak masuknya FPDL di CoE tahun 2020 justru menjadi cambuk bagi Diporapar untuk lebih memeriahkan FPDL tahun depan.

“Sebenarnya target kita, FPDL ini ada tiga, bagaimana meningkatkan jumlah wisatawan yang datang, meningkatkan pendapatan daerah, dan peningkatan ekonomi rakyat, ini yang akan terus kita kejar di FPDL mendatang, dan kita pastikan ini akan jauh lebih semarak walaupun tak masuk kalender Kementerian Pariwisata,” tegas Yusran. (gp/hg)

-