Jumat, 14 Agustus 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kasus Stunting di Bone Bolango Tinggi, Ini Permintaan Sekda

Oleh Zulkifli Polimengo , dalam Advertorial Kab. Bone Bolango , pada Jumat, 26 Juni 2020 | 08:05 WITA Tag:
  Sekda Bone Bolango, Ishak Ntoma saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pertemuan koordinasi konvergensi lintas sektor di Restaurant Miranti Indah, Kamis (26/06/2020). (Foto Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Rendahnya asupan gizi yang didasari oleh penyakit lingkungan yang tidak sehat, menjadi salah satu faktor penyebab balita mengalami stunting (anak balita pendek), bahkan sekarang tercatat ada sekitar 3 sampai 4 dari 10 orang anak balita di Indonesia yang mengalaminya.

Hal tersebut diutarakan Sekda Kabupaten Bone Bolango Ishak Ntoma, saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pertemuan koordinasi konvergensi lintas sektor Kabupaten Bone Bolango tahun 2020, disalah satu Restaurant yang ada di wilayah Kecamatan Tilongkabila pada Kamis (26/06/2020).

Dikatakannya, selain mengalami gangguan pertumbuhan, anak Balita stunting umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak Balita normal, bahkan ketika dewasa nanti dirinya lebih mudah menderita penyakit tidak menular, dan produktivitas kerja yang lebih rendah.

BACA  Perbaikan Jembatan di Bulango Utara Diusulkan ke Kementerian PUPR

Dari hal tersebut Sekda mengungkapkan bahwa menanggulangi stunting pada anak Balita, sama artinya dengan meningkatkan sumber daya manusia, olehnya itu status gizi maupun kesehatan ibu dan anak yang dikenal dengan 1000 hari pertama kehidupan (golden periode), adalah penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Periode seribu hari pertama kehidupan ini merupakan periode yang sensitif, karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi,”ungkap Ishak Ntoma (Sekda Bone Bolango)

Lebih lanjut Sekda menguraikan, dampak buruk yang ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah terjadinya stunting.

BACA  Seluruh ASN di Lingkungan Pemprov Gorontalo Jalani Rapid Test

“Stunting atau kejadian anak bertubuh pendek adalah salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini. Stunting merupakan akumulasi permasalahan kekurangan gizi yang berlangsung secara kronik,”ujar Ishak Ntoma.

Dari hal tersebut diatas, Sekda Ishak Ntoma mengatakan itulah mengapa kegiatan konvergensi ini digelar, dengan maksud untuk menyusun rencana kegiatan dalam meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi dan penyusunan prioritas.

“Semua OPD teknis harus berkonvergensi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan bersama, terutama harus fokus pada 27 desa lokus yang telah diperoleh dari hasil analisis situasi (aksi satu) yang telah dilakukan sebelumnya,”kata Ishak Ntoma.

BACA  Langgar Protokol Kesehatan, Denda Rp 150 Ribu Menanti

Menurut Sekda Ishak Ntoma, dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan gizi ini, perlu juga dilakukan intervensi spesifik dengan pendekatan continuum of care, yang dimulai sejak masa pra hamil, hamil, bersalin dan nifas, bayi, balita, hingga remaja (pria dan wanita usia subur).

“Saya berharap pada pertemuan aksi ke dua ini, seluruh perencanaan dilakukan oleh semua OPD teknis yang harus bersinergi dan berkonvergensi dalam penanganan stunting di Kabupaten Bone Bolango, sehingga berdampak pada akselerasi penurunan stunting,”terang Ishak Ntoma.

Sekda menambahkan, pertemuan tersebut dapat menghasilkan perencanaan kegiatan yang matang, untuk dibawa dalam kegiatan pra rembuk dan rembuk stunting yang akan dilaksanakan dalam tahap selanjutnya atau aksi 3. (zul/adv/hg)


Komentar