Kemarau Panjang, 319 Ribu Jiwa Krisis Air Bersih

BPBD Bone Bolango saat menyuplai air bersih kepada penduduk yang alami krisis sepanjang kemarau berlangsung. (Foto Natha/untuk Hargo.co.id)

Hargo.co.id, GORONTALO – Ini mungkin mungkin masih debatable. Apakah Gorontalo sudah berada dalam situasi darurat kekeringan, ataukah baru menuju ke arah itu. Tapi fakta di lapangan menunjukkan musim kemarau yang telah dirasakan masyarakat dalam 6 bulan terakhir, benar-benar sudah sangat ‘menyiksa’.  Masyarakat di sejumlah daerah bahkan sudah merasakan situasi yang darurat itu.

Begitu menyiksanya kekeringan yang terjadi saat ini, sampai-sampai masyarakat yang ada di Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat, sampai melaksanakan salat istiqsa, akhir pekan lalu (31/08/2019). Ini adalah salat yang dijalankan untuk meminta hujan dari Allah SWT.

Data yang dihimpun media ini, pada seluruh daerah, kekeringan ini telah menimbulkan dampak luas bagi masyarakat. Warga di Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo serta Kabupaten Gorontalo kini mengalami krisis air bersih. Ada sekitar 319.074 jiwa yang kini mengalami krisis air bersih.

Salah satu wilayah di Gorontalo yang mengalami krisis air adalah Bone Bolango. Sebanyak 1.418 kepala keluarga (KK) atau 4.074 jiwa mengalami krisis air bersih. Mereka tersebar di 10 desa di empat kecamatan. Untungnya pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setiap hari suplai air sekitar 10 ribu hingga 15 ribu liter perhari.

“Setiap hari armada BPBD yang dipinjam dari BPBD Provinsi Gorontalo, dibantu armada PMI Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, PDAM, dan Damkar, serta dibantu Tagana Bone Bolango menyuplai air bersih ke masing-masing desa yang terdampak kekeringan,”kata Gagarin Hunawa.

Gagarin menambahkan, BPBD akan menyuplai air bila ada laporan tertulis dari desa dengan mencantumkan jumlah KK dan jumlah jiwa.

Sementara di Kota Gorontalo, tercatat baru satu kelurahan yang mengalami krisis air. Yaitu di kelurahan Tenilo. Tepatnya di Lingkungan III. Sejak sebulan terakhir pasokan air bersih dari mata air pegunungan sudah tak mengalir sebagaimana biasanya.

“Kalau pun ada airnya tinggal menetes satu satu, itu pun harus atrian,”ungkap salah seorang warga Lingkungan III, Rio Tantu.

Warga yang mendiami lingkungan III ada sekitar 40 KK mereka harus bergiliran untuk mendapatkan air guna memenuhi keperluan rumah tangga.

Sekretaris BPBD Kota Gorontalo Hendry Ticoalu mengatakan, sampai sejauh ini belum ada wilayah di Kota Gorontalo yang dilanda krisis air bersih akibat kemarau panjang. Sekalipun demikian, pihaknya tetap siaga dan selalu berkoordinasi dengan pihak PDAM agar bisa cepat mendistribusikan air bersih ketika ada laporan permintaan dari masyarakat.

“Biasanya yang sering dilanda krisis air bersih itu, Tanjung Keramat. Tapi kali ini belum ada laporan. Memang sempat ada di Leato Selatan. Tapi itu pekan kemarin dan setelah di cek, persoalannya sudah selesai,” ujar Hendry.

Di Kabupaten Gorontalo, warga yang terdampak kekeringan cukup besar mencapai 315.000 warga yang tersebar di 9 kecamatan.

Di Kabupaten Gorontalo Utara belum ada laporan soal krisis air. Begitupun di Boalemo. Meski begitu, pemda setempat melalui BPBD dan PDAM telah melakukan langkah antisipasi utamanya di wilayah rawan seperti Kecamatan Paguyaman Pantai dan sebagian di wilayah Kecamatan Dulupi.

“Memang saat ini tidak ada alokasi disediakan untuk menangani dampak kemarau. Belum ada juga keluhan soal dampak kekurangan air bersih. Namun, kami tetap berupaya mewaspadai dengan berkoordinasi pihak PDAM, pemerintah desa dan kecamatan. Kami pun menyiapkan satu armada berupa mobil water suplay untuk menyuplai pasokan air bersih bagi masyarakat yang mulai kesulitan pasokan air bersih,” kata Kepala BPBD Boalemo, Fatlina Podungge.

Di Kabupaten Pohuwato juga belum ada laporan masyarakat yang mengalami krisis air. Walau demikian, pemerintah daerah tetap mengambil langkah antisipasi untuk penanganan di wilayah yang rawan krisis. Dari pemetaan yang dilakukan, wilayah di Pohuwato yang rentan mengalami krisis air mencakup Wanggarasi, Lemito, Popayato Timur, Popayato, Popayato Barat, Patilanggio.

“Sampai saat ini belum ada laporan masyarakat yang mengeluhkan ketersediaan air bersih. Kalau yang punya potensi itu (krisis air, red) yakni wilayah Kecamatan Wanggarasi, wilayah Lemito sampai Popayato, dan juga wilayah Kecamatan Patilanggio,” ujar Wakil Bupati Pohuwato, Amin Haras saat dikonfirmasi. (gp/hg)

-