Jumat, 1 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kaus Oblong

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Rabu, 18 Mei 2022 | 12:35 Tag: , , , , , , ,
  Bandingkan Luhut dengan Jokowi saat Temui Elon Musk di SpaceX, Roy Suryo Lontarkan Sindiran--Tangkapan layar/YouTube Sekretariat Presiden

Oleh: Dahlan Iskan

YANG ramai di medsos justru kaus oblong itu. Pun sebelum Presiden Jokowi tiba kembali di tanah air dua hari lalu. Salah satu komentar masuk ke HP saya. Sampai ada yang provokatif:

“Cilaka…Presiden dari 273 juta rakyat, diterima oleh Elon Musk (pemilik Tesla) yang hanya pake Kaos Oblonk yang sudah dipake tidur 5 hari 5 malam…_______. Hayooo bung, bangkit melawan penghinaan itu…!!!_________”, tulis salah satu reaksi itu.

Saya pun memberi komentar padanya: “Kekayaan Elon Musk itu lebih besar dari seluruh PDB Indonesia.” Dan lagi, dari mana tahu soal lima harmal itu.

Ia masih membalas. Dengan mengirim foto pembanding: ketika Elon Musk bertemu Presiden Turki Erdogan. Elon Musk pakai jas lengkap.

Tapi, rasanya, foto itu bukan ketika Erdogan berkunjung ke tempat Elon Musk. Itu seperti foto di suatu forum tertentu.

Beda. Ketika Elon Musk yang  menjadi tuan rumah, maka terserah tuan rumah. Tamu tidak bisa mengatur. Biar pun itu seorang presiden. Ini Amerika. Terserah tamunya. Mau atau tidak –diterima oleh tuan rumah yang hanya pakai kaus oblong.

Saya tidak melihat keanehan apa pun di peristiwa ini. Saya juga tidak melihat satu penghinaan. Kecuali, kalau biasanya Elon Musk selalu pakai jas lengkap. Hanya ketika menerima Presiden Jokowi saja pakai kaus oblong. Itu baru bisa dianalisis ada apa.

Tapi semua orang tahu: itulah Elon Musk. Lebih suka pakai kaus oblong. Pun di acara sepenting peresmian pabrik gigantiknya di Austin, Texas, bulan lalu.

Maka saya lihat tidak ada yang salah sama sekali. Apalagi Presiden Jokowi juga sudah ”menyesuaikan” diri: tidak pakai jas lengkap. Hanya pakai hem putih lengan panjang. Bagian bawahnya tidak dimasukkan ke celana. Tidak pakai dasi. Itu sudah lima tingkat di bawah formal.

Urutan keformalan tentu Ivan Gunawan yang lebih hafal. Saya coba saja urutannya begini: paling formal adalah black tie. Di bawah itu jas lengkap pakai sapu tangan di saku. Lalu jas lengkap warna ringan. Di bawahnya lagi, jas tanpa dasi. Lalu dasi tanpa jas.

Sedang yang dipakai Presiden Jokowi sudah lima derajat di bawah formal tertinggi. Cukup mengimbangi Elon Musk.

Lantas ada juga yang mempersoalkan “kok bagian protokol kepresidenan membiarkan kaus oblong itu terjadi”. Demikian juga “kok protokol kementerian luar negeri teledor”.

Rasanya tidak ada yang perlu disalahkan. Mungkin bagian protokol sudah menanyakan ke staf Elon Musk: “Beliau nanti sewaktu menerima presiden kami mengenakan pakaian apa”. Lalu dijawab: seperti biasa, kaus oblong.

Ya sudah. Informasi itu penting tapi hanya untuk disampaikan ke Presiden Jokowi. Agar presiden menyesuaikan diri. Bukan untuk mendikte tuan rumah.

Bahwa Presiden Jokowi mengenakan lima derajat di bawah formal-penuh rasanya itu sudah hasil penyesuaian itu.

Bagi saya yang terpenting adalah isi pertemuan itu. Bukan kaus oblongnya. Tentu banyak presiden yang minta bertemu Elon Musk. Dan tidak semua dikabulkan. Harus saya akui, bisa bertemu Elon Musk adalah prestasi.

Kita perlu Elon Musk. Syukur-syukur kalau Elon Musk juga perlu kita.

Elon Musk adalah emas. Yang diperebutkan dunia. Apalagi kalau pemilik Tesla itu benar-benar mau berinvestasi di Indonesia. Untuk membangun pabrik baterai mobil listrik di sini. Kan kita punya bahan bakunya. Lengkap: nikel. Juga aluminium. Pun mangaan. Termasuk karet.

Tentu harus diakui: Menko Luhut Pandjaitan-lah yang bekerja keras untuk pertemuan itu. Luhut sendiri sudah lebih dulu bertemu pemilik SpaceX itu. Sudah berhasil pula meyakinkan Elon Musk. Terbukti Tesla benar-benar mengirim tim ke Indonesia. Ke Morowali. Ke Soroako. Ke pusat tambang nikel kita.

Tim itu sudah pulang ke Amerika. Sudah melapor ke Elon Musk. Sangat terkesan dengan Indonesia. Maka ketika berbicara dengan Presiden Jokowi di SpaceX, Elon Musk bukan lagi meraba-raba.

Ia mengatakan, seperti dikutip Luhut, sangat tertarik dengan masa depan Indonesia. Indonesia terlihat sangat optimistis terhadap masa depan. Dan Indonesia memiliki energi positif.

“Saya rasa Indonesia memiliki potensi yang besar, dan saya rasa kita melalui Tesla dan SpaceX akan mencoba beberapa kerja sama dengan Indonesia,” ujar Elon.

Memang ada kalimat yang masih sedikit mengambang. “Kita akan melihat dari dekat bentuk kerja sama di banyak hal, karena Indonesia memiliki banyak potensi. Apalagi Indonesia memiliki jumlah populasi dan terus berkembang. Ini bagus karena kita membutuhkan banyak orang di masa depan,” kata Elon.

Kalau saya, jangankan ia pakai kaus oblong. Telanjang dada pun tidak masalah. Asal mau investasi besar di Indonesia.

Luhut juga bersikap begitu. “Saya yang bertemu awal dengan Elon. Dia itu humble person, genius, nyentrik, terkaya di dunia,” ujar Luhut kepada saya kemarin. Saya meneleponnya dari Kaltim. Ia masih di Amerika, kelihatannya.

“Berbagai kepala negara mau bertemu Elon, dia tidak  mau. Sampai mereka kirimkan utusan khusus. Juga tidak dijawab. Saya menemuinya 3 minggu lalu. Kami berbincang sangat akrab. Ia langsung setuju mengirimkan timnya ke Indonesia,” kata Luhut.

Menurut Luhut, malam sebelum berangkat mendampingi presiden ke Amerika, Rohan kepala bidang baterai mobil listrik, menemuinya. Luhut mengajaknya makan malam. Saat itulah Rohan menyampaikan ke Luhut. “Minister Luhut, your team is world class,” ujar Rohan seperti dikutip Luhut.

“Lalu saya bertanya apa iya begitu. Rohan beserta 5 timnya memberikan komentar yang sama,” ujar Luhut.

Mereka tinggal di Indonesia 6 hari. “Laporan itulah yang membuat Elon sendiri semangat untuk datang dan investasi di Indonesia,” ujar Luhut.

Luhut bercerita, sesaat sebelum Presiden Jokowi tiba di lokasi peninjauan ia sempat bincang-bincang dengan Elon. “Saya tanya apa komentarnya tentang laporan timnya yang sudah pulang dari Indonesia,” ujar Luhut. Elon, katanya, menyampaikan ”very impressive’‘.

Elon, kata Luhut, setuju datang ke Indonesia kalau Presiden Jokowi  mengundangnya. Bahkan Elon memastikan akan menyetujui apa pun yang disampaikan Presiden Jokowi.

Awalnya Elon menerima Presiden Jokowi di kantornya yang sangat sederhana. Setelah berbincang sekitar 4 menit pertama, Elon tampak tertawa gembira. “Jonatan, wakilnya, bilang ke saya: deal done,” ujar Luhut.

Luhut pun bertanya balik pada Jonatan. Maksud Jonatan apa dengan ”deal done’‘ itu. “Jonatan menyampaikan kalau Elon sedang suka ya seperti ini,” ujar Luhut.

Akhirnya Presiden Jokowi berbicara dengan Elon 15 menit  lebih. Kami menunggu di luar. Setelah itu Elon mengajak presiden tur ke SpaceX,” ujar Luhut.

Keterangan Luhut ini menarik. Presiden Jokowi bicara 15 menit lebih hanya berdua. Tanpa penerjemah.

Luhut pun mengatakan, sambil berjalan, Elon berbisik kepadanya. “Saya setuju pikiran Presiden Jokowi,” katanya.

Luhut pun ganti menyampaikan harapan Indonesia kepadanya. Agar Elon melakukan investasi end-to-end. Termasuk sampai pabrik ban mobil Tesla sekalian. “Ia menjawab segera kami finalkan,” ujar Luhut.

Bulan depan, ujar Luhut, mereka  akan kirim tim mobil, kemudian meninjau site peluncuran roket di Biak, Papua. Rupanya Presiden Jokowi juga merayu Elon untuk menjadikan Biak sebagai pusat peluncuran satelitnya.

Seorang ahli satelit pernah mengatakan kepada saya bahwa Biak adalah lokasi peluncuran satelit terbaik di dunia. Dari segi posisi Biak terhadap orbit. Lurus. Efisien.

Untuk semua itu Elon segera membuka kantor di Indonesia. Bahkan Elon, ibunya, dan adiknya akan datang ke Bali. Yakni bersamaan dengan G20 November depan. “Presiden instruksi ke saya untuk mengatur agar Elon juga bisa memberikan lecture ke semua  perwakilan mahasiswa universitas se-Indonesia di Bali. Untuk memberi inspirasi anak-anak  muda Indonesia,” ujar Luhut.

Bagaimana soal baju kaus oblong? “Kalau di SpaceX dia sampai pakai jas, justru kita yang pasti kepanasan,” ujar Luhut lantas tertawa. Soal itu, menurut Luhut, sudah ia laporkan sebelumnya ke presiden. Jawab Presiden Jokowi enteng saja. Yang Penting Indonesia dapat apa.

“Jujur, ini pendekatan yang sangat kompleks. Kami butuh waktu 1,6 tahun untuk bisa tiba pada posisi saat ini dengan Elon,” katanya. Saya ini, kata Luhut, melihat tujuan saja. “Di militer kami punya asas berpegang teguh pada tujuan. Saya sangat bangga presiden juga berpikir asas militer. Yaitu berpegang teguh pada tujuan,” katanya.

Masih banyak yang diceritakan Luhut. Tapi itu dulu yang bisa dipublikasikan. “Saya harus lapor dulu ke presiden. Jangan sampai presiden tahunya dari media,” katanya.

“Kita ini masih harus kerja keras untuk memastikan semua investasi ini segera terealisasi penuh. Tidak  perlu mencari salah. Bila ada yang  kurang saya yang paling bertanggung jawab,” ujarnya.

Saya setuju prinsip itu. Itulah dunia baru. Isi lebih penting dari bentuk. Isi bisa dimakan. Bentuk hanya bisa dilihat. (Dahlan Iskan)

(Visited 20 times, 1 visits today)

Komentar