Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Keluarga Terdakwa Ngamuk di PN Gorontalo, Tuding Hakim Terima Suap

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 20 Januari 2017 | 10:47 Tag: , ,
  

GORONTALO, hargo.co.id – Keluarga terdakwa kasus narkoba yang merupakan oknum anggota Polri Aiptu PM alias Yudi, mengamuk di Pengadilan Negeri (PN) Gorontalo, usai mengetahui vonis terhadap terdakwa, Kamis (19/1).

Hal ini dipicu karena putusan hakim yang memvonis bekas penyidik BNNP Gorontalo itu dengan putusan 9 tahun subsider 1 tahun penjara.

Pihak keluarga merasa keberatan dengan vonis tersebut, sebab mengklaim salah satu hakim yang mengadili kasus ini telah menjanjikan akan memberikan vonis ringan terhadap terdakwa, dengan konsekwensi menyerahkan duit Rp 30 juta.

Pantauan Gorontalo Post, keluarga Aiptu Yudi langsung mengamuk usai Hakim Ketua Fachu Rochman mengetuk palu sidang dan memutus terdakwa Aiptu PM dengan hukuman penjara 9 tahun subsider 1 tahun karena terbukti mengedarkan narkoba yang diungkap oleh BNNP Gorontalo, akhir Juni 2016 silam.

Usai vonis, keluarga terdakwa Aiptu PM langsung memburu ketiga hakim yang saat itu langsung mengamankan diri usai membacakan putusan.

Tidak berhasil menemui ketiga hakim, pihak keluarga terdakwa melampiaskan kemarahannya dengan merusak sejumlah fasillitas milik Pengadilan Negeri Gorontalo.

Sebuah pintu kaca pada ruangan umum dan keuangan PN Gorontalo hancur berantakan. Tak hanya merusak, sejumlah keluarga terdakwa juga nampak histeris dan berulang kali melontarkan makian. Nama salah satu hakim inisial F, yang menangani perkara Aiptu PM, juga kerap disebut.

Arsil Pola dari pihak keluarga mengaku, beberapa waktu lalu sebelum sidang vonis digelar, ada oknum hakim yang meminta sejumlah uang kepada keluarga dan berjanji akan meringankan vonis Aiptu PM.

“Dia (oknum Hakim ,red) minta uang kepada kami sebanyak Rp 50 juta dengan garansi untuk meringankan vonis, namun saat itu setelah saling tawar akhirnya hanya Rp 30 juta, dan sudah diserahkan oleh istri terdakwa beberapa waktu lalu di lantai dua PN Gorontalo,”ujar Arsil Pola.

Merasa vonis tidak sesuai dengan pembicaraan awal, emosi keluarga terdakwa pun memuncak.

“Padahal dalam kasus ini ada dua terdakwa, yang satunya hanya divonis delapan tahun, sedangkan keluarga kami (Aiptu Prayudi,red) divonis sembilan tahun, jadi kami rasa ini tidak adil,”tambahnya. Asril menyampaikan, terkait hal ini, pihaknya akan menempuh jalur hukum. (tr-45/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar