Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Keindahan Persoalan

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Minggu, 23 Januari 2022 | 12:35 Tag: , , ,
  Keindahan Persoalan - DISWAY

Oleh : Dahlan Iskan

INFORMASI yang mengandung optimisme itu bisa mendorong gerak. Itu nyata. Setidaknya saya lakukan.

Semangat saya untuk ke Tambora lagi pekan lalu antara lain karena informasi baik ini: “Semua sungai yang dulu bapak seberangi itu sekarang sudah ada jembatannya. Bisa lebih cepat,” ujar teman saya di Bima.

Saya pun percaya. Sudah empat tahun saya tidak ke Tambora. Saya ingat kali pertama ke Tambora lebih berat lagi. Tapi yang pertama itu musim kemarau. Kalau toh harus menyeberangi sungai mudah saja: airnya sedikit sekali. Sesekali justru merasa seperti Indiana Jones.

Di lain waktu saya juga pernah ke Tambora pakai jalan pintas: speed boat. Dari kota Sumbawa Besar langsung motong Teluk Saleh. Melewati Pulau Moyo yang Anda sudah tahu itu: Lady Di pernah tinggal di situ seminggu. Rocker Mike Jagger juga. Beberapa bintang film Hong Kong ikutan.

Dua jam di speed boat sudah sampai Tambora.

Pernah juga ke Tambora dari Bima. Tujuh jam naik mobil. Zaman itu jalan lebih banyak lubangnya –lubang beneran– daripada ratanya. Juga lebih banyak sungainya daripada jembatannya.

Saya belum pernah ke Tambora dari Sumbawa Besar lewat Empang. Memutari Teluk Saleh itu.

Sekarang!

“Delapan jam lho pak,” ujar teman saya yang akan mengemudikan mobil.

“Kita bisa gantian. Saya sudah mulai terbiasa berkendara 8 jam. Surabaya-Jakarta,” jawab saya.

Dari UTS (Universitas Teknologi Sumbawa) kami langsung ke Tambora. Sepanjang jalan ada obrolan yang menarik: salah satunya tentang si Nurul Huda, mahasiswi Lebanon berpaspor Palestina yang lima ”I” itu. Saya lirik foto Nurul sampai dizoom berkali-kali. Terutama ingin lihat alis dan matanyi.

Saya ingat sajak berjudul ”Alis” karya Raani Rasyad yang saya baca di Bima:

Saking asyiknya perjalanan ini  sampai saya lupa: belum memilih komentar-pilihan untuk Disway edisi besok paginya.

Tentu ada keasyikan lain yang juga lima ”I”: alam Sumbawa di musim basah seperti ini. gunung dan lembahnya hijau semua. Seperti lukisan. Rasanya tidak kalah dengan pemandangan di Selandia Baru. Saya lebih senang melihat yang Sumbawa ini: hijaunya memberi harapan. Itulah hijau tanaman jagung. Di lembah, di lereng, di bukit semuanya jagung.

Sepanjang lima jam dengan mobil berkecepatan 90 km/jam hanya ada jagung. Jagung. Jagung. Jagung.

Bukan main semangat rakyat Sumbawa menanam jagung. Banyak juga silo penyimpan jagung yang sudah dikeringkan.

Melihat semua itu imajinasi saya ke Iowa, bagian tengah Amerika Serikat. Lima jam mengemudi mobil di sana hanya pemandangan serba jagung yang terlihat.

Sumbawa mengalahkan Iowa itu –indahnya. Di Iowa tanahnya datar. Everything flat. Sama sekali tidak punya bukit –berbukitannya di rumah masing-masing.

Saya langsung ingat seorang bupati yang dua periode memegang kekuasaan di Dompu: HBY –Haji Bambang Yasin. Entah di mana HBY sekarang. Bukan ia yang memulai, tapi HBY-lah yang mewabahkan jagung di sana. Ia mulai dari Dompu. Lalu menjalar ke seluruh Sumbawa.

Seorang bupati ternyata bisa meninggalkan sejarah yang hebat – -kalau mau.

Tak terasa hari sudah senja. Belum juga sempat membaca komentar mana yang akan terpilih. Juga belum menulis artikel untuk Disway.

Datang pula daya tarik lain Sumbawa yang ”mengganggu” pemilihan komentar: sapi.

Kian dekat Tambora alam Sumbawa berubah bentuk. Dari serba jagung ke padang rumput. Sepanjang jalan, hampir 1 jam perjalanan, saya hanya melihat sapi, sapi dan sapi. Di kanan dan di kiri. Terselip banyak kuda di tengah-tengah sapi itu.

Padang rumput, bukit, sapi, kuda dan pohon rindang di sana-sini.

“Ini mirip di Kentucky,” teriak saya di dalam hati. Saya jadi ingat perjalanan di sekitar Lexington. Hanya di sana hijaunya sepanjang masa. Di Sumbawa hanya kalau di musim basah seperti ini.

Hari pun mulai gelap. Tidak bisa lagi lihat kanan-kiri. Ini saatnya saya membaca komentar Disway.

Saya pun merogoh saku celana. Tidak ada HP. Merogoh saku jaket. Nihil. Saku tempat duduk. Suwung. Kotak di dashboardKadada.

Mobil berhenti.

Penggeledahan dilakukan.

Sami mawon.

“Berarti ketinggalan di Sumbawa Besar,” kata saya.

Mau balik sudah tujuh jam di belakang.

“Oh… Ketinggalan di apotek,” kata saya.

Memang, tadi mampir apotek. Cari obat. Tidak dapat. Obat saya ketinggalan di Lombok.

Di balik keindahan ternyata sering ada persoalan.

Untuk menulis naskah, sih, bisa pinjam HP teman. Kebetulan ada bahan tulisan yang sudah siap di kepala: Dian Ciputra itu.

Tapi untuk memilih komentar tidak ada waktu lagi. Memilih komentar lebih lama dari menulis naskah. Itu karena semua komentar harus saya baca.

Kadang, ketika baru membaca sepertiga, sudah mendapat banyak komentar pilihan. Tapi selalu muncul perasaan seperti ini: tidak adil kalau tidak dibaca semua, siapa tahu di bawah-bawah juga ada yang layak dipilih.

Supaya adil: tidak ada yang dipilih!

Kebetulan, kami sudah sampai di rumah kepala dusun. Sudah pukul 20.00. Hujan pula. Lelah. Ngantuk. Lapar. Jadi satu di puisi kehidupan.

Saya lihat putri kepala dusun bergegas masak: di dapur kayu itu. Tidak hanya api yang menyala dari dapur itu. Hope dari perut pun ikut menyala-nyala.

“Di mana ayahanda?” tanya saya.

“Di kebun. Jaga tanaman jagung,” jawabnyi.

“Ibu di mana?”

“Tengok cucu yang di Mataram”.

“Suami?”

“Juga di kebun. Kalau tidak dijaga takut diserbu babi hutan,” jawabnyi.

Saya lihat bayinyi tidur pulas di lantai. Juga kakak bayi itu.

Mertua-menantu itu di kebun jagung semalam suntuk. Tiap malam. Di lereng Tambora. Jaraknya: satu jam jalan kaki dari rumah ini.

“Kuah ayam ini sedap sekali. Kuahnya segar. Ayamnya gurih,” kata saya. Ngantuk pun hilang. “Ini diberi bumbu apa?” tanya saya.

“Sedikit kunyit, jahe, merica, bawang putih. Bawang putihnya agak banyak. Itu saja. Bumbu itu diuleg lembut. Lalu dimasukkan wajan –yang sedikit minyak gorengnya sudah panas. Tambahkan air. Setelah mendidih barulah ayamnya dimasukkan,” katanyi.

Pukul 04.00 saya sudah bangun. Saya lihat nenek bayi itu. Rupanya, tengah malam, ketika saya lelap, dia pulang.

Bukan baru kali ini saya tidur di rumah itu. Ada kamar kosong. Atau tidur di terasnya. Nyenyak sekali. Diiringi suara debur ombak dari kejauhan. Lenguh sapi. Ringik kuda. Dan kokok ayam di pagi hari. (Dahlan Iskan)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di tulisan Gus Karno

Juve Zhang

Yg hebat itu Rusia , Stalin itu ternyata bukan orang Rusia. Nama Stalin pun dibuat supaya mirip Rusia. Yg lebih “parah” pendahulunya Lenin yg ternyata ada darah Yahudi, sampai Stalin sebagai pembantu Lenin bilang Rahasiakan status Yahudi Lenin.dan yg juga gak kalah hebat Stalin ini sekolahnya Seminari untuk akhirnya menjadi Pastor. Walaupun tidak sampai lulus. Wkwkwk. Tiongkok Mao dari Hunan, Dengan XP dari Sechuan . Xi JP dari Shanxi, sepertinya kucing hitam atau putih yg penting bisa nangkap tikus, asal usul gak ngaruh di Tiongkok sana. Itu yg membuat Tiongkok maju pesat. disini “Tikus”nya warna warni,merah,hijau, kuning,putih,biru, sampai Kucingnya yg pusing terlalu banyak Koruptor nya.

DjokoLodang

Sejak 1945 sampai sekarang, yang menjabat Presiden RI bergantian,  Jawa Timur dan Jawa Tengah, diselingi Habibi Bung Karno – Jawa Timur Suharto – Jawa Tengah Gus Dur Megawati SBY Jokowi

Alex

Selain Airlangga.Di Bali dulu ada satu orang hebat.Namanya Kebo Iwa.Maha Patih kerajaan Bali.Orang ini sangat ditakuti Gajah Mada. Jika duel satu lawan satu Gajah Mada tak berani.Gajah Mada tahu Kebo Iwa ilmunya setingkat di atasnya.Kebo Iwa inilah batu penghalang terbesar Gajah Mada dalam menaklukan Bali. Di naskah Pararaton di ceritakan bagaimana liciknya si Gajah Mada ini membunuh Kebo Iwa. Tentang Bung Karno. Sayang sekali disway lahir pas tidak di jaman beliau.Andaikan beliau baca disway.Pasti kalimat si Bung yang ikonik itu beliau revisi.”Berikan aku 10 Aryo Mbediun” Wkwkkwk……

Mbah Mars

Aneh. Orang Bali kok namanya Gus Marhaen. Gus kan nama panggilan putra kyai pesantren ? Dan ternyata setelah Dewa Made Cakrabuana komen di bawah dugaan saya benar. Bahwa Gus Marhaen adalah bukan nama sesungguhnya. Gus Marhaen adalah Arya Wedakarna. Hanya karena sangat ngefansnya kepada BK dia dipanggil Gus Marhaen. Membangun musium untuk idolanya merupakan indikator super fanatiknya. Saya menduga dalam musiumnya akan diterapkan falsafah “Mikul dhuwur mendhem jero”. Akan dipamerkan hal-hal positif BK dan akan dikubur dalam-dalam sisi-sisi negatifnya. Jika itu yang dilakukan -sekali lagi jika lho ya- maka jangan harap pengunjung bisa menikmati lukisan Sang Mandor Romusha.

Amat

“Berikan aku satu Aryo Mbediun niscaya akan kupantunkan Disway. Beri aku sepuluh Aryo Mbediun niscaya akan kupantunkan Indonesia.” -Mbah Kirno-

Aryo Mbediun

Bawal, tuna dan hiu hanyalah ikan Kalo dimasak koki cerdik pasti khan melezatkan Sukarno, Sukirno dan Sukarni itu hanyalah peran Yg baik diambil dan teladan buruk ditinggalkan

Bersepedah di jalan menur Lewat pasar wage beli janur Jodoh itu sudah ada yg ngatur Kalo blm punya mungkin situ susah diatur

Fadil Wira Dwi B.

Bung Karno punya kelebihan tp jg punya kekurangan. Demikian jg Pak Harto. Dari pada saling balas dendam, mending ambil positifnya, buang jeleknya. Disitu anak bangsa bisa belajar..

Leong Putu

Baiklah… Sungguh saya malu, orang Bali kok gak tau kalau ada musium Bung Karno. Yang saya tau daerah sana itu cuma lapangan puputan Renon yang gelap dan daerah dekat² situ. Sebuah danau yang tidak ada airnya, tapi bidadarinya banyak. Danau tempe .

Jangan dulu ke Bali. “Karena belum mendukung wisata halal ” kata orang orang. Belum menyediakan makanan halal, belum menyediakan Mushola. Memang betul begitu. Dulu. Dulu sekali. Tahun 80an sampai 2000 akhir, sebelum tragedi bom Bali. Saat wisatawan asing masih melimpah, Wisatawan Jepang, Jerman, Australia dll. Saat cari uang begitu gampangnya. Cukup bantu wisatawan angkat koper 10 meter saja. Uang Dua puluh ribu sudah di tangan. Iku jaman kae, uang 20.000 tahun 90an. jaman sak mono…. Tapi sekarang saya rasa sudah tidak begitu. Warung Muslim buanyak, KFC, MC D, PHD banyak. Yang jualan makanan di Bali itu rata2 Orang Jawa, biasanya dari Banyuwangi , Bondowoso, Jember dan Lamongan. Masakan Padang juga menjamur. Kalau Mushola ? Cobalah ke Bali sekarang. Jangan yang Dulu itu yang di ingat ingat. Apalagi hanya kata orang.

(Visited 48 times, 1 visits today)

Komentar